INFO NABIRE
Home » Blog » 700 Ekor Babi Di Nabire Positif Terkena Virus Hog Cholera

700 Ekor Babi Di Nabire Positif Terkena Virus Hog Cholera

1

Sebanyak 700 ekor babi di Kabupaten Nabire, Papua, dinyatakan positif terkena virus hog cholera. Diduga virus penyebab penyakit yang biasa disebut sampar babi ini berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan, dan Manado, Sulawesi Utara.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Papua, Petrus Pasereng, di kantor Otonom Kotaraja, Jayapura, Senin (16/2), mengatakan hog cholera terdata di beberapa titik di kawasan Meepago yang meliputi Kabupaten Nabire, Paniai, Dogiyai, dan Deiyai. “Ini tentunya sangat meresahkan masyarakat tidak hanya di Nabire, tetapi di Papua. Itu karena virus ini bisa menyebar,” kata Pasereng.

Virus hog cholera atau sampar babi merupakan penyakit serius pada ternak babi. Penyakit bersifat akut ini ditandai dengan kematian secara tiba-tiba dan penularan dan kematian yang tinggi. Itu karena penyakit ini menyerang alat pencernaan dan pernapasan.

Penyakit ini mudah berpindah melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Buruknya sanitasi serta kebersihan turut mempermudah ternak babi terserang virus ini. Selain itu, virus dapat menular melalui makanan atau pakan, air minum, alat-alat yang tercemar virus, dan juga melalui serangga atau ternak-ternak lain.

Oleh karena itu, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Papua dan Kabupaten Nabire telah mengisolasi Kabupaten Nabire selama enam hingga delapan bulan ke depan. Ini dilakukan melalui Instruksi Bupati Kabupaten Nabire yang melarang pengiriman hewan ternak, baik dari dalam maupun luar wilayah tersebut.

Menurut Pasereng, penyakit sampar pada babi datang karena ada dugaan pengiriman daging babi dari luar Nabire. “Dicurigai virus ini penularannya datang dari Makassar dan Manado, melalui daging babi mentah lewat pelabuhan laut di Samabusa, Nabire, yang memang tidak ada balai karantinanya,” ucapnya.

Dia berpendapat, seharusnya Nabire sudah punya kantor karantina hewan sendiri. “Tidak perlu gabung dengan Kabupaten Biak agar karantina hewan di Nabire dapat fokus menangani pengawasan hewan di Kabupaten Nabire,” ujarnya.

Cholera babi menyerang babi tanpa pandang usia. Tanda-tanda luar pertama penyakit tersebut adalah babi tidak aktif atau lamban dan kehilangan nafsu makan, disertai suhu tubuh ternak meningkat. Ternak juga mengalami radang mata disertai air mata yang mengalir deras—terlihat lebih jelas pada babi putih dibanding babi hitam—sehingga kelopak mata merapat. Babi juga mengalami gangguan buang air sehingga kotorannya berbentuk pelet.

Pihak Dinas Perternakan Papua akan terus mengawasi kesehatan hewan di provinsi tersebut agar tidak menyebar pada hewan ternak lain. Pasereng juga mengimbau para peternak babi di Papua agar selalu menjaga kebersihan kandang dan memberikan pakan yang baik dan sehat serta tidak memberikan makanan basi.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.