News & Info
Home » Blog » Tenaga Dokter Di Puskesmas Denemani Kabupaten Dogiyai Sering Tidak Aktif Laksanakan Tugas

Tenaga Dokter Di Puskesmas Denemani Kabupaten Dogiyai Sering Tidak Aktif Laksanakan Tugas

1

Kepala Puskesmas Denemani Distrik Dogiyai, Paskalis Edoway Amd.Kep, di ruang kerjanya, menjelaskan, penduduk Distrik Dogiyai yang berjumlah 15 ribu ini memilih berobat ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dogiyai. Hal ini disebabkan karena tenaga dokter yang ditempatkan oleh pemerintah Kabupaten Dogiyai untuk Puskemas Denemani ini tidak aktif melaksanakan tugas.

“Pasien di Distrik Dogiyai selalu lari ke RSUD Dogiyai, karena menurut pasien itu tidak ada dokter,” jelas Paskalis. Ia juga membantah bahwa bukan karena rendahnya pelayanan kesehatan bagi masyarakat di Puskesmas Denemani, namun masyarakat Distrik Dogiyai lebih memilih berobat di RSUD, walaupun jarak Distrik Dogiyai ke pusat ibu kota Kabupaten Dogiyai yang jauh. Hal ini dikarenakan dokter yang telah ditempatkan oleh pemerintah Kabupaten Dogiyai tidak pernah aktif menjalankan tugasnya untuk melayani pasien di Distrik Dogiyai.

Awalnya, lonjakan pasien yang berobat di Puskesas ini sangat tinggi. Apabila pasien lebih memilih berobat ke luar Puskesmas ini berarti pelayanan yang diberikan tim medis di Puskesmas Denemani belum maksimal. Dan lebih memilih keluar karena pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Puskesmas Denemani belum memuaskan.

“Saya sangat menyesalkan hal ini, hanya karena ketidakhadiran dokter ini membuat para pasien berobat keluar dari wilayah pelayanan kesehatan saya ini. Padahal fasilitas di Puskesmas ini sudah lebih dari cukup, terutama dengan stok obatnya cukup,” jelas Edoway.

Edoway juga menjelaskan, walaupun dokter tidak pernah ditempat, fungsi tugas dari perawat di Puskesmas dapat difungsikan setiap hari. “Walaupun tenaga perawat hanya 6 orang, diantaranya 3 orang perawat berstatus PNS dan 3 orang lainnya berstatus honorer namun selalu aktif melayani pasien sebagian pasien yang datang berobat di Puskemas ini,” tuturnya.

Walaupun dokter tidak ditempat, kadang kala pasien membudak antara 30 hingga 60 pasien perhari. Puluhan pasien inipun dilayani seadanya.

“Saya kesal dokter itu selalu digaji oleh pemerintah, namun hanya menerima gaji tetapi pelayanan terhadap pasien diselewengkan,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Kampung Dogimani Distrik Dogiyai, Piter Tagi, ketika mendengar ketidakhadiran dokter untuk melayani pasien ini, akan dilaporkan ke dinas setempat dan kepala daerah Kabupaten Dogiyai agar diberikan sangsi tegas.

“Saya mengalami sendiri, hal-hal yang tidak nyaman ketika berobat di Puskemas Denemani. Hal yang paling saya keluhkan adalah soal ketidakhadiran dokter, namun yang memberikan keterangan sakit itu oleh para tenaga medis yang masih sangat rendah pengetahuannya, contohnya kehadiran para dokter,” ujar Piter.

Sementara itu, seorang pemuda yang enggan menyebutkan namanya juga mengaku bahwa pernah merasa ditelantarkan karena tidak mendapatkan pelayanan prima saat dirawat di Puskesmas Denemani. Lantas dirinya beralih berobat ke RSUD Dogiyai.

“Dokter yang merawat pernah terlambat datang untuk memeriksa kesehatan saya, bahkan pernah tidak datang. Sehingga saya berobat ke kota saja, sebenarnya ingin menghargai dan mencintai fasilitas yang ada di tempat kita, namun karena pelayanannya seperti itu, maka keluarga saya berinisiatif untuk mencoba berobat ke tempat lain,” papar.

Sementara itu, Kepala Distrik Dogiyai, Hendrik Anouw, S.Sos, M.Si juga menyangkan ketidakhadiran dari dokter tersebut. Sebagai kepala wilayah di daerah telah berupaya kehadiran Puskesmas ini, dan berharap memberikan pelayan prima dan meningkatkan kualitas pelayanan.

“Dari segi bangunan dan sarana prasarana serta jumlah tenaga medis sebenarnya Puskesmas Denemani sudah dapat disebut sebagai Puskesmas rujukan yang memadai, bangunan megah, sarana kesehatan berupa alat-alat termasuk 50% lengkap. Namun sangat disayangkan pelayanan tenaga medisnya kurang baik. Semoga kedepannya masalah pelayanan dapat diperbaiki, sehingga masyarakat di Denemani mendapatkan pelayanan prima dalam bidang kesehatan dan tidak mencari di tempat lain,” harapnya.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

  • stephanus
    1 Mei, 2014 13:04 pada 13:04

    kenapa bisa begitu kah …… mungkin servisnya kurang bagus ataukah tenaga medis orang pendatang inginya cari untung bukan sifatnya sebagai pelayan masyrakat di kabupaten tersebut tolong pak camatnya klarifikasi ionformasinya

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.