Kepala Kampung Sanoba Soroti HIV di Kalangan Pemuda, Minta Pencegahan Tak Berhenti di Sosialisasi
Nabire, Pemerintah Kampung Sanoba, Kabupaten Nabire, meminta upaya pencegahan HIV, Tuberkulosis (TBC), dan malaria tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi. Program kesehatan dinilai perlu disertai pendampingan, pengawasan, serta keterlibatan langsung tenaga kesehatan di tengah masyarakat.
Perhatian khusus diberikan terhadap persoalan HIV yang dinilai menjadi salah satu isu kesehatan yang perlu diwaspadai di Kampung Sanoba, terutama berkaitan dengan kelompok pemuda dan pemudi.
Kepala Kampung Sanoba, Kornelis Osem, menyampaikan hal tersebut dalam konteks rapat koordinasi advokasi dan sosialisasi pemberantasan AIDS, TBC, dan malaria (ATM). Menurutnya, forum tersebut penting karena pemerintah kampung memperoleh gambaran mengenai persoalan kesehatan yang berkembang di masyarakat.
Namun, ia menilai informasi yang diperoleh melalui pertemuan formal harus dilanjutkan dengan langkah nyata di lapangan.
Edukasi Jangan Berhenti di Ruang Pertemuan
Kornelis mengatakan penyampaian informasi mengenai HIV, TBC, dan malaria perlu diperluas hingga lingkungan masyarakat paling kecil.
Menurutnya, edukasi melalui pemerintah kampung saja belum cukup. Informasi kesehatan perlu menjangkau warga hingga tingkat RT sehingga masyarakat dapat memahami risiko penyakit, langkah pencegahan, serta kapan harus mendapatkan pemeriksaan dan pelayanan kesehatan.
Khusus untuk HIV, edukasi kepada generasi muda dinilai sangat penting. Pengetahuan yang memadai diharapkan dapat membantu pemuda dan pemudi mengambil keputusan yang lebih bertanggung jawab dalam kehidupan sosial mereka.
Kornelis juga mendorong Puskesmas dan instansi terkait untuk lebih sering hadir di tengah masyarakat.
Ia berharap tenaga kesehatan tidak hanya datang ketika ada kegiatan sosialisasi, tetapi juga melakukan pemantauan kondisi warga dan mengidentifikasi berbagai kendala yang muncul dalam upaya pencegahan penyakit.
Minta Program Tak Sekadar Seremonial
Menurut Kornelis, keberlanjutan menjadi salah satu persoalan yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan program kesehatan.
Ia khawatir kegiatan yang hanya dilakukan satu kali tanpa pendampingan berikutnya tidak memberikan perubahan yang signifikan terhadap perilaku masyarakat.
“Jangan setelah kegiatan selesai lalu putus. Kalau bisa, diberikan pengawasan. Kalau memungkinkan, program seperti ini dianggarkan secara khusus,” tegas Kornelis.
Ia juga menyoroti keterbatasan anggaran pemerintah kampung. Selama ini, Kampung Sanoba tetap memberikan dukungan terhadap pelayanan kesehatan, termasuk membantu kader Posyandu dan kegiatan kesehatan masyarakat.
Namun, dana kampung harus dibagi untuk berbagai kebutuhan pembangunan dan pelayanan lainnya. Karena itu, menurutnya, program pencegahan ATM tidak semestinya sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah kampung.
“Jangan semuanya dibebankan ke dana kampung, karena ketika kami mengambil kebijakan untuk satu kegiatan, kegiatan lain bisa menjadi korban,” ujarnya.
Peran Keluarga dan Generasi Muda
Kornelis menilai keluarga juga memiliki posisi penting dalam pencegahan HIV. Pengawasan orang tua terhadap anak tetap diperlukan, tetapi tidak mungkin dilakukan sepanjang waktu.
Karena itu, kesadaran pribadi dan pemahaman mengenai risiko kesehatan menjadi faktor penting, khususnya bagi generasi muda.
“Hari ini kita bisa melihat kondisi di rumah, tetapi di luar sana kita tidak tahu pergaulan seperti apa,” katanya.
Situasi tersebut, menurutnya, menjadi alasan mengapa pendidikan kesehatan harus dilakukan secara terbuka dan terus-menerus. Pemerintah, keluarga, tokoh masyarakat dan tenaga kesehatan perlu membangun komunikasi agar anak muda memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan penyakit menular.
Kolaborasi Jadi Kunci
Pemerintah Kampung Sanoba berharap pemerintah kabupaten dan provinsi dapat memberikan dukungan serta pengawasan terhadap program pencegahan ATM. Puskesmas juga diharapkan memperkuat pendekatan langsung kepada masyarakat.
Kornelis menegaskan, persoalan HIV, TBC dan malaria tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Diperlukan kerja bersama antara pemerintah, tenaga kesehatan, pemerintah kampung, keluarga, tokoh masyarakat dan generasi muda.
Ia berharap kegiatan advokasi yang telah dilakukan dapat berlanjut menjadi program nyata dengan pendampingan dan evaluasi secara berkala.
“Jangan sampai setelah kegiatan, semua kembali dan akhirnya tidak ada tindak lanjut,” pungkasnya.
Bagi Kampung Sanoba, perhatian terhadap HIV di kalangan pemuda menjadi pengingat bahwa pencegahan harus dilakukan sejak dini dan menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Dengan edukasi berkelanjutan dan pengawasan lintas sektor, upaya menekan penyebaran penyakit menular diharapkan dapat berjalan lebih efektif.
[Nabire.Net/Sitti Hawa]





Tinggalkan Komentar