Sejumlah Mahasiswa USWIM Nabire Kecam Tindakan Represif Polisi
Bentrokan yang terjadi kamis sore (19/10) antara mahasiswa Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire dengan aparat kepolisian membuat sejumlah mahasiswa geram dan sebagian lainnya ketakutan dengan tindakan kepolisian.
Seperti diketahui, bentrokan yang terjadi diakibatkan kasus lakalantas yang melibatkan pengendara ojek dengan salah seorang mahasiswa USWIM Nabire atas nama Feliks Pekei. Namun kasus tersebut berujung bentrok karena melibatkan anggota kepolisian.
Sejumlah mahasiswa USWIM yang ditanyakan oleh Nabire.Net, menyayangkan kejadian masuknya aparat kepolisian ke kampus dan membuat bentrokan terjadi.
Riska salah satu mahasiswa USWIM Nabire yang pada saat kejadian, sedang mengikuti mata kuliah, kaget ketika sejumlah polisi masuk dan membentak Dosen, lalu melakukan pemukulan terhadap Feliks Pekei.
Menurutnya, walaupun yang salah mahasiswanya, tapi pihak Kepolisian seharusnya bisa menunggu hingga jam kuliah selesai baru memproses kasus tersebut, bukan pada saat jam kuliah sedang berlangsung.
Hal senada dikatakan Tria, dikatakan, tindakan polisi seperti itu tidak bisa dibenarkan. Tria yang ruang kuliahnya berdekatan dengan ruang kuliah tempat kejadian ricuh terjadi, mengaku kaget.
“Saya tidak tahu persoalannya apa, tapi yang bikin semua mahasiswa geram yaitu kenapa bikin rusuh di kampus, kalau ada masalah jangan langsung keroyok di kampus, kan bisa bawa yang punya masalah ke kantor polisi lalu selesaikan disana, kenapa langsung dipukul didalam kampus”, tutur Tria.
Menyingkapi hal tersebut, mahasiswa USWIM lain, Okto, mengatakan, tindakan kepolisian yang masuk kedalam kampus USWIM dianggap sebagai tindakan emosional dan bukan profesional.
“Alasan masuk mencari oknum mahasiswa yang melanggar hukum atau melakukan kekerasan terhadap aparat harus ditempuh dengan proses hukum, bukan dengan memasuki areal kampus, merusak, memukul, menangkap sewenang-wenang”.
Menurut Okto, tindakan oleh aparat itu tidak bisa dibenarkan, jika ingin menindak aksi mahasiswa yang melawan hukum, reaksi polisi harus memakai metode dialogis, minta bantu rektorat, karena polisi adalah community justice, bukan alat represif security.
Namun persoalan bentrok antara pihak kepolisian dengan mahasiswa USWIM, sudah diselesaikan secara kekeluargaan oleh Kapolres Nabire dengan Plh. Rektor USWIM Nabire, kamis malam.
[Nabire.Net]



Leave a Reply