STPK St. Yohanes Rasul Jayapura Cetak Pendidik Agama Yang Berkualitas

Dogiyai – STPK St. Yohanes Rasul Jayapura adalah lembaga pendidikan yang berdiri tahun 1979. Hadirnya STPK yang dulunya bernama PGAK, didorong akan kebutuhan tenaga pendidik agama Katolik di Papua.
STPK yang bernaung dibawah Yayasan Lumen Fidei ini, sejak dulu melahirkan almamater yang berkualitas dan siap melayani di Papua.
Hal itu diakui oleh salah satu alumninya, Yosmus Makai. yang saat ini menjadi guru agama Katolik di SD YPPK St.Stefanus, Apogomakida, kabupaten Dogiyai, Papua.
Yosmus menuturkan, seharusnya generasi muda di Papua lebih memilih pendidikan dengan model seperti ini, yakni setelah dididik, bisa langsung bekerja.
Seperti diketahui, saat ini lapangan pekerjaan begitu susah, apalagi untuk menjadi seorang PNS. Apa yang sudah dikorbankan selama kuliah seperti tak ada hasilnya ketika outputnya hanya menganggur.
Metode pendidikan harus bisa dipilih dengan tepat, jangan sampai apa yang didapat selama kuliah tidak bermanfaat setelah itu, baik untuk mendapatkan pekerjaan maupun untuk berwiraswasta.
Untuk itu, Yosmus Makai ingin meyakinkan generasi muda di Papua khususnya yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi untuk jangan ragu memilih pendidikan yang tepat seperti apa yang didapatkan di almamaternya dulu, STPK St. Yohanes Jayapura.
“Di Kampus STPK, ada kalender dan jadwal kuliah bersama yang harus di epati oleh para Dosen dan Mahasiswa, ada aturan perkuliahan yang jelas bagi semua dosen dan mahasiswa, tinggal di asrama yang ada aturan bersama, makan bersama, kerja bersama, ada jadwal doa bersama, jadwal masak bersama, tidak sama dengan asrama dari Pemerintah yang tidak ada aturan, berhamburan, tidak ada pengawasan dan banyak masalah lain” puji Makai.
“Di Kampus STPK Waena Jayapura, kami tidak pernah keluar kan biaya selain Uang Asrama, uang kuliah, uang SKS, pokoknya tidak ada biaya/ transaksi secara pribadi antara Dosen atau karyawan dengan para Mahasiswa. Bila ada Mahasiswa yang nilainya dibawah standar, ada jadwal her, tidak ada dosen yang bertanya ” Mana Doi” tapi yang dosen bertanya adalah ” Kamu Belajar ka? Tidak belajar?”, lanjutnya.
“Di Kampus ku, semua mahasiswa mendapat Beasiswa dari Departemen Agama, tidak ada mahasiswa yang dilewatkan. Kita akan selalu ketemu dengan Pastor Ketua dengan senyuman lebar, juga para dosen yang selalu tampil sebagai orang tua. Tidak gaya di sebagian kampus yang sudah mau selesai kuliah juga tidak kenal muka ketua sekolah dan sebagian dosen yang bila ketemu dia justru bertanya ” Ko Siapa” pada hal ini mahasiswa studi akhir yang mau konsultasi Skripsi. Kalau ada Mahasiswa yang keluar pasti karena tidak mampu mengikuti aturan sekolah. Sebagian mahasiswa keluar juga karena nilai jauh dari standar dan tidak bisa di toleransi karena memang sebagian memang berasal dari SD, SMP, dan SMA yang kualitasnya rendah, sekolah yang dibuka pemerintah tanpa mempertimbangkan keadaan guru dan sarana lainnya”, katanya.
Lebih jauh Makai menjelaskan bahwa mahasiswa tak perlu khawatir setelah selesai kuliah. STPK St. Yohanes Rasul Jayapura yang berada dibawah pengawasan Keuskupan Jayapura, memudahkan alumninya untuk memasukan lamaran melalui bantuan Keuskupan, tanpa banyak persyaratan.
“Sekalipun kita hanya anggota Tim Pastoral tetapi kita akan diterima setara dengan Bupati dan Gubernur. Bupati dan Gubernur di jemput, diterima, diantar dengan harapan dibayar, pesta barapen supaya para penjabat bayar biaya babi, ongkos masak dll. Tetapi kalau kita Tim Pastoral, honornya memang minim, tetapi perhatian umat melebihi dari Para pejabat pemerintah, kita diberi perhatian dengan penuh kasih sayang, diterima dan dijemput melebihi pejabat pemerintah tetapi mereka tidak mengharapkan uang, mereka akan berpesta barapen babi (yang di gunung) tetapi kita tidak membayar biaya babi, sayur, atau pun ongkos Masak. Kita bisa dapat oleh oleh gratis dari umat, dan sebagai orang yang sudah sekolah dan mengerti keadaan umat pasti kita malu dan menolak maka mereka akan merasa malu, dan merasa tidak di hargai dan menghargai. Mereka akan jemput dan antar sekalipun jauh. Tempat istirahat pun gratis, dan hampir semua kita dilayani dengan gratis”, beber Makai.
Yosmus Makai juga mengungkapkan bahwa saat ini banyak guru agama yang berkualitas dan mampu untuk memimpin sekolah. Contoh di Dogiyai, terutama di Mapia seperti Pak Guru David Petege, S.Ag. Kepala sekolah SD YPpk Timepa, pak guru George Tekege, Cesilius Tekege, S.Ag, kepala SD YPPK Modio, dan masih banyak lagi.
“Bagi Alumni yang belum menjadi PNS, dan mau tes CPNS, silakan mendaftar tanpa ada masalah forlap Dikti, sertifikat Akreditasi sudah ada, selamat mengikuti tes CPNS. Harap semua alumni bisa lolos, Soal formasi guru Agama di Dogiyai ada 9 orang guru agama katolik yang akan diterima. Sementara guru agama yang mengabdi di Dogiyai sekitar 7 orang” tutup Yosmus.
[Nabire.Net]


Leave a Reply