Ibadah Minggu Pagi, 10 Juli 2016, Di Jemaat GKI Silo Kalibobo Nabire
(Dokpri.Ottow.Yoteni)
Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi, di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.
Demikian kutipan bacaan Firman Tuhan pada Ibadah Minggu Pagi, 10 Juli 2016, di Jemaat GKI Silo Kalibobo Nabire. Ibadah tersebut dipimpin oleh Pelayan Firman Pdt. Y. Inauri S.Th, dengan mengambil bacaan dari Injil Matius 6:19-24 dengan perikop “Hal mengumpulkan harta.”
Dalam khotbahnya, Pdt. Y. Inauri S.Th mengatakan, Tuhan Yesus mengajarkan tentang hal mengumpulkan harta yaitu: jangan kita mengumpulkan harta di bumi, melainkan kumpulkanlah harta di sorga. Di perikop tersebut juga dijelaskan bahwa mata kita (cara kita melihat sesuatu) berpengaruh. Jika kita melihat suatu hal dengan cara yang benar, maka teranglah segala sesuatunya. Jika kita salah melihat suatu hal, termasuk hal harta, maka bisa gelap atau salah pengertian.

Dunia ini menawarkan godaan yang sulit dihindari, yaitu hidup menurut ukuran dunia. Kekayaan menjadi tolok ukur kesuksesan. Kita mudah sekali terjerumus dalam mengumpulkan harta di dunia, dan melupakan panggilan surgawi, yaitu menabung harta rohani di surga.
Tuhan mengajarkan beberapa hal, pertama, harta di dunia ini bersifat sementara. Bukan tidak boleh mencari harta karena kita memang butuh harta untuk hidup di dunia ini, tetapi jangan jadikan harta segala-galanya. Jangan sampai kita tidak punya waktu untuk Tuhan, untuk mengumpulkan harta surgawi.
Kedua, Yesus mengingatkan bahwa tawaran dunia untuk memprioritaskan pencarian harta bisa membutakan mata rohani kita dari melihat kebutuhan utama. Segala-galanya diukur dari harta. Waktu untuk keluarga digantikan dengan kemewahan. Waktu untuk anak dengan memanjakannya berlebihan. Bahkan waktu untuk Tuhan digantikan dengan memberi persembahan. Harta menjadi segala-galanya untuk menggantikan tanggung jawab yang utama. Celakanya lagi, mata hati tambah buta sehingga menghalalkan cara demi mendapatkan harta.
Ketiga, Yesus mengingatkan kita, kalau harta sudah menjadi tuan yang memperbudak kita, yang menyingkirkan Tuhan dari takhta hati kita maka kita harus membuat pilihan: kembali setia menyembah Allah atau tetap terjebak menuruti mamon.

(Dokpri.Andi.Raman)
Di akhir khotbanya, Pdt. Y. Inauri mengingatkan jemaat bahwa kita perlu mengevaluasi ulang hidup kita dan pandangan kita terhadap harta. Jangan sampai kita mengisi hidup ini dengan hal yang sia-sia, sehingga kehilangan damai, relasi yang baik, dan akhirnya menyesal berkepanjangan.
Lewat perikop ini kita belajar untuk memeriksa hati kita. Apakah yg menjadi harta yg paling berharga dalam hidup kita? Apakah iman kita hari ini telah bergeser dari Allah kepada dunia? Allah dengan tegas mengatakan hendaklah kita pilih; siapakah yg menjadi Allah kita pada hari ini!






Tinggalkan Komentar