Inilah Daerah Bebas Malaria di Papua

(Inilah Daerah Bebas Malaria di Papua)

Jayapura, Papua hingga saat ini dikenal sebagai daerah endemik malaria. Keberadaan malaria ini menjadi salah satu pertimbangan traveler yang berencana berkunjung ke Papua. Malaria sangat mudah dijumpai di pesisir hingga dataran rendah Papua, namun jangan salah, terdapat satu wilayah di Papua yang tidak terdapat malaria.

Nyamuk malaria sangat sulit dijumpai di Pegunungan Arfak, Papua Barat. Pegunungan Arfak terletak pada ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut, bersuhu dingin, pagi hari bisa mencapai lima derajat celcius serta sering berkabut.

Namun jika ada penduduk yang mengidap malaria, itu dapat dipastikan bukan terkena di Pegunungan Arfak, tetapi penyakit bawaan saat ia pulang dari Manokwari.

Status bebas malaria ini merupakan modal utama bagi pariwisata Pegunungan Arfak. Pegunungan Arfak memiliki obyek wisata alam dan budaya serta potensi paralayang.

Selama ini wisata di Pegunungan Arfak lebih dikenal dengan ekowisata, traveler dapat trekking menyusuri hutan untuk menyaksikan burung cenderawasih Belah Rotan (Cicinnurus magnificus), Parotia Arfak (Parotia Sefilata), Namdur Polos (Amblyornis inornatus), dan Paruh Sabit Kuriruri (Epimachus fastuosus), kupu-kupu sayap burung (Ornithoptera sp) dan pohon pisang terbesar di dunia (Musa ingens). Pisang endemik Papua ini memiliki tinggi 10 – 25 meter.

Selain itu traveler juga dapat menyaksikan Danau Anggi Giji dan Danau Anggi Gida dengan panorama yang indah. Danau Anggi Giji terletak di Distrik Anggi, dikenal juga sebagai danau laki-laki. Sedangkan Danau Anggi Gida di Distrik Anggi Gida, biasa disebut sebagai danau perempuan. Letak dua danau ini bersebelahan dan hanya dipisahkan oleh perbukitan. Ada juga obyek wisata Pasir Putih di Danau Anggi Gida.

Wisata budaya yang disaksikan oleh traveler yaitu rumah kaki seribu dan tari tumbuk tanah. Rumah kaki seribu merupakan rumah tradisional Suku Arfak  yang berbahan kayu-kayu lokal di Pegunungan Arfak.

Transportasi menuju Pegunungan Arfak hanya dapat diakses dengan pesawat perintis atau mobil penggerak empat roda serta sepeda motor yang sudah dimodifikasi dengan ban berjenis trail.

[Nabire.Net/Hari Suroto]



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *