Dana Terbatas, Rapid Test Untuk Pelajar Belum Bisa Dilaksanakan di Nabire

(Kepala Dinas Pendidikan Nabire, Yulianus Pasang, S.Pd, M.Pd)

Nabire, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka, telah dilaksanakan kembali di sejumlah sekolah di Nabire, terkecuali untuk tingkat TK/Paud dan SD.

Selain penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19, salah satu kebijakan yang harus dilaksanakan oleh pihak sekolah yang melaksanakan KBM tatap muka adalah wajib mengikuti rapid test untuk para guru sekolah.

(Baca Juga : Dari Isue Rapid Test Antigen, Dana BOS Hingga KBM Online, Ini Penjelasan Kadin Pendidikan Nabire)

Namun kebijakan rapid test ini, tidak diberlakukan untuk para siswa-siswi di setiap sekolah. Padahal, tidak menutup kemungkinan, penyebaran Covid-19 bisa berasal dari para siswa-siswi di sekolah.

Lalu apa tanggapan dan kebijakan Dinas Pendidikan kabupaten Nabire, berkaitan dengan hal ini ? Nabire.Net telah mewawancarai Kepala Dinas Pendidikan Nabire, Yulianus Pasang, S.Pd, M.Pd, senin 1 Maret 2020 lalu.

Yulianus Pasang mengatakan, terkait kebijakan rapid test untuk para siswa, hal itu tidak mungkin mengakomodir semua siswa dikarenakan keterbatasa dana yang tersedia.

Menurut Yulianus, rapid kepada siswa baru akan dilakukan jika siswa ada yang memiliki gejala Covid-19, demikian halnya dengan siswa lain yang melakukan kontak langsung dengan siswa tersebut.

“Untuk siswa, jika ada gejala Covid-19 maka yang bersangkutan dan siswa lain yang kontak dengan dia, wajib ikut rapid. Tetapi tentu tidak bisa semua, karena keterbatasan dana. Apalagi saat ini sekolah menggunakan dana BOS, kata Yulianus.

Jika pemerintah pusat maupun daerah bisa mengakomodir dana tersebut, maka Dinas Pendidikan akan lebih senang jika semua warga sekolah bisa mengikuti rapid test.

Namun untuk saat ini, Dinas Pendidikan bersama Tim Satgas Covid-19 dan pihak Sekolah terus mengedepankan upaya penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 seperti penggunaan masker, wajib cuci tangan maupun menjaga jarak.

“Penerapan protokol kesehatan wajib dilakukan oleh warga sekolah baik guru maupun siswa. Hal ini merupakan suatu keharusan yang wajib diterapkan di setiap sekolah yang melaksanakan KBM tatap muka,” lanjut Kepala Dinas.

Kepala Dinas Pendidikan Nabire, Yulianus Pasang, S.Pd, M.Pd mengatakan, hingga saat ini sudah 90% lebih guru yang sudah mendapat rapid test.

Nantinya setelah hasil rapid diketahui, bisa diambil tindakan. Sedangkan sekolah yang sudah dua minggu dirapid, akan kembali dilakukan kontrol ulang. Jika ada guru yang terpapar Covid, maka guru tersebut akan diisolasi baik di rumah maupun di RSUD tergantung gejala penyakitnya.

Kepala Dinas juga berpesan kepada para guru, siswa/i dan warga masyarakat agar tetap mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19 dan tidak memandang remeh penyebaran Covid-19 sehingga penyebaran Covid di Nabire bisa ditekan.

[Nabire.Net]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *