News & Info
Home » Blog » Penyakit Malaria Masih Jadi Urutan Pertama Di Nabire

Penyakit Malaria Masih Jadi Urutan Pertama Di Nabire

Data Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nabire 2011 menunjukkan, penderita rawat inap penyakit malaria mencapai 3117 orang. Sebanyak 43 orang dinyatakan meninggal dunia.

Pada tahun yang sama, penderita rawat jalan penyakit malaria mencapai 4489 orang. Belum diketahui jumlah penderita dan yang meninggal akibat malaria di kampung-kampung terpencil.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Nabire, Yan Agapa mengatakan, malaria tetap menduduki urutan pertama sejak tahun 2011 dan 2012 serta tahun 2013 ini. Kata dia, data tahun 2012 dan 2013 baru diolah, sehingga masih belum disampaikan ke publik. “Dua tahun terakhir kemungkinan berkurang karena ada beberapa upaya dilakukan dinas.”

Untuk mengatasi malaria, kata dia, pihaknya melalui Bidang Pencegahan Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman (BP3PLP) telah melakukan berbagai kegiatan. Salah satunya adalah sosialisasi pola hidup sehat.

Dinkes juga dalam tahun 2013 ini telah menyalurkan 35.681 kelambu berinsektisida kepada masyarakat dalam dua tahap. Tahap pertama, didistribusikan April 2013 sebanyak 25.681 di RSUD Nabire dan 26 Puskesmas yang ada di Kabupaten Nabire. Tahap kedua pada Oktober 2013 berjumlah 10.000 kelambu.

“Kelambu pada tahap pertama diperuntukan bagi ibu hamil dan anak kecil,” kata Agapa, Jumat, (22/11/13) lalu di Nabire. Kata dia, kelambu tersebut adalah bantuan dari Departemen Kesehatan RI dan Global Fund.

Yan menjelaskan, Dinkes Nabire membuat program kesehatan dengan mengacu pada Rencana Strategis (Renstra) Dinas Kesehatan Provinsi Papua. Dalam Renstra itu, tahun 2015 seluruh sarana pelayanan kesehatan mampu melakukan pemeriksaan parasit  malaria.

Selanjutnya, kata dia, tahun 2025 seluruh Papua sudah memasuki tahap pre-eliminasi dan pada 2030 seluruh Papua sudah mencapai eliminasi malaria.

“Program apapun, kalau tidak ada kesadaran dari warga sendiri juga akan susah. Maka, saya mengajak warga Nabire untuk menyadari bahwa hidup sehak itu penting. Dan, juga periksa darah lengkap dan memastikan bahwa bebas dari malaria,” kata Agapa.

Gejala klinis malaria, kata dia, mulai panas, menggigil, kadang-kadang sakit kepala, pucat, mual, muntah, nafsu makan berkurang, dan lemah. “Sebaiknya, kalau ada tanda-tanda malaria harus segera ke rumah sakit untuk periksa darah dan pengobatan medis,” ajaknya.

Kalau ditinggalkan, kata dia, bisa berakibat fatal. “Orang Papua ini kadang-kadang walaupun sakit tahan saja. Selama masih bisa jalan, ya jalan saja. Sudah tidak bisa jalan atau tidak bisa makan baru mencari obat dan mencari rumah sakit. Kalau sudah parah sulit atasi, lebih baik segere berobat sebelum parah,” ajaknya.

Lebih lanjut, mantan Direktur Akademi Keperawatan (Akper) Nabire ini menjelaskan, plasmodium penyebab penyakit malaria pada manusia adalah Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae dan Plasmodium ovale yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles.

(Sumber : majalahselangkah.com/content/penderita-malaria-di-nabire-tertinggi-warga-diajak-periksa)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

  • Ignatius
    19 Maret, 2014 01:13 pada 01:13

    Malaria masih menjadi masalah di daerah Papua umumnya. Pengasapan secara rutin memang sudah harus dilakukan dan membasmi habis sarang nyamuk malaria

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.