Situasi Kota Enarotali, Ibukota Kabupaten Paniai, Papua mencekam. Penyebabnya, Polsek Kota Enarotali diserang warga sekitar pukul 10.00 WIT, Senin (8/12/2014).
Penyerangan polsek dipicu masalah pemukulan kepada warga setempat oleh aparat keamanan yang terjadi pada Minggu malam, sekitar pukul 00.30 WIT. Akibat pemukulan itu warga marah dan menyerang Polsek Kota.
Kabarnya, akibat penyerangan ini 4 orang diduga tewas tertembak. Keempat nama-nama korban itu Habaku Degei, Neles Gobai, Bertus Gobai, dan Apinus Gobai.
Selain keempat orang ini, 13 orang lainnya masih dalam perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Paniai, karena dugaan luka tembak dan benda tajam.
Kapolda Papua, Irjen Pol Yotje Mende mengakui adanya penyerangan Polsek Kota di Enarotali. Namun pihaknya belum mengetahui adanya korban akibat penyerangan itu.
Ketua Dewan Adat Daerah Paniai, John NR Gobai, menceritakan sumbu kericuhan yang terjadi di daerahnya. Menurut dia, kejadian bermula dari penganiayaan anak 12 tahun di perbukitan Togokotu, Kampung Ipakiye, Paniai Timur, kemarin. Penganiaya diduga anggota TNI.
Pada 7 Desember 2014, pukul 00.00 WIT, sebuah mobil Fortuner hitam melintasi perbukitan Togokotu dengan lampu dipadamkan. Sesampainya di puncak perbukitan Togokotu, Kampung Ipakiye, Paniai Timur, pengendara mobil mendapat teguran dari anak-anak yang berada di sebuah Posko Natal.
“Karena lampunya (mobil) mati, anak-anak itu menegur dan meminta (sopir) untuk menyalahkan lampu. Terjadi pertengkaran mulut,” kata John.
Setelah pertengkaran mulut reda, pengendara mobil melaju ke Posko Timsus 753 di Uwibutu. Tak berselang lama, ternyata mobil kembali ke Posko Natal. Penumpang mobil bertambah. “Sekembalinya di Posko, mereka melakukan penganiayaan terhadap seorang anak yang berusia kira-kira 12 tahun,” kata John.
Mendapat kabar tak sedap itu, masyarakat Kampung Ipakiye berbondong-bondong menuju Kota Enarotali sejauh lima kilometer. Maksudnya, memintai keterangan dari aparat keamanan terkait penganiayaan bocah 12 tahun itu. Mereka juga menanyakan para penganiaya dan keberadaan mobil Fortuner itu.
Sekitar jam 10.00 WIT, masyarakat menemukan mobil Fortuner yang diduga dibawa para penganiaya. Tanpa ba-bi-bu, mereka lantas membakar mobil tersebut sambil menyanyi dan menari di di Lapangan Karel Gobai, Enarotali.
Tindakan mereka lantas dibalas aparat dengan melakukan penembakan dengan alasan pembubaran massa. Empat orang pun melayang.
“Kejadian ini adalah sebuah pelanggaran HAM dan kejahatan kemanusiaan,” kata John. “Kejadian ini tidak ada kaitan dengan TPN/OPM, ini murni masyarakat yang jadi korban kekerasan.”
Dihubungi terpisah, Kabid Humas Polda Papua, Komisaris Besar Polisi Puji Sulistiyo, masih enggan berbicara banyak. Dia hanya menyebut pihaknya masih melakukan koordinasi untuk mencari penyebab peristiwa itu.
“Saat ini Polda masih koordinasi dengan Pemerintah Paniai tentang kronologis kejadiannya, apakah yang tertembak satu orang atau dua orang,” kata Puji.
Korban Tewas
1. Alpius Youw (17) seorang pemuda berdomisili di kampung Nunubado.
2. Alpius Gobai (17) seorang siswa di SMA Negeri 1 Paniai Timur, Enarotali.
3. Simon Degei (18) seorang siswa SMA Negeri 1 Paniai
4. Yulian Yeimo (17) siswa SMA.Timur, Enarotali.
5. Saday Yeimo
Luka Kritis
1. Yulianus Tobai (33) seorang Satpam RSUD Paniai.
2. Selpi Dogopia (34)
3. Jermias Kayame (48) seorang kepala Kampung Awabutu.
4. Marci Yogi (52) Ibu Rumah Tangga.
5. Yulianus Mote (25)
6. Agusta Degei (28).
Dokter Yosua Purba, dokter yang menangani enam pasien yang dirawat di ruang IGD RSUD Paniai menjelaskan, pihaknya melayani korban sejak Pukul 09.00 dengan pasien yang berlumuran darah.
“Ada tujuh pasien yang kami ada rawat. Lukanya adalah luka tembakan peluru senjata,” kata dokter Yosua yang juga adalah Kepala Ruang IGD RSUD Paniai didampingi dr. Hendra Salmen Menda selaku dokter umum.
Menurutnya, semua pasien mengalami luka berat. “Semua pasien memang luka berat,” ucapnya.
Siang tadi, warga jejerkan korban tewas di lapangan terbuka, Lapangan Sepak Bola Karel A. Gobay pusat kota Enarotali, Paniai. Sedangkan salah satunya Yulian Yeimo meninggal dari rumah sakit saat menjalani perawatan medis.
Ia mengatakan empat warga sipil yang ditembak ini tiga di antaranya murni anak sekolah tingkat SMA. Sementara yang satu adalah pemuda.
“Mereka yang ditembak ini bukan anggota TPN/OPM, tapi ini anak sekolah. Yang satu ini adalah pemuda yang biasa jaga rumah kakaknya di Nunubado,” katanya.
Warga lainnya, Tinus Pigai menjelaskan pembunuhan terhadap warga sipil ini adalah murni tindakan kejahatan dari TNI/Polri di Paniai.
Tinggalkan Komentar