Septer Manufandu, Direktur LSM Jerat di Jayapura mengatakan, sangat penting untuk dilakukan kembali negosiasi ulang antara PT Freeport dengan pemerintah Indonesia menyangkut operasi tambang raksasa itu.
“Freeport adalah simbol dari perampasan dan kekerasan, sejak berdiri, tudingan dan kecaman terhadapnya selalu saja terjadi,” kata Septer kemarin di Jayapura.
Menurut dia, dari kegiatan Freeport selama ini, terbukti perusahaan itu telah merusak lingkungan amat besar.
Setiap hari operasi penambangan Freeport membuang 230.000 ton limbah batu ke sungai Aghawagon dan sungai-sungai disekitarnya. Pengeringan batuan asam — atau pembuangan air yang mengandung asam — sebanyak 360.000 – 510.000 ton per hari juga telah merusak dua lembah yang meliputi 4 mil (6,5Km) hingga kedalaman 300 meter. Cadangan Grasberg sebegitu besarnya hingga eksplorasinya akan menghasilkan 6 milyar ton limbah industri.
“Dari dulu rakyat selalu menuntut pembagian keuntungan yang lebih adil, mulai dari demo sampai gugatan ke pengadilan, tapi itu tidak mempengaruhi Freeport,” ujarnya.
Ia mengatakan, Gubernur Papua Lukas Enembe mempunyai PR besar menyelesaikan masalah Freeport dengan pemilik hak ulayat, begitu juga Freeport dengan pemerintah Papua. “Ya harus ada renegosiasi dan deevaluasi, kita berharap setelah itu dilakukan, ada perubahan dari masyarakat di sekitar tambang itu,” katanya.
PT Freeport Indonesia telah beroperasi di Papua lebih dari 40 tahun. Perusahaan ini merupakan afiliasi dari Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc.. PT Freeport menambang, memproses dan melakukan eksplorasi terhadap bijih yang mengandung tembaga, emas, dan perak.
Diperkirakan cadangan bahan tambang yang digali perusahaan Amerika itu sebesar 2,52 Miliar ton bijih yang terdiri dari 0,97% Tembaga, 0,83 gram/ton emas, dan 4,13 gram/ton perak.
Leave a Reply