Kesadaran Warga Mimika Akan Pentingnya Masa Depan Generasi Emas Papua Melalui Sekolah Asrama Taruna Papua

Mimika, Ada harapan besar dari warga Timika terhadap keberlangsungan pendidikan generasi Papua yang akan datang. Meski berada di pelosok negeri, warga Timika, Papua dinilai sudah mulai sadar akan pentingnya pendidikan.
Hal itu diutarakan, Kepala Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) SD-SMP Mimika, Yohana Tnunay, kepada awak media, di sela-sela kunjungan awak media dan PT. Freeport Indonesia di sekolah tersebut, Jumat (18/08/2023).
(Baca Juga : Sekolah Asrama Taruna Papua, Potret Pendidikan Berkualitas dengan Dukungan Penuh PT Freeport Indonesia)
Kepada awak media, Yohana berkisah, awalnya sekolah ini sangat sulit mencari siswa-siswi baru, karena mereka harus dicari di pedalaman dan pesisir. Namun saat ini dirinya bersyukur karena orang tua begitu antusias untuk menyekolahkan anaknya di SATP.

Ia mengatakan ada sekitar 1.090 siswa-siswi yang menempuh pendidikan di SATP. Padahal awalnya, untuk mencari para siswa-siswi baru, dibutuhkan perjuangan.
Diceritakan, awalnya sekolah bingung bagaimana harus membimbing anak-anak tersebut. Namun seiring jalan, sekolah menggunakan metode-metode pengajaran yang menyenangkan bagi anak-anak seperti permainan mulai dari bermain tali kangkung, main batu.
“Lama-lama mereka merasa bahwa kami adalah orang tua mereka sehingga mereka percaya kepada kami. Kami senang bahwa orang tua semakin sadar bahwa pendidikan ini sangat penting. Orang tua mulai antusias agar anaknya mendapat pendidikan yang lebih baik”. kata Yohana.
Yohana Tnunay juga berbagi kisahnya bersama guru-guru SATP untuk merayu orang tua agar menyekolahkan anaknya serta tinggal di asrama. Dikatakan, Yohana, pihaknya meyakinkan para orang tua bahkan mendatangi anak-anak ini di daerah pelosok dengan helikopter. Setelah anak-anak mau diajak tinggal di asrama, mereka kemudian diajak untuk belajar pola hidup bersih dan sehat, belajar bermain dan mengembangkan apa yang mereka miliki, lalu mereka belajar bersama-sama.
“Puji Tuhan sampai dengan sekarang, orang tua dari Suku Kamoro sudah mulai berani dan sudah hampir 60 anak disini (dari Suku Kamoro) dan kami sudah menamatkan hampir lebih dari 20-30 anak dan mereka merasa bahwa pendidikan itu penting. Sekarang saya sudah lega. Perjuangan dan doa kami pada tahun 2007 sampai dengan sekarang sudah membuahkan hasil”, ujar Yohana.
“Saya mau mengatakan bahwa Papua bukan kecil. Papua itu besar. Papua bukan tidak ada, Papua itu luar biasa. Anak-anaknya kami bina disini, 1.090 anak. Melalui pendidikan, kami mau menyatakan bahwa tidak ada peperangan, tetapi perdamaian melalui pendidikan di SATP. Itu cita-cita luhur dari SATP. Terima kasih banyak kepada PT. Freeport Indonesia, Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), yang terus mensupport dan melihat, bahkan mendengar keluhan kami untuk mensupport anak-anak generasi emas Amungme dan Kamoro”, pungkas Yohana.
[Nabire.Net/Edi Sutrisno]


Leave a Reply