Bertempat di ruang rapat Setda Nabire, diadakan rapat pembahasan hasil verifikasi dan evaluasi pangkalan, tentang penatalayanan Bahan Bakar Minyak (BBM) kabupaten Nabire, yang lebih khusus membahas minyak tanah, yang digelar kamis pagi (18/09).
Hadir dalam rapat pembahasan tersebut, Asisten I Setda Nabire, Drs I Wayan Mintaya, Kabag Perekda, Daniel Maipon SSTP, Kepala Distrik Nabire Maikel Danomira SSTP, Kepala Dinas Koperindagkop, Kepala Pertamina Nabire, Kepala-Kepala Kampung dan Lurah se-Distrik Nabire.
Dalam rapat itu, dibahas tindak lanjut pertemuan beberapa waktu lalu terkait masalah pendistribusian minyak tanah di kota Nabire khususnya di Distrik Nabire.
Permasalahan yang tampak jelas yakni mengenai data penduduk yang dipergunakan Dinas kependudukan & Catatan Sipil Nabire yang tidak sesuai dengan distribusi minyak tanah real di lapangan.
Hal itu diungkapkan Kabag Perekda Nabire, Daniel Maipon SSTP.
Ditambahkan Daniel, pada tahun 2013 kuota BBM minyak tanah adalah sebanyak 9.230 KL. Namun pada tahun 2014 ini berdasarkan SK BP Migas, kuota BBM Nabire menjadi 7.830 KL. Dengan demikian terjadi penurunan sebanyak 2.000 lebih KL. Terkait hal ini, pihak Pertamina yang akan menjelaskan supaya diketahui bersama.
Hal senada juga diungkapkan Kepala Pertamina Nabire, M Gultom. Dirinya menjelaskan, satu bulan kita bisa dapat 652 kilo liter. Sehingga apa yang dijelaskan Kabag Perekda ini memang benar dan data kependudukan juga sangat kecil sehingga kita tidak verifikasi ulang lagi. Dan sementara ada penambahan data penduduk dari distrik-distrik sangat susah. Sebab proses waktu semakin panjang sementara kita layani data riil yang ada dan yang lain akan dilayani kedepan.
Sementara itu menurut Asisten I Setda Nabire, Drs I Wayan Mintaya, perkembangan penduduk di kota Nabire semakin hari semakin bertambah, da warga Nabire masih banyak yang menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar sehari-hari.
Namun dari kondisi di lapangan distribusi minyak tanah di kota Nabire cukup rumit dan semrawut. Banyak dijumpai antrian panjang hingga berakibat gesekan antar warga. Ditakutkan akibat hal-hal kecil seperti ini bisa berkembang luas menjadi hal-hal besar yang tidak diinginkan.
Oleh karena itu menurut I Wayan Mintaya, dirinya berharap kedepannya hal in bisa segera terselesaikan. Masyarakat dilayani secara adil dan nyaman sehingga suasana kota Nabire tetap tenang sesuai harapan bersama.
Tinggalkan Komentar