Warga Dogiyai Kembali Gelar Demo Protes Razia TNI/Polri
Ratusan Warga Dogiyai kembali menduduki Kantor DPRD Dogiyai, senin 23 januari 2017, untuk menanyakan razia oleh aparat TNI/Polri yang dianggap berlebihan sehingga sangat meresahkan warga di kabupaten Dogiyai. Sebelumnya pada 16 januari lalu, demo yang sama telah digelar.
Koordinator aksi demi, Benedictus Goo dalam aksi tersebut meminta tanggapan dari DPRD Dogiyai menindaklanjuti aspirasi yang telah disampaikan 16 januari lalu.
Benedictus Goo menjelaskan, pihaknya meminta DPRD agar segera memindahkan Kapolsek Moanemani dan meminta pemerintah menarik kembali rumah yang saat ini difungsikan sebagai pos brimob, serta meminta penghentian aksi razia oleh aparat TNI/Polri.
Menanggapi aksi demo tersebut, salah seorang anggota DPRD Dogiyai, Yehezkiel Anouw menjelaskan, DPRD telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan meminta agar razia dilaksanakan hari-hari tertentu saja.
Sedangkan terkait pos brimob, baru bisa dibicarakan jika sudah ada pemerintah definitif Dogiyai pasca Pilkada nanti.
Ditempat yang sama, Asisten I Setda Dogiyai, Simon Anou dan Asisten II Setda Dogiyai, Frans Bunapa meminta kepada pihak DPRD untuk bersama menuntaskan soal pemindahan Kapolsek Moanemani, Mardi Marpaung.
Massa akhirnya membubarkan diri setelah mendapat penjelasan dari anggota DPRD dan pemerintah.
Terkait hal ini, Kapolres Nabire, AKBP Semmy Ronny Thabaa sempat menanggapi rencana aksi demo di kabupaten Dogiyai dengan mengatakan bahwa razia dan sweeping yang digelar di Dogiyai merupakan tugas pokok dari Polri dan TNI untuk menjaga situasi kamtibmas agar aman dan terkendali.
[Nabire.Net]



Fx Mee
Usulan
Alangkah baikNya untuk menjaga situasi kamtibmas agar aman dan terkendali Negara ini harus tidak boleh mencetak uang Rupiah, tak boleh menjual alat tajam, hp, laptop di obral2 ataupun ditoko sebab masyarakat itu orang yang tak bersalah mereka sebagai konsumen lebih baik TNI dan Polri bertindak untuk melarang mereka yang jual barang/produsen.itu harus tahu !!!