Benny Wenda dan Filep Karma Layak Dapat Nobel Perdamaian
Sebuah laporan berasal dari situs luar negeri secara mengejutkan merilis kabar munculnya dua nominator penerima Nobel Perdamaian 2013 asal Papua. Keduanya adalah Benny Wenda dan Filep Karma. Laporan yang belum diverifikasi itu dimuat www.bennywenda.org dan www.freewestpapua.org pada tanggal 8 Oktober 2013 dengan judul ‘West Papuan leaders nominated for Nobel Peace Prize 2013’. Laporan ini memberi nilai tersendiri bagi ‘pejuang’ Papua yang menyerahkan hidupnya bagi pekerjaan kemanusiaan.
“Bagi saya, ini sesuatu yang luar biasa, kita bukan melihat apakah mereka dari Papua atau apakah latar belakang mereka, tapi ketika mereka sudah berkomitmen untuk mengerjakan aktivitas kemanusiaan dan perdamaian, mereka layak memperolehnya,” kata Sekjen Presidium Dewan Papua (PDP) Thaha Alhamid kepada SULUH PAPUA, kemarin.
Masuknya Benny Wenda dan Filep Karma sebagai nominator dari ratusan lainnya, awalnya dikirim oleh anggota Departemen Politik di University of Reading, Inggris pada bulan Januari 2013 kepada Komite Nobel. Keduanya dinominasikan setelah pekerjaan seumur hidup mereka berjuang untuk perdamaian, kebebasan dan keadilan bagi Papua Barat. Pemenang Nobel ini akan diumumkan Jumat hari ini, 11 Oktober 2013.
The Nobel Peace Prize merupakan penghargaan paling terkenal di dunia yang diberikan oleh Komite Nobel. Penghargaan ini adalah satu dari lima Penghargaan Nobel yang diadakan atas permintaan penemunya, Alfred Nobel.
Sepanjang dua dekade, beberapa tokoh telah meraih penghargaan tersebut. Diantaranya Uskup Agung Desmond Tutu, Jose Ramos Horta, Nelson Mandela dan Aung San Suu Kyi. “Kalau ini memang benar, tentu kita harus berbangga, bagi saya, setiap karya manusia itu patut dihargai, tidak melihat apa profesi dan materinya, tapi paling mendasar adalah, ketika seseorang bisa berbuat baik bagi perdamaian dunia, ia layak menerima perhargaan Nobel,” kata Thaha.
Menurut dia, Papua tidak hanya diisi dengan berbagai peristiwa kekerasan dan kerusuhan. Namun dibalik itu, ada pula kejadian baik yang perlu dilihat. “Dan ketika ada orang yang mau berbicara untuk perdamaian di Papua, itu harus dihargai. Saya memberi ucapan selamat kepada keduanya jika benar nantinya lolos dan menerima Nobel,” ujarnya.
Dalam situsnya, Benny Wenda berharap dukungan dari warga Papua atas masuk dirinya sebagai nominator. “(Kami) berdoa dan (meminta) bantuan untuk menyebarkan berita tentang nominasi ini,” tulisnya. “Kami ingin mengambil kesempatan ini untuk berterima kasih kepada semua orang Papua Barat yang dengan bantuan Anda, akhirnya (Papua) akan bisa hidup dalam kebebasan.”
Ditempat terpisah, akademisi Universitas Cenderawasih, juga pengamat hukum dan politik Internasional, Marinus Yaung mengatakan usaha luar negeri untuk memasukan Benny Wenda dan Filep Karma sebagai nominator penerima Nobel Perdamaian, hanyalah bagian dari politik pencitraan gerakan Papua. “Agar Papua mendapat perhatian dan dukungan internasional, saya kira, setelah usaha ini, nanti aka nada banyak lagi metode yang dipakai untuk mengenalkan Papua di luar negeri,” katanya.
Ia berpendapat, sebagai nominator (jika benar), keduanya sah-sah saja diusulkan. Namun persoalannya bukan pada apakah menerima Nobel atau tidak, tapi lebih terkait usaha menarik perhatian luar negeri bahwa ada ‘sesuatu’ di Papua yang patut segera dituntaskan. “Gerakan di luar negeri akan semakin besar, lihat saja kemarin Perdana Menteri Vanuatu berbicara di hadapan sidang PBB dan meminta harus ada peninjauan khusus ke Papua, ini menandakan usaha untuk mengubah status Papua di PBB tak bisa dibendung,” paparnya.
Baginya, Komite Nobel memiliki standar menetapkan seseorang sebagai nominator. “Ada aturan, tidak serta merta ketika dia seorang tokoh sehingga berhak menerima, tapi bagi saya, dengan masuknya Benny Wenda maupun Filep Karma, jika benar, itu wajar-wajar saja,” katanya. (JR/R4/Lo-01)
Sekilas Benny Wenda
Benny Wenda lahir di daerah Pegunungan Tengah Papua. Setelah teror dan kekerasan yang dialaminya, Ia kemudian melarikan diri dan mencari suaka di Inggris. Pada tahun 2004, Benny Wenda mendirikan Free West Papua Campaign. Melalui inisiatif dan kepemimpinannya, kampanye Papua telah berkembang dari sebuah kelompok kecil sukarelawan menjadi jaringan besar intenasional.
Benny juga meluncurkan Parlemen Internasional untuk Papua Barat di Westminster Abbey pada tahun 2008. Pendirian ini kemudian diikuti dengan peristiwa gerakan Benny di Parlemen Eropa, Parlemen Skotlandia, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru dan Papua Nugini. Benny telah berbicara di beberapa universitas terkemuka di dunia dan telah berkeliling mengkampanyekan perdamaian bagi Papua.
Sekilas Filep Karma
Filep Karma adalah aktivis politik terkemuka Papua, juga mantan PNS yang sedang menjalani hukuman 15 tahun penjara karena mengibarkan bendera dilarang dalam kampanye politik 2004. Karena tindakannya itu, ia dituduh melakukan pengkhianatan terhadap negara dan dihukum. Amnesty International dan Human Rights Watch telah melayangkan protes atas penahanannya kepada pemerintah Indonesia.
(Sumber : Suluhpapua.com)






Maniambo Manandai
Good luck
Mr Beny Wenda
samuel wamaer
PujiTuhan semoga Mr.Beny wendan dan Mr.Filep Karma benar2 terpilih sebagai pemenang Hadia Nobel sehingga perjuangan tentang keadilan hidup anak bangsa papua bisa dapat di tegakkan di atas bumi.