Momentum Hari Anak Nasional, Pemkab Nabire Salurkan Satu Ton Beras untuk Yayasan Difabel
Nabire, Momentum Hari Anak Nasional (HAN) 2026 menjadi pengingat bahwa setiap anak Indonesia berhak memperoleh perlindungan, pendidikan, dan pemenuhan gizi yang layak. Semangat itu tercermin melalui langkah Pemerintah Kabupaten Nabire yang menyalurkan bantuan 1 ton beras kepada Yayasan Difabel Anak Yatim Piatu dan Anak Putus Sekolah Nabire, pengelola Panti Difabel dan Asrama Inklusi Matahari.
Bantuan tersebut menjadi bagian dari program Kegiatan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan untuk Peningkatan Ketahanan Pangan Keluarga yang dijalankan melalui Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Nabire. Selain membantu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, program ini juga memperkuat upaya pemerintah dalam memastikan anak-anak yang berada dalam kelompok rentan tetap memperoleh hak dasar mereka, terutama di tengah tantangan ekonomi dan fluktuasi harga bahan pokok.
Pemerintah Salurkan Bantuan Pangan untuk Anak-Anak Rentan
Pemerintah Kabupaten Nabire bersama Dinas Ketahanan Pangan menyalurkan bantuan secara langsung ke Panti Difabel dan Asrama Inklusi Matahari. Bantuan berupa satu ton beras itu akan memenuhi kebutuhan dapur umum yayasan selama beberapa waktu ke depan.

Program tersebut tidak hanya berorientasi pada stabilisasi harga pangan, tetapi juga mendukung keberlangsungan pelayanan sosial bagi anak-anak difabel, yatim piatu, serta anak putus sekolah yang berada dalam pengasuhan yayasan.
Di tengah peringatan Hari Anak Nasional, langkah tersebut menunjukkan bahwa perlindungan anak tidak cukup diwujudkan melalui slogan. Pemerintah juga perlu memastikan anak-anak memperoleh makanan bergizi agar mereka dapat tumbuh, belajar, dan berkembang secara optimal.
Ketua Yayasan: Bantuan Ini Lebih dari Sekadar Beras
Ketua Yayasan Difabel Anak Yatim Piatu dan Anak Putus Sekolah Nabire, Maria Yetiasaputri Kapitarauw, S.Sos., M.M., AWP., H.Tc., menyampaikan apresiasi kepada Bupati Nabire bersama Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan seluruh jajaran yang telah memberikan perhatian kepada anak-anak di panti.
Menurutnya, bantuan tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar dibandingkan nilai materialnya.

“Kami mewakili seluruh pengurus, terapis, dan anak-anak Panti Difabel serta Asrama Inklusi Matahari mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bupati Nabire melalui Dinas Ketahanan Pangan. Bantuan 1 ton beras ini bukan sekadar pemenuhan logistik, tetapi bukti nyata bahwa pemerintah hadir untuk memastikan anak-anak difabel, yatim piatu, dan putus sekolah tetap memperoleh kebutuhan pangan di tengah fluktuasi harga,” ujar Maria.
Ia menilai perhatian pemerintah memberikan rasa aman bagi pengurus yayasan dalam menjalankan pelayanan kepada anak-anak yang membutuhkan pendampingan secara berkelanjutan.
Gizi Menjadi Fondasi Terapi dan Pendidikan Inklusi
Maria yang juga berprofesi sebagai praktisi manajemen serta hipnoterapis klinis menjelaskan bahwa kecukupan gizi memiliki hubungan erat dengan keberhasilan terapi maupun pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
Menurutnya, anak-anak tidak dapat mengikuti proses terapi secara maksimal apabila mereka berada dalam kondisi lapar atau mengalami kekurangan nutrisi.
“Perut yang kenyang dan gizi yang terjamin merupakan syarat utama bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk mengelola emosinya. Anak dengan autisme ataupun trauma tidak akan mampu mengikuti terapi wicara maupun terapi perilaku secara optimal ketika mereka masih merasa lapar atau gelisah. Karena itu, kebijakan Bupati Nabire bersama langkah Dinas Ketahanan Pangan memberikan dampak langsung terhadap keberhasilan terapi dan pendidikan di asrama kami,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa ketahanan pangan bukan hanya berbicara mengenai ketersediaan makanan, tetapi juga menentukan kualitas layanan pendidikan inklusif dan rehabilitasi bagi anak-anak.
Membuka Ruang untuk Peningkatan Layanan
Dengan terpenuhinya kebutuhan pangan melalui bantuan satu ton beras, yayasan memiliki kesempatan untuk mengalihkan sebagian anggaran operasional ke sektor lain yang tidak kalah penting.
Pengurus dapat meningkatkan fasilitas terapi, memperbaiki sarana pendidikan, menyediakan alat pembelajaran, hingga memperluas program pemberdayaan bagi anak-anak asuh.

Selain itu, para guru, pengasuh, dan terapis dapat lebih fokus menjalankan program pemulihan trauma, terapi perilaku, terapi wicara, serta pendidikan keterampilan tanpa harus menghadapi tekanan besar terkait kebutuhan dapur umum setiap hari.
Hari Anak Nasional Mengingatkan Pentingnya Kolaborasi
Peringatan Hari Anak Nasional setiap tahun mengajak seluruh elemen bangsa untuk memastikan hak anak terpenuhi secara menyeluruh. Hak tersebut meliputi akses terhadap pangan bergizi, layanan kesehatan, pendidikan yang setara, hingga lingkungan yang aman dan inklusif.
Di Papua Tengah, tantangan tersebut masih memerlukan dukungan bersama. Anak-anak difabel, yatim piatu, maupun mereka yang putus sekolah membutuhkan perhatian berkelanjutan agar memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga sosial, dunia usaha, organisasi masyarakat, serta individu menjadi kunci dalam menciptakan sistem perlindungan anak yang kuat.
Bantuan pangan seperti yang diterima Yayasan Difabel Anak Yatim Piatu dan Anak Putus Sekolah Nabire menjadi contoh bahwa sinergi antarlembaga mampu menghadirkan dampak nyata bagi kehidupan anak-anak.
Yayasan Ajak Masyarakat Ikut Bergotong Royong
Yayasan berharap kerja sama yang telah terbangun bersama Pemerintah Kabupaten Nabire dapat terus berlanjut pada masa mendatang.
Selain itu, yayasan juga membuka kesempatan bagi berbagai pihak, baik instansi pemerintah, perusahaan swasta, organisasi sosial, komunitas, maupun masyarakat umum, untuk ikut mendukung pendidikan, terapi, serta kesejahteraan anak-anak difabel di Papua Tengah.
Melalui dukungan yang berkesinambungan, anak-anak berkebutuhan khusus, yatim piatu, dan anak putus sekolah akan memperoleh kesempatan lebih besar untuk tumbuh menjadi generasi yang sehat, mandiri, serta memiliki masa depan yang lebih baik.
Momentum Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa investasi terbaik bagi bangsa bukan hanya membangun infrastruktur, melainkan juga memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan hak atas pangan, pendidikan, kasih sayang, dan kesempatan yang setara.
[Nabire.Net]





Tinggalkan Komentar