INFO PAPUA
Home » Blog » “Pesta Adat, Pesta Kebesaran Tungku Api”

“Pesta Adat, Pesta Kebesaran Tungku Api”

(Pesta Adat, Pesta Kebesaran Tungku Api)

Jayapura – Gaidai Wainai adalah menari. Dalam kehidupan suku Mee, tari-tarian sangat identik sejak moyang dahulu hingga kini.

Tarian suku Mee yang masih hidup dan ditradisikan hingga kini dalam berbagai kegiatan misalnya Nari Ama Wainai atau disebut tari susu, Ida Gaidai disebut menari anak panah, Tune Wainai disebut menari bulu cenderawasih, Kidu Wainai disebut menari baling-baling, Moge Wainai disebut nari jawat, Gapa Muto Wainai disebut menari telingga dan Tapaga Wainai disebut menari buluh kasuari.

Kesemuanya itu adalah suatu tradisi historis suku pegunungan tengah umumnya dan lebih khusunya orang Mee. Menari dan menggerakan tubuh dengan mengunakan benda-benda tersebut merupakan satu ungkapan kegembiraan dengan maksud membangkitkan sprit tertentu yang ingin dicapai.

Tarian adat ini selalu saja digunakan di dalam banyak bentuk kegiatan. Entah itu kegiatan secara kekeluargaan maupun kegiatan bersama misalnya pada saat Yuwo Nai.



Kedua kegiatan ini entah kegiatan adat secara kekeluargaan maupun kegiatan adat secara umum, selalu dihiasi dan diwarnai dengan kegitan menari sesuai dengan tari apa yang cocok didalamnya.

Manfaat dari gaida atau wainai tune moge  pada dasarnya betujuan baik, sehingga kegiatan apa saja bisa dilakukan dengan tarian adat tersebu.

Yuwo Nai adalah pesta adat secara umum. Pesta itu juga merupakan pesta syukuran atas hasil panen atau pesta hasil panen Tungku Api seperti piyaraan Babi, petatas, sayur, keladi, tembakau yang pada dasarnya mengunkapkan berupa permohonan kepada Sang Pencipta untuk menghidupkan kembali dikemudian hari yang lebih baik.

Pada puncak kegiatannya. Hubungan kekerabatan dari tempat jauh juga datang ikut memeriahkan pesta dengan menyumbangkan berupa hasil tanaman dan piaraan. Saat itu juga, Setiap keluarga dekat yang membuat pesta selalu siap menjemput dengan tarian yang dimaksud tersebut.

Maka itu Yuwo Nai juga merupakan menghidupkan kembali tali persaudarahan yang sudah lupa misalnya karena jarak kampung yang tidak bisa dijangkau dan lainya. Saat itulah mereka bertemu dan memeriahkan pesta sambil memohon berkat panen atas usaha mereka.

Selamat berpesta YUWO di Timida-Paniai pada hari ini 4 september 2020 dan Selamat ber-gaidai  wainai serta selamat berkekrabatan.

Penulis, Yoseph Bunai, Mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura-Papua

[Nabire.Net]

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.