Pemda Dogiyai Harus Berani Kerjasama Dengan Pusat Penelitian Kopi Untuk Memajukan Kopi Arabika Dogiyai
Jika menggali sejarah perkembangan Kopi Arabika di Tanah Papua, maka Kopi Arabika Dogiyai-lah yg pertama kali dikembangkan sejak tahun 1970-an, dan di kenal dengan sebutan Kopi P5 atau Kopi Moanemani. Namun, hal itu ternyata belum pernah diketahui oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia sampai saat ini.
Kopi Arabika Papua yg sudah tak asing lagi di telinga Pusat Penelitian Kopi dan Kakao adalah Kopi Baliem Wamena dan Kopi Pegunungan Bintang, padahal sumber benih Kopi Baliem Wamena dan Pegunungan Bintang adalah Kopi Arabika Dogiyai.
Sayang seribu sayang Kopi Dogiyai hanya nama besar tanpa diketahui kualitasnya secara ilmiah berdasarkan Uji Laboratorium di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia.
Hal ini menyebabkan perkembangan dan pengembangan Kopi Arabika Dogiyai menjadi terbelakang jika dibanding Kopi Arabika Wamena dan Kopi Arabika Pegunungan Bintang.
Untuk memperbaiki kualitas serta perkembangan dan pengembangan Kopi Arabika Dogiyai maka banyak langkah yang perlu dikerjakan. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah pengujian kualitas Kopi di Laboratorium Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, untuk memastikan kualitas Kopi Arabika Dogiyai.
Dengan hasil uji di laboratorium nanti, akan menjadi rujukan perbaikan mutu Kopi Arabika Dogiyai ke level Kopi kelas spesial yg diakui secara ilmiah, bukan berdasarkan rasa aroma tanpa uji laboratorium.
Di sini perlu keberanian Pemerintah Daerah Kabupaten Dogiyai mengambil sikap tegas melalui kebijakan yang benar-benar memproteksi perbaikan kualitas melalui beberapa langkah pasti.
Kepala Bidang Perkebunan, Dinas Pertanian & Perkebunan Kabupaten Dogiyai, Meki Dimi, kepada Nabire.Net mengatakan, untuk melihat langkah-langkah perbaikan kualitas maka perlu menunggu hasil uji laboratorium, sampel kopi yang sudah diserahkan kepada Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Hasil Uji Laboratorium akan mengeluarkan rekomendasi langkah-langkah perbaikan mutu Kopi Arabika Dogiyai ke depan.
Lebih lanjut, Meki Dimi menuturkan, perbaikan mutu Kopi Arabika Dogiyai perlu dilakukan secara ilmiah sehingga mudah dipublikasikan kualitasnya yang tak perlu diragukan lagi, secara legal, baik di dalam maupun luar negeri.
Ditambahka, sejauh ini kelembagaan petani Kopi Arabika Dogiyai telah terbentuk di setiap kampung yang memiliki potensi kopi. Kelembagaan ini sangat penting untuk mengetahui jumlah petani dan jumlah tegakan kopi per petani di setiap kampung untuk diproteksi perbaikan mutu melalui penyediaan sarana dan prasarana produksi, sarana dan prasarana pasca panen serta menempatkan tenaga pendamping/PPL yang direkrut sebagai tenaga kontrak untuk peningkatan pengetahuan dan ketrampilan petani serta penyediaan data-data teknis sebagai rujukan perbaikan di lapangan menuju kopi berkualitas berdasarkan standar operasional petunjuk laboratorium yang akan dikeluarkan.
“Harapan saya selaku Kepala Bidang Perkebunan pada Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dogiyai, pemerintah kabupaten Dogiyai bisa menjalin kerjasama atau MOU dengan Pusat Penelitian Kopi, sehingga kualitas Kopi Arabika asal kabupaten Dogiyai, bisa diakui dan terkenal”, pungkas Meki Dimi.
[Nabire.Net/Agus.Tebai]



Leave a Reply