News & Info
Home » Blog » Berbaurnya Warga Papua & Pendatang Di Koya

Berbaurnya Warga Papua & Pendatang Di Koya

(Ibu-ibu warga asli Papua maupun warga asal Jawa berbaur di halaman Kelurahan Koya Barat / foto: Tribunnews.com/Agung Budi Santoso)

Lanjut Sopia saya  dari kecil sampai berumah tangga tinggal di kawasan Koya Barat yang mayoritas pendatang dari Jawa. Ia bersuami transmigran asal Purwokerto, Jawa Tengah.

“Sak bendino ngomonge karo bojoku boso Jowo, yo isone boso Jowo (tiap hari ngobrolnya bahasa Jawa dengan suami, ya bisanya Bahasa Jawa),” kata Sopia.

Manusia dan kebudayaan adalah dua hal yang saling berkaitan. Manusia dengan kemampuan akalnya membentuk budaya, dan budaya dengan nilai-nilainya menjadi landasan moral dalam kehidupan manusia.

Seseorang yang berperilaku sesuai nilai-nilai budaya, khususnya nilai etika dan moral, akan disebut sebagai manusia yang berbudaya. Selanjutnya, perkembangan diri manusia juga tidak dapat lepas dari nilai­nilai budaya yang berlaku,namun tetapi di papua ada beberapa suku punah kebudayaan seperti bahasa daerah ,bertani dan bangak hal.dan masyarakat papua cepat terpengaruh dengan budaya luar.

Sementara Sunarsih (35), transmigran asal Ponorogo, Jawa Timur, juga tak bisa berbahasa lokal Papua meski sudah tinggal bertahun-tahun di Koya Barat. “Susah belajar bahasa Papua. Lain suku saja sudah beda bahasanya,” kata Sunarsih.

Meski terjadi pembauran antara Jawa dan penduduk asli Papua, tidak tampak ada kesenjangan. Justru sebaliknya mereka amat kompak, termasuk dalam menghadapi risiko bencana khususnya ancaman banjir.

Puluhan warga setempat bergabung dengan LSM Oxfam membentuk Tim Siaga Bencana Kelurahan (TSBK). Mereka mendapat pelatihan mengevakuasi korban yang terjebak banjir, menolong korban reruntuhan, membangun tenda darurat, menyiapkan logistik secara cepat.

“Kami memang digembleng oleh Oxfam untuk selalu siaga bencana. Meminimalkan risikonya, ” kata Lurah Koya Barat, Reuter Sabarofex.

Beberapa kali dilanda banjir besar membuat desa ini siaga bencana. Terakhir terjadi pada 2011 silam.
“Satu RW tenggelam,” kisah Surono, Ketua TSBK Koya Barat.

Koya Barat berisiko dilanda banjir karena posisinya di dataran rendah dan dikelilingi perbukitan dan sungai-sungai.
“Kami sering dapat kiriman air dari wilayah sekitar yang lebih tinggi,” tutur Reuter, Lurah Koya Barat yang berdarah blasteran Papua dan Sulawesi Tenggara itu.

Jebolnya tanggul pada Desember 2012 dan awal 2013 lalu membuat desa ini waspada.

“Jadi begitu ada bencana, desa ini sudah punya tim-tim tanggap darurat yang bergerak cepat mengevakuasi korban,” kata Martin, seorang kader TSBK.

Bencana membuat warga desa ini justru makin tangguh!

(Thinus Utama)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.