News & Info
Home » Blog » Peringati Jubileum, GKII Wilayah Suku Ngalik Yahukimo Gelar Seminar

Peringati Jubileum, GKII Wilayah Suku Ngalik Yahukimo Gelar Seminar

Dalam rangka   Jubelium  50 Tahun, masuknya  Pekabaran Injil di Wilayah Suku Ngalik Daerah Silimo, Kabupaten Yahukimo, menggelar kegiatan Seminar selama 3 hari dari 23-25 September 2013  lalu. Seminar itu sendiri, dilaksanakan pada dua tempat, yakni, Daerah Wosak Tengah di Hwehono dan  Daerah Silimo.

Wakil Ketua Wilayah  GKII  dari kiri  Pdt. Lukas  Giban, S.Th., mengatakan, sesuai sejarah, gereja ini dibawah oleh misionaris bernama oleh Cristian Misionaris Aliance Prof. Myron Bromley, Benny Carseski, Ryan Miller dan Pdt. Edward Maxey sejak 7 September 1963 sampai 7 September 2013 dengan nama Kemah Injil Gereja Masehi Indonesia (Kingmi) dari Tahun 1963-Tahun 1978, dan pada konfrensi I di Jakarta pada 24-29 Agustus  1978 di Cibubur , nama Kingmi diubah menjadi  Gereja Kesatuan yang disebut Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII).

Dijelaskannya, karena salah satu denominasi Gereja dalam satu Negara banyak kelompok seperti Kingmi Kalimantan, Kingmi Makassar, Kingmi Irian Jaya (Papua), maka menetapkan GKII dalam sidang  konferensi gereja di Nabire Tahun  2006, akhirnya disepakati Kingmi  di tanah Papua dan GKII yang berdiri sendiri kelembagaannya.

“Dalam seminar itu, ada sejumlah materi yang dibahas, antara  lain, Sejarah  perkembangannya  Gereja Kemah  Injil. Manajemen  Keuangan Gereja. Ilmu berkhotbah (Homilitika). Kepemimpinan Gereja. Penyuluhan tentang Bahaya Virus HIV/AIDS. Peranan Istri  Gembala dalam mendukung Suami melayani Tuhan. Pelantikan sejumlah Penginjil dan majelis jemaat,” ungkapnya dalam press releasenya ke Kantor Redaksi Bintang Papua, Rabu, (16/10).

Perkembangan GKII di  wilayah Suku  Ngalik  telah mencapai Usia ke 50 tahun, yang adalah usia 50 kedewasaan gereja dalam menjalankan  perannya  untuk  memenuhi Tri tugas Panggilan Gereja yaitu, Bersaksi, Bersekutu dan Melayani, dalam penginjilan pekabaran Injil, sebab itu setiap pekerja Gereja, hendaknya bersatu untuk  meningkatkan kualitas Pelayanan. Tidak perlu ada gesekan-gesekan dikalangan umat Tuhan.

Dirinya, mengajak  semua pihak agar bersatu untuk meningkatkan kualitas pelayanan dengan membangun iman umat, supaya umat mengasihi Tuhan dan sesamanya dalam menghadapi hari-hari hidup kedepan yang semakin rumit, disebabkan iman  warga Gereja semakin merosot. Oleh sebab itu semua pimpinan Jemaat wajib melaksanakan kegiatan rohani seperti, Seminar, KKR di tingkat Daerah dan Jemaat, perlu ditingkatkan.

Karena momen Jubelium merupakan betapa pentingnya keselamatan terjadi bagi masyarakat di daerah ini. Ketika Injil diberitakan   oleh Misi KAMA, sebab itu Jubelium harus dilaksanakan di daerah. Warga masyarakat Perlu tinggalkan sikap/tindakan menghalangi pelayanan Gereja, itu bukan cara orang Kristen.

Sementara itu beberapa tokoh sebagai  saksi mata, yaitu, Seleimene Giban, Kwerial Sekenil, Yosep Sekenil, Werio Heluka, Laban Sekenil Bide Giban, Pdt Lukas Heluka, Pdt Harun Heluka, Pdt. Adolop Giban, Be’gi Giban, menjelaskan, masuknya Injil di daerah Silimo oleh Christian dan Missionari Alliance (C & MA) pada Tahun 1962-1963 adalah tiga tahap dalam catatan   sejarah  dan   ingatan    mereka,  yang  perlu di perhatikan  oleh  generasi  penerus gereja.

Tahap Pertama. survei  pekabaran  Injil  yang  dilakukan oleh Missi (Kama) Cristian and Misionaris Aliance yaitu pada, 14 Maret 1962. Utusan C&MA yang melakukan survei penginjilan di lembah Keniagaikma ialah, Prof. Myron Bromley, Ryan Miller dan Benny Carsesky, bersama  beberapa  orang   Tangma   yang   menjadi   penunjuk  jalan   bagi  missionaries adalah Aligat Hesegem. Selanuok  Hesegem, dan  Laikeroke Hesegem.

“Mereka berangkat dari Tangma dan bermalam di belantara Gunung Di’go, tiba di Keniagaikma pada 14 Maret 1962 pukul 15.00 Wit tiba di Nosukatma dan langsung ke Kampung yang Borluberla. Missi C&MA diterima oleh beberapa Tokoh adat dan tokoh Masyarakat dari kampung Boruberla seperti, Besek Giban, Nogouwak Matuan, Seilagen Giban,   Asial Matuan,  Dorlak Giban,  Tebiak  Giban,  Somong Giban, Siba Giban. Misionris dan rombongan disambut dengan pesta bakar batu atau istilah dalam Bahasa Nebit Wam Morli Werak Entigisa,” jelasnya.

Tahap Kedua, pada 7 September 1963 Injil diberitakan di Silimo oleh Missi C&MA yang datang ke Silimo adalah, Pdt. Edward Maxey, MA dan Ryan Miller bersama petunjuk jalan bagi Missionaris, Sorlobon Lokobal, Kigikhogo Hesegem, Telhenem Asso, Salomon Yelemaken. Mereka berjalan kaki dari Tangma selama 3 hari 2 malam melalui belantara gunung Di’go, Seliksalok, karena pada saat itu masih ada perang  suku.

Dalam perjalanan yang cukup melelahkan dengan mendaki gunung-gunung yang menjulang tinggi namun dengan pertolongan Tuhan, sehingga malam kedua bermalam di Maming dan tepat pada 7 September 1963  missi C&MA berhasil tiba di lembah Keniangaikma tepat pukul 08.00 WIT, para utusan Injil tiba di Nosukhwatma di mana sekarang terletak lapangan terbang Silimo, dan mereka bertemu dengan seorang Ibu yang bernama Sekelakhwe Heluka dan Ibu ini kembali lapor ke kampung Lokonagaik bahwa saya melihat orang putih dengan rombongan datang untuk membunuh kami, maka itu orang-orang Lokonagaik pergi berjaga disana untuk membunuh utusan Injil yang dianggap musuh, tetapi ternyata yang datang orang kulit putih akhirnya tidak jadi rencana   jahat   itu.

 “Didepan mereka Pdt. Edward Maxey, MA berlutut  dan berdoa saat itu “Haleluyah Pertolongan Tuhan sehingga kami tiba dengan selamat di Keniagaima ini, Tuhan memberkati daerah ini dan jamah hati orang-orang disini supaya mereka menerima kabar baik,” imbuhnya.

Tahap Ketiga. Awal Tahun 1965 di Kampung Jaganlagau, Annaduk Heluka,  Yelesom Segenil, Wettalek Giban, Lilake Giban, Wiaknoko Senik, Gurlak Matuan, Begki Giban, Lukas Heluka, Unmu Payage, dan Spanus Heluka melayani kebutuhan para missionaris. Dan membawa para Missionaris ke Kampung Jaganlagau yang diterima oleh pimpinan pesta Adat dibawah kepala Suku Dukmene Heluka, Wedet Heluka Sigidalogo Heluka dan Homsobuk Heluka.

“Kuasa Tuhan luar biasa, akhirnya semua orang Kampung Jaganlagau menyetujui untuk membakar jitmat berhala yang mereka sembah selama ini. Sejak saat itu awal mula kebangunan rohani Penginjilan di wilayah itu.

Fakta  Sejarah menunjukan  bahwa  pelaku menerima Injil  di daerah  Silimo adalah tidak  hanya  satu Kampung  atau   salah   satu  marga,  tetapi   semua  orang   Silimo  adalah   pelaku  menerima  injil,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.