INFO NABIRE INFO PAPUA TENGAH
Home » Blog » Papua Tengah Dikepung Asap, 774 Hotspot Terdeteksi dalam Enam Hari

Papua Tengah Dikepung Asap, 774 Hotspot Terdeteksi dalam Enam Hari

(Papua Tengah Dikepung Asap, 774 Hotspot Terdeteksi dalam Enam Hari)
(Papua Tengah Dikepung Asap, 774 Hotspot Terdeteksi dalam Enam Hari)

Nabire, Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua Tengah kembali menjadi perhatian. Kondisi kering akibat pengaruh El Nino, tingginya jumlah titik panas, serta pola angin di lapisan atmosfer 3.000 feet membuat asap berpotensi bergerak dari wilayah selatan hingga tenggara Nabire menuju kawasan pesisir, termasuk Kabupaten Nabire.

Berdasarkan rekapitulasi hotspot Papua Tengah periode 1–6 Oktober 2026, tercatat 774 titik hotspot. Dari jumlah tersebut, 642 titik berada pada tingkat kepercayaan sedang, 71 titik kepercayaan tinggi, dan 61 titik kepercayaan rendah.

Sementara itu, laporan resmi Stasiun Meteorologi Douw Aturure Nabire untuk periode 6 Oktober 2026 pukul 02.00 WIT hingga 7 Oktober 2026 pukul 02.00 WIT mencatat 281 hotspot di Papua Tengah. Rinciannya terdiri dari 15 titik dengan tingkat kepercayaan rendah, 220 sedang dan 46 tinggi.

Sebaran hotspot tersebut tidak hanya berada di sekitar Nabire, tetapi juga terkonsentrasi di sejumlah wilayah pegunungan Papua Tengah.

Kabupaten Dogiyai mencatat 90 hotspot, disusul Intan Jaya 65 titik, Nabire 59 titik, Puncak Jaya 34 titik, Puncak 28 titik, Deiyai 4 titik, Paniai 1 titik, sedangkan Mimika tidak mencatat hotspot pada periode pemantauan tersebut.

Angin Lapisan 3.000 Kaki Bawa Asap ke Nabire

Forecaster BMKG Nabire, Dhani Wiyai, menjelaskan kepada Nabire.Net, Rabu (7/10), bahwa pola angin pada lapisan sekitar 3.000 kaki perlu menjadi perhatian dalam membaca pergerakan asap.

Menurut Dhani, angin bergerak dari arah tenggara hingga selatan Nabire, yang mencakup kawasan Dogiyai, Deiyai dan Paniai, menuju ke arah Nabire.

Kondisi tersebut membuat asap dari wilayah pegunungan berpotensi terbawa menuju Nabire.

“Pada lapisan 3.000 feet, angin dari arah tenggara-selatan Nabire, yaitu wilayah Dogiyai, Deiyai dan Paniai, bergerak menuju Nabire,” demikian penjelasan Dhani kepada Nabire.Net.

Selain wilayah tersebut, pergerakan asap juga dapat dipengaruhi kondisi angin dari wilayah Papua Tengah lainnya, Papua Selatan, Papua Barat, hingga Papua Barat Daya.

Situasi ini menjelaskan mengapa persoalan kebakaran di wilayah pegunungan dapat memberikan dampak langsung terhadap kualitas udara di wilayah Nabire.

Deiyai Diselimuti Asap Tebal, Warga Diingatkan Waspadai ISPA

Kondisi tersebut terlihat nyata di Deiyai.

Nabire.Net pada 6 Oktober melaporkan asap tebal menyelimuti Waghete dan sejumlah wilayah Kabupaten Deiyai dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini mendapat perhatian Dinas Kesehatan Kabupaten Deiyai karena paparan asap dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Deiyai, Fransina Rumbiak Mote, meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah ketika asap cukup pekat. Warga yang harus keluar rumah dianjurkan menggunakan masker dengan benar, memperbanyak minum air putih dan menjaga kondisi tubuh.

Kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lanjut usia serta masyarakat yang memiliki asma atau penyakit pernapasan diminta mendapatkan perhatian lebih.

Warga juga diminta segera mendatangi Puskesmas atau fasilitas kesehatan apabila mengalami batuk, pilek, sakit tenggorokan, mata perih, sakit kepala hingga sesak napas.

Sebagai respons, Dinas Kesehatan Deiyai berkoordinasi dengan Puskesmas untuk menyiapkan pembagian masker serta pelayanan pemeriksaan dan pengobatan ISPA bagi masyarakat terdampak, khususnya di wilayah Waghete.

Paniai Masuk Jalur Pergerakan Asap

Sementara itu, Paniai juga menjadi bagian penting dalam peta pergerakan asap menuju Nabire.

Dalam laporan BMKG terbaru, Paniai memang hanya mencatat satu hotspot pada periode 6–7 Oktober. Namun secara geografis, wilayah Paniai berada di jalur tenggara-selatan Nabire yang menurut penjelasan BMKG menjadi arah datangnya angin menuju Nabire.

Pemberitaan Nabire.Net mengenai Paniai pada 7 Oktober juga menyoroti pentingnya sinergi pemerintah daerah, TNI dan Polri. Dalam kegiatan HUT TNI di Enarotali, hadir Bupati Paniai Yampit Nawipa, Wakil Bupati Ham Yogi, Kapolres Paniai AKBP Roycke H.F. Betaubun serta Dandim 1703/Deiyai Letkol Inf. M. Habli Aufa.

Nabire.Net mencatat bahwa kolaborasi pemerintah daerah, TNI, Polri dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menghadapi berbagai persoalan di wilayah Paniai. Semangat sinergi tersebut relevan dalam menghadapi kondisi asap dan dampaknya terhadap masyarakat.

Dengan demikian, penanganan asap di kawasan Meepago tidak dapat dilihat hanya sebagai persoalan satu kabupaten. Pemda, TNI, Polri, tenaga kesehatan dan masyarakat perlu bergerak bersama, terutama ketika kondisi cuaca kering membuat asap lebih mudah bertahan dan terbawa angin ke wilayah lain.

281 Hotspot, Risiko Asap Masih Tinggi, Penerbangan Terganggu

BMKG mencatat fenomena El Niño masih sangat kuat, dengan SOI -20,5 dan indeks Nino 3.4 mencapai +2,72. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap berkurangnya curah hujan di sebagian wilayah Papua Tengah dan meningkatkan risiko kebakaran lahan.

BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara terbuka. Jika menemukan api atau asap, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada pihak berwenang.

Di Nabire sendiri, dampak asap kini sudah dirasakan hingga sektor transportasi udara. Jarak pandang di Bandara Douw Aturure pada pagi 7 Oktober dilaporkan hanya sekitar 700 meter, jauh di bawah kondisi ideal sekitar 5 kilometer. Sejumlah penerbangan sebelumnya juga terdampak akibat asap.

Dengan kondisi angin yang membawa asap dari kawasan selatan-tenggara menuju Nabire, penanganan kebakaran di Dogiyai, Deiyai dan Paniai menjadi penting bukan hanya bagi masyarakat di wilayah tersebut, tetapi juga bagi Nabire dan daerah lain yang berada di jalur pergerakan asap.

[Nabire.Net]

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.