INFO PAPUA
Home » Blog » Peringatan Waisak 2558 BE Tahun 2014 Di Mimika Papua

Peringatan Waisak 2558 BE Tahun 2014 Di Mimika Papua

images

Kesadaran dijadikan pesan utama Peringatan Waisak 2558 bagi umat Budha di Papua, Kamis (15/5).  Kesadaran yang menjadi tema sentral peringatan dan perayaan Waisak 2558 tersebut diangkat dari Sangha Agung Indonesia, yakni “Buddha Memimpin Kita Hidup Berkesedaran”.

Dengan pilihan tema itu diharapkan segenap umat Buddha diajak untuk mengingat dan merenungkan kembali makna spiritual dan semangat yang terkandung dalam tiga peristiwa besarnya.

“Hari Raya Tri Suci Waisak merupakan hari raya terbesar Agama Buddha, yang mengajak Umat Budha memperingati tiga peristiwa penting. Pertama, Pangeran Siddharta Gotama di Lumbini, di taman yang indah. Beliau adalah Bodhisattva yang turun ke bumi dari Surga Tusita untuk menjadi Buddha. Kedua, Dari pencapaian pencerahan Petapa Siddharta Gotama berhasil mewujudkan Nibbana dan menjadi Samyaksambuddha di Bodhgaya, di pohon Bodhi. Ketiga, Parinibbana Buddha Gotama di Kusinara di antara dua pohon Sala kembar. Semuanya itu terjadi di bulan Waisak, yang merupakan totalitas kehidupan yang penuh dengan dedikasi dan karya besar bagi kemanusiaan, peradaban, dan alam semesta,” jelas Ketua Majelis Budhayana Indonesia (MBI) Kabupaten Mimika, Steven Tan melalui Perwakilan Umat Budha Mimika, Sutanto, di kediamannya, Jalan Baru C Heatubun, Rabu (14/5).

Sedikitnya akan ada 200-an umat Budha yang akan menggelar Puja Bakti (Ibadah-red) bersama di Cetiya SP6 Kampung Naina Muktipura, Distrik Kuala Kencana

“Tahun ini, kita (seluruh Umat Budha di Indonesia-red) diminta untuk memaknai perayaan Waisak dengan menjadikan Sang Budha sebagai pemimpin kita untuk hidup berkesedaran di dalam masyarakat,” kata  Sutanto.

Dikatakannya, tema itu menceritakan setiap peristiwa dalam kehidupan Budha yang memberikan pelajaran komprehensip tentang kesadaran terhadap realitas-realitas kehidupan manusia. Soal keterikatan pada usia tua, kesakitan dan kematian serta ketidaksadaran terhadap kehidupan yang tenggelam dalam aneka kesenangan, dalam masalah-masalah yang rendah dan terlena pada keasikan besar yang menggoda setiap saat.
Sutanto menambahkan, Umat Buddha sering menyebut Hari Raya Waisak dengan hari raya Trisuci Waisak. Karena Waisak memperingati tiga peristiwa penting yang semuanya terjadi di bulan Vesakha dalam waktu yang sama yaitu tepat disaat bulan purnama.

Sejak saat itu pula, Umat Budha kembali diingatkan pada semangat yang terkandung dalam tiga peristiwa Suci Waisak. Seperti semangat akan kehadiran nilai-nilai kemanusiaan yang universal sebagai jati diri setiap manusia, guna membantu meringankan penderitaan dan memberikan kebahagiaan pada sesama makhluk hidup (maitri karuna) dan selalu mewujudkan kesadaran melalui usaha penyelamatan umat manusia.

Tema Hari Raya Waisak 2558 tahun 2014 ini, lanjut Sutanto, memiliki makna Hidup berkesadaran sebagai jalan langsung yang dijelaskan dalam bagian pertama Satipathana Sutta (M.I.56) untuk memperoleh realisasi dalam rangka mempurifikasikan para makhluk, mengatasi penderitaan dan ratapan, menghilangkan penderitaan (dukkha) dan penolakan, memperoleh cara sesungguhnya, merealisasi (nibbana) yang terdiri dari empat satipatthana. Pertama, merenungkan tubuh (kaya). Kedua, merenungkan perasaan (vedana). Ketiga, merenungkan pikiran (citta). Keempat, merenungkan fenomena-fenomena (dhamma).

Sampai sejauh ini, peringatan dan perayaan Hari Raya Waisak bagi Umat Budha di Mimika, rencananya akan dilakukan dengan sederhana. Pasalnya, karena pihaknya sejauh ini memang belum memiliki tempat ibadah (Wihara) yang memadai dan layak untuk digunakan.

Namun, pada peringatan dan perayaan Waisak 2558 di tahun ini, pada besok Kamis (15 Mei 2014) semua umat Buddha akan merayakannya dengan cara melakukan meditasi terlebih dahulu, pada pukul 04.15:37 WIT dini hari. Hal itu sudah wajib dilakukan bagi para penganut Agama Buddha, karena itu juga sudah disesuaikan oleh konferensi para Bikshu dari Sangha Agung Indonesia (SAI), di Jakarta. Selanjutnya, untuk melaksanakan Puja Bakti bersama dilakukan di Cetya, di SP. 6 dimulai sekitar pukul. 14.00 WIT.

“Tahun ini, kami akan rayakan dengan sederhana. Rencananya pada Hari Kamis (besok), seluruh umat Budha akan berkumpul di Cetiya (nama tempat ibadah Umat Budha -red) masing-masing. Diantaranya di SP6 bagi umat di sekitar SP (Sektor Pemukiman -red). Toko Cahaya Timika, di Jalan Yos Sudarso lantai dua untuk umat di sekitar Kota Timika. Pada saat itu, seluruh umat akan meditasi sambil menunggu detik-detik Waisak, pada pukul 04:15:37 Wit dini hari,” kata  Sutanto.

Waktu pelaksanaan detik-detik Waisak itu, seperti setiap tahunnya mengalami perubahan dan ditentukan dari Sangha Agung Indonesia. Bahkan, direncanakan pada siang hari, pukul 14.00 Wit seluruh Umat Budha yang ada di Mimika akan berkumpul dan melaksanaan Puja Bakti Bersama yang dipusatkan di Cetiya SP6.

Atas nama seluruh Umat Budha yang ada di Mimika, Sutanto mengharapkan agar dari semua pihak dapat bekerjasama untuk menjaga keamanan selama perayaan Waisak, baik dari pihak keamanan, tokoh agama, serta tokoh masyarakat dapat berpartisipasi.

Sementara itu, seorang penganut Agama Budha di Timika, Irmasari Wahyuni, berharap agar selama berlangsungnya perayaan Waisak, semua pihak di Kabupaten Mimika dapat sama-sama menjaga keamanan. “Kita tahu sendiri bahwa kondisi di Timika untuk saat ini masih banyak pertikaian dan konflik. Apalagi tempat perayaan Waisak akan dipusatkan di SP6 dan tempat itu cukup jauh dari pusat Kota Timika. Jadi kami berharap dari pihak keamanan juga turut memberikan kontribusi keamanan,” harapnya.

(Tabloidjubi)

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.