INFO PAPUA
Home » Blog » Cerita Sang Adik, Yosef Yembise, Tentang Kakaknya Yang Jadi Menteri Pemberdayaan Perempuan

Cerita Sang Adik, Yosef Yembise, Tentang Kakaknya Yang Jadi Menteri Pemberdayaan Perempuan

223046_197294463646057_6434321_n

Universitas Cenderawasih kembali menelorkan sosok penting bagi bangsa ini. Jika sebelumnya pada Kabinet Indonesia Bersatu II terdapat nama mantan Rektor Uncen, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, M.B.A, kini salah satu dosen Uncen, Yohana Yembise masuk dalam Kabinet Kerja Jokowi-JK.

Sedikit sulit untuk menemukan kediaman Yohana Yembise yang Minggu (26/10) terpilih menjadi Menteri Perempuan dan Perlindungan Anak pada Kabinet Kerja Presiden Jokowi dan Jusuf Kalla. Namun karena terletak di lokasi  Perumahan Dosen Uncen di daerah Bumi Perkemahan, Waena, Cenderawasih Pos cukup melayangkan pertanyaan lokasi rumah ke beberapa warga dan akhirnya berhasil menemui rumah ibu menteri itu. Di rumah berukuran 10 x 12 berwarna merah muda pucat inilah  Prof. DR. Yohana Susana Yembise, Dip.Apling, MA tinggal. Diapit beberapa rumah dosen lainnya, kediaman Yohana Yembise terlihat sangat sederhana untuk seorang bergelar professor.

Di teras rumah berkeramik biru laut ini juga hanya ada enam kursi rotan plus mejanya dengan berbagai jenis bunga yang dipajang begitu saja di sudut-sudut halaman. Meski memiliki rumah dinas, namun sang professor jarang menempati rumah tersebut lantaran aktivitas pekerjaan yang tinggi dan berbagai agenda yang harus dihadiri.

Di rumah ini hanya ditempati oleh dua pemuda asal Biak Barat yang disekolahkan oleh Yohana. Ketika me­nemui adik sang menteri, atau anak kedelapan,  Yosef Yembise bersama keponakan ibu Yohana,  Mathias Sarwa. Keduanya lantas membuka percakapan seputar  respon keluarga setelah anak ke dua dari sebelas bersaudara ini dipilih menjadi menteri.

Menurut Yosef, ia dan keluarga tak pernah berpikir dan membayangkan jika sang kakak akhirnya bisa dipilih menjadi menteri. Menjadi kebanggaan yang tak terkira oleh keluarga, mengingat Yohana Yembise merupakan wanita pertama asal Papua yang menjadi menteri.  Yohana juga menjadi professor perempuan pertama di Papua. Namun ada hal menarik yang disampaikan Yosef, di mana jauh hari sebelum sang kakak terpilih menteri, anaknya yang nomor dua bernama Irke Yembise yang berusia 16 tahun pernah menuturkan hayalannya andai saja suatu saat sang tante (Yohana Yembise) menjadi menteri yang dipilih Jokowi.

“Jadi jauh-jauh hari atau bahkan saat masih debat kandidat atau penyampaian visi misi dan Jokowi sempat sampai ke Papua anak kedua saya ini sempat menyampaikan seperti itu. Ia mengatakan kalau saja tantenya nanti bisa menjadi menteri karena tantenya merupakan professor perempuan pertama Papua dan ternyata omongan ini benar terjadi,” kata Yosef menceritakan komentar sang anak.

Dikatakannya saat sang anak berujar seperti itu ia hanya menyambung untuk didoakan saja, sebab apa yang menjadi kehendak Tuhan tak bisa diubah manusia.

Pria berkepala plontos yang sering dipanggil Ocep oleh sang kakak Yohana ini juga menceritakan bahwa pada Sabtu (25/10) saat dirinya te­ngah prepare dari Palu menuju ke Jayapura untuk mengikuti pelantikan, ternyata sang kakak masih sempat meneleponnya meminta dukungan doa karena ia dipanggil Jokowi dan saat itu Ocep hanya menyampaikan bahwa pasti keluarga turut berdoa. Namun saat itu kata Ocep sang kakak tak banyak komentar, sebab mungkin masih ragu apakah benar akan dipilih menjadi menteri atau tidak.

“Ia masih sering menghubungi saya, bahkan ketika saya baru tiba Sabtu pekan kemarin ia menelepon untuk mengambil mobil di Bandara Sentani, sebab ia harus segera ke Jakarta untuk memenuhi panggilan itu, jadi setelah mengajar ibu langsung ke bandara membawa mobil sendiri dan meninggalkannya begitu saja,” cerita Ocep yang terakhir kali ketemu dengan sang kakak pada minggu pertama Oktober di Manokwari.

Yohana sendiri memiliki tiga orang anak yaitu Marcia Baransano yang sekarang bekerja di Timika, Dina (sedang kuliah di London) dan Berni yang berada di Timika.

Lanjut pria yang sudah menjadi Kepala Lapas Nabire ini, sosok sang kakak sejak kecil memang sudah menunjukkan karakter mengemong. Merangkul adik-adiknya, mengajarkan untuk  mandiri dan memen­tingkan pendidikan.

Maklumlah sejak tahun 1986 sang ayah sudah dipanggil Tuhan sehingga ia harus mengambil peran sebagai almarhum ayah. Kata Ocep, hampir semua adik Yohana diasuh olehnya, bahkan ketika dirinya sekolah juga banyak dibiayai oleh Yohana. Penilaian keluarga, Yohana termasuk kakak yang disiplin. Ketika masih tinggal di Nabire kalau dirinya dan saudara lainnya pulang terlambat  maka pintu dipastikan sudah dikunci  dan bila kemudian disuruh masuk maka semua harus siap mendapat nasehat yang panjang.

“Saat itu adik-adik banyak yang kecewa karena ingin bebas tapi setelah dimarah, kami dipanggil dan  diingatkan soal pesan orang tua, dimana harus semua menjadi sarjana. Saya merasakan bahwa dengan segala keterbatasannya ia masih mampu memenuhi kebutuhan adik-adiknya,” ceritanya.

Ayah Yohana Yembise merupaka PNS di kantor bupati, sedangkan sang ibu hanya be­kerja sebagai ibu rumah tangga dan keduanya harus membesarkan 11 anak, di mana Yohana merupakan anak ke-2.  Menurut Ocep, sejak kecil Yohana sudah menunjukkan karakter mengemong dan ini juga dibuktikan ketika dirinya menjabat sebagai dosen, di mana ia mengambil dua anak dari Biak Barat yang tak sekolah dan akhirnya disekolahkan. “Yang kami tahu ia sosok yang gigih,” imbuhnya.

Dulu ketika masih  kuliah Bahasa Inggris, seingat Ocep, sang kakak sudah disuruh untuk mengajar dan memberikan kursus untuk membiayai adik-adik dan pada Tahun 1977  zaman Mendagri, Amir Mahmud, Yohana sudah mengikuti pertukaran pelajar Indonesia – Canada sehingga tak heran jika banyak gelar pendidikan yang diraih dari sejumlah negara di luar negeri.

Mengenai karakter sang kakak, menurut Ocep, Yohana juga suka humor, kadang kalau sedang kumpul keluarga ia selalu meminta ada yang bercerita humor agar dirinya bisa tertawa dan tak jarang Yohana juga ikut menceritakan cerita humornya.
Ia juga mengaku takkan sungkan untuk menegur sang kakak meski telah menjabat sebagai menteri. “Saya kira kami tetap bersikap seperti biasa, sebab orang tua kami banyak mengajarkan tentang kebersamaan dan tetap berkomunikasi karena saudara-saudara kami banyak yang terpencar jadi kalau ketemu nanti  saya pikir akan banyak cerita yang kami bicarakan,” sambungnya.

Ocep juga meyakini sang kakak bisa mengemban jabatan menteri jika melihat dari track record yang sudah dikantongi selama ini.

Sementara Mathias Sarwa menyatakan harapannya bahwa dengan jabatan menteri ini Yohana ikut melakukan terobosan di bidang pemberdayaan perempuan dan anak membantu pemerintahan Jokowi-JK, karena ini menjadi persoalan  perempuan dan anak di Indonesia masih kental terkait di­skriminasi terhadap perempuan, penyetaraan  gender dan ke­kerasan dalam rumah tangga.

Kata Mathias, pihak keluarga meyakini bahwa Yohana bisa menjalankan tugasnya menjadi menteri karena dari sisi pengetahuan dan pengalaman dianggap mampu menjadi guru terbaik.

Namun  keluarga juga berharap agar sang professor senantiasa tetap mengingat Tuhan. Kuasa Tuhan itu penting, sebab manusia terbatas dengan segala akal dan pikiran. “Saya pikir ibu perlu tetap berdoa agar Tuhan memberikan hikmat untuk melakukan kebijakan yang berpihak kepada rakyat terutama perempuan dan anak di Indonesia,” harapnya.

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.