Akibat pemalangan SD inpres Kalibobo Nabire oleh sekelompok warga yang menamakan dirinya anak adat, ratusan siswa/i Sekolah Dasar SD Inpres Kalibobo Nabire terpaksa sempat melakukan kegiatan belajar ditengah jalan, hal ini dikarenakan sekolah tempat mereka belajar sempat dipalang. Namun saat ini palang tersebut sudah dibuka atas mediasi antara pemalang sekolah, pihak sekolah SD Inores Kalibobo, Dinas Pendidikan Nabire, pemerintah daerah Nabire dan Polres Nabire.
Saat gedung sekolah mash dipalang, para murid terpaksa mengeluarkan meja dan kursi lalu ditaruh di tengah jalan depan SD Inpres Kalibobo. Mereka pun belajar tidak peduli ruang kelas mereka tidak bisa dipergunakan. Arus lalu lintas dari Bumi Wonorejo ke Kalibobo maupun dari Kotalama ke Kalibobo terpaksa ditutup untuk sementara selama para murid tersebut belajar di tengah jalan.
Ditengah terik matahari dan suara lalu lalang kendaraan, para murid tetap bersungguh-sungguh menerima pelajaran dari para guru SD Inpres Kalibobo.
Akhirnya setelah diadakan negosiasi antara antara pemalang sekolah, pihak sekolah SD Inores Kalibobo, Dinas Pendidikan Nabire, pemerintah daerah Nabire dan Polres Nabire. palang yang dipasang kembali dibuka, dan para siswa/i SD Inpres Kalibobo bisa kembali beraktifitas dalam proses belajar.
Sebelumnya diberitakan, warga yang menamakan dirinya anak adat melakukan pemalangan terhadap SD Inpres Kalibobo. Tokoh adat sekaligus kepala suku besar suku Yerisiam Nabire, S.P Hanebora, yang mendatangi lokasi pemalangan tersebut, mengaku ikut bertanggung jawab dan menjelaskan pihaknya yang sebenarnya memiliki tanah tersebut.
“Tanah ini sebenarnya punya ibu angkat saya, Wermince Rumawi. Tanah ini kami duduki dari penebangan hutan hingga akhirnya ditempati oleh sanak keluarga kami, yakni Rumawi, Inggeruhi, Yamban dan Andoi. Ya, kami minta pemerintah bisa melihat ini dan segera selesaikan secara arif dan bijaksana,” kata Hanibora.
Leave a Reply