INFO NABIRE INFO PAPUA
Home » Blog » Prosesi Pentahbisan 2 Pastor Di Deiyai Dihadiri 3 Kepala Daerah

Prosesi Pentahbisan 2 Pastor Di Deiyai Dihadiri 3 Kepala Daerah

a

(Dokpri.Bernadus.Dambut)

Tiga bupati di Provinsi Papua menghadiri prosesi penahbisan dua pastor/imam di Wagete Kabupaten Deiyai, Minggu (21/08). Pantauan di lapangan, ketiga bupati yang hadir dalam momentum akbar itu yakni Bupati Paniai, Hengki Kayame, Bupati Deiyai, Dance Takimai, dan Bupati Nabire Isaias Douw.

Kedua imam atau pastor yang ditahbiskan yakni diakon Petrus Riefinus Madai Pr dan diakon Santon Tekege Pr. Penahbisan dilakukan oleh Uskup Keuskupan Timika Jhon Philip Sakril.

Dalam sambutannya, Bupati Deiyai Dance Takimai mengatakan para misionaris terdahulu menjalankan tugas pokok mewartawakan sabda Tuhan dan juga membawa misi keselamatan hidup bagi umat melalui pendidikan, kesehatan dan sosial kepada umat diseluruh pesisir Papua termasuk wilayah adat suku Mee.

“Warta keselamatan itu kini telah dirasakan yaitu banyak orang asli suku Mee telah terpanggil untuk menjalankan tongkat estafet misi kemanusiaan khususnya gereja,” ujarnya.

Menurut dia, banyak juga orang Mee yang menjadi biarawan dan biarawati bahkan bekerja di pemerintahan dan menghasilkan banyak hasil.

“Pemerintah Kabupaten Deiyai mengucapkan banyak terima kasih kepada Keuskupan Timika yang mana telah menahbiskan dua imam atau pastor ini,” ujarnya.

b

Dia berharap kedepan Kabupaten Deiyai dapat menjadi pusat-pusat paroki khususnya di wilayah adat Meepago.

Turut hadir dalam acara akbar itu para pimpinan TNI-Polri, para piminan SKPD di lingkup Pemerintahan Kabupaten Nabire, Dogiyai, Deiyai dan Kabupaten Paniai.

Seribuan lebih warga Deiyai berbondong-bondong datang dari berbagai penjuru di Wagete menuju gereja St Yohanes Pemandi Wagete untuk mengikuti acara itu.

Warga yang datang baik anak-anak hingga orang dewasa memadati gereja St Yohanes dari dalam ruangan hingga bagian luar gedung untuk mengikuti jalannya penahbisan.

Sebagian warga yang terlambat datang tidak bisa masuk ke dalam ruang gereja, mereka terpaksa berdiri diluar halaman gereja.

Warga lainnya lagi terpaksa memilih untuk duduk di pinggir gereja beralaskan tanah mengikuti jalannya momentum akbar tersebut.

(Netral)

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.