News & Info
Home » Blog » Luar Biasa Perjuangan Mama Mama Papua

Luar Biasa Perjuangan Mama Mama Papua

mama papua

Menjelang adik bayi lahir, biasanya Ayah dan Ibu sudah menyiapkan segalanya. Seperti memesan kamar untuk persalinan, menghubungi dokter, juga menyiapkan perlengkapan lain untuk adik bayi. Semua itu dilakukan agar adik bayi bisa lahir dengan lancar dan sehat, mamanya juga sehat dan selamat.

Tetapi di pedalaman Papua, ibu yang hendak melahirkan justru harus pergi dari rumah dan harus melahirkan sendirian. Mengapa sang ibu harus pergi dari rumah? Konon, ini merupakan tradisi yang menganggap darah yang dikeluarkan wanita, baik saat melahirkan atau pada waktu menstruasi adalah darah kotor yang membawa sial.
pondok melahirkan

Di pondok semacam ini sang ibu yang hendak melahirkan tinggal sendirian dan melahirkan sendirian.

Untuk menghindari kesialan pada rumah atau kampung, maka ibu yang hendak melahirkan dan wanita yang sedang datang bulan harus keluar rumah dan harus tinggal di pondok yang telah dibuat di tengah hutan atau di pantai. Selama 2 sampai 3 minggu, sang ibu harus tinggal sendirian dan tidak boleh meninggalkan pondok.

Tradisi buang sial ini, seperti diceritakan oleh Dokter Tjondro Indarto dari Balai Kesehatan Terpadu Ibu dan Anak Mimika, masih terjadi pada suku Burate dan suku rawa-rawa lainnya di Nabire.

Dokter Antie Soleman yang sudah 25 tahun mengabdi di pedalaman Papua juga mengisahkan, di daerah Arfak juga sama. Seorang ibu yang hendak melahirkan akan pergi ke pondok di luar kampung dan berjuang sendiri untuk melahirkan. Dua minggu kemudian, sang ibu akan pulang dengan bayinya atau tanpa bayi. Jika ia datang sendirian, itu berarti anaknya sudah meninggal dan sudah dikuburkan.

Proses melahirkan sendirian, tanpa dibantu bidan apalagi dokter, tentu perlu perjuangan yang sangaaat…sangaaaat luar biasa, bahkan mempertaruhkan nyawa. Oleh sebab itu kita jadi maklum kalau angka kematian ibu dan anak di Papua, terutama di pedalaman masih tinggi karena mereka belum terjangkau pelayanan kesehatan.

Kita prihatin dan bersimpati dengan mama-mama kita di pedalaman Papua. Semoga, anak-anak Papua bisa meneruskan sekolah dan banyak yang menjadi bidan dan dokter, sehingga nasib mama-mama Papua di pedalaman bisa segera ditolong.

Luar biasa perjuangan Ibu saat melahirkan kita.

(Sumber : bobo.kidnesia.com)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

  • Susan
    22 Maret, 2014 21:32 pada 21:32

    Seharusnya pemerintah terutama Puskesmas dan Posyandu di daerah setempat memberikan penyuluhan kepada masyarakat setempat agar tradisi seperti itu dihilangkankan dan seharusnya semua ibu-ibu harus melahirkan di rumah pesalinan atau rumah sakit beserta semua perlaengkapan bayi yang dibutuhkan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.