INFO PAPUA
Home » Blog » “Selama 35 Tahun Suku Migani & Wolani Tersisihkan Di Paniai”

“Selama 35 Tahun Suku Migani & Wolani Tersisihkan Di Paniai”

Paniai – Kabupaten Paniai adalah salah satu kabupaten di wilayah pegunungan tengah provinsi Papua yang terdiri dari 23 Distrik. Warga asli kabupaten Paniai sendiri terdiri dari 3 suku yakni suku Mee, Migani dan Wolani.

Khusus untuk suku Migani dan Wolani, keduanya mendiami 5 Distrik yang ada di Paniai yaitu Distrik Bibida, Duma, Dama, Youtadi, dan Bayabiru.

Secara garis besar, di kabupaten Paniai ada 2 suku besar yaitu Suku Mee dan Migani. Tuhan menempatkan keduanya untuk hidup di Paniai. Dibanding wilayah tetangga, warga Paniai memiliki latar belakang yang berkualitas, profesional, dan cakap dalam kemajuan di berbagai bidang seperti birokrasi pemerintah, politik, ekonomi dan lain sebagainya.

Namun setelah pemekaran kabupaten Paniai dengan ibukota kabupaten di Enarotali, Suku Migani bersama Suku Wolani seperti disisihkan oleh pemerintah dalam segala hal, selama 35 tahun. Alasan apa yang disembunyikan oleh pemerintah kabupaten Paniai terhadap kedua suku tersebut selama 35 tahun ?

Kami sebagai kaum intelektual dari Suku Migani dan Suku Wolani asal 5 Distrik di Paniai, sangat menyesal ketika kami disisihkan dalam segala hal yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten Paniai terhadap kami.

Hal tersebut juga terlihat di beberapa daerah tetangga seperti Puncak, Intan Jaya, Deiyai, Dogiyai, Nabire bahkan Timika.

Bahkan mereka menyebut kami bukan sebagai suku Migani tapi dengan bahasa ibu yakni Komapani atau Paniai Isani (asal Paniai).

Selama 35 tahun kami sangat menyesali hal ini, karena selama ini kami juga ikut membangun Paniai. Konsep pembangunan tidak hanya konsep satu orang saja, tapi konsep bersama-sama khususnya suku Mee dan Migani yang ada di Paniai.

Kami juga merasa kurang diperhatikan dalam hal kesempatan untuk duduk di birokrasi pemerintahan, legislatif, dan lain sebagainya. Dan hal itu sudah biasa bagi kami Suku Migani dan Wolani.

Oleh karena itu pemerintah kabupaten Paniai harus menghapus budaya sukuisme, margaisme dan egoisme terhadap suku tertentu saja, tapi pemerintah kabupaten Paniai harus merangkul semua suku yang ada di Paniai untuk terlibat dalam pembangunan.

Jika tidak maka walaupun sampai 100 tahun kedepan, Paniai tidak pernah akan bisa berubah, karena pemerintah kabupaten Paniai selalu menyangkal keberadaan kami Suku Migani dan Wolani yang tinggal bertahun-tahun lamanya di Paniai.

Penulis adalah Zonggonau P, Tokoh Intelektual dan Mahasiswa Suku Migani & Suku Wolani, Paniai

[Nabire.Net]



Post Related

Leave a Reply

  • Ayub adii
    4 March, 2019 21:00 at 21:00

    Selama ini memang roda pemerintahan di kabupaten paniai buruk dan pengkaderan orang pun berdasarkan marga dan keluarga
    muda mudahan dgn terpilihnya bupati baru dapat bekerja tanpa memandang perbedaan marga dan suku

Your email address will not be published.