Sebanyak 140 Orang Petani Kopi Di Dogiyai Mengikuti Pelatihan Pengolahan Kopi Arabika
Sebanyak 140 orang petani Kopi Arabika yang mewakili 72 kampung dan 10 Distrik di Kabupaten Dogiyai siap berproses menjadi Petani teladan ditingkat kampung, setelah mengikuti Pembinaan Kemampuan Teknologi Industri Pengolahan Kopi (Pelatihan Petani Kader Budidaya Dan Penanganan Pasca Panen Kopi Arabika) Kabupaten Dogiyai yang diselenggarakan di Moanemani dan Mapia, yang dibuka senin 20 November 2017 dan akan dilaksanakan hingga 24 November 2017.
Pelatihan tersebut diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Dogiyai berkolaborasi dengan beberapa elemen seperti SCOUPI, POKJA PAPUA dan Yayasan YAPKEMA PAPUA.

Ke 140 orang petani tersebut terdiri dari 90 petani perempuan dan 50 petani laki-laki yang terbagi dalam 2 kelas yaitu kelas Kamuu dan kelas Mapia. Mereka semua adalah petani yang memiliki kebun kopi dengan jumlah pohon 200-1700 pohon kopi.
Pelatihan ini menyajikan materi teori dan praktek langsung di kebun kopi. Pembekalan materi meliputi 2 pengetahuan utama terkait perawatan tanaman kopi dan pengolahan kopi Arabika pasca panen. Kedua materi tersebut adalah pengetahuan yang relatif baru bagi para petani kopi arabika Dogiyai, sekalipun mereka telah memiliki kebun kopi setidaknya berusia 30-40 tahun.

Pelatihan ini adalah yang kedua dilaksanakan, setelah sebelumnya telah digelar pelatihan kepada 10 orang petani kader, yang telah menjadi Petani Kader Kopi Arabika, mewakili Distrik-distrik di Kabupaten Dogiyai, sekaligus menjadi pelatih dan contoh bagi pengembangan kopi arabika saat ini di masing-masing distrik di Dogiyai.
Dalam Pelatihan ini Dinas Perindag bersama mitranya yaitu SCOUPI menurunkan tiga orang master trainer pengembangan kopi Arabica hasil pelatihan kurikulum Nasional Tahun 2016 dan Tahun 2017 yang mendampingi para petani pada acara tersebut. Masing-masing menyampaikan Materi Perawatan dan Pemupukan disampaikan oleh Frans Pigai, Pemilihan Biji dan pemetikan oleh Hanok Yerison Pigai serta Pengolahan Biji Pasca Panen Kopi Arabida oleh Firman.

Dalam Laporan Panitia yang disampaikan oleh Andrias Gobai, S.Sos MA, dikatakan, pelatihan ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan nota kesepahaman antara Pemerintah Kabupaten Dogiyai dan Sustanaible Coffee Platfromn of Indonesia (SCOUPI) pada tanggal 24 Agustus 2017 lalu . Sebelum Pelatihan ini terselenggara, SCOUPI juga telah memperjuangkan beberapa agenda kegiatan berskala Nasional yang melibatkan langsung perwakilan dari Dogiyai diantaranya Kabupaten Dogiyai telah memiliki Master Trainer atau pelatih utama Nasional kurikulum kopi arabika.
Pada Kesempatan pembukaan acara pelatihan petani kader, Perwakilan SCOUPI yang dihadiri oleh Ibu Cahaya dalam sambutannya ikut menekankan bahwa SCOUPI dan Pemerintah Daerah Kabupaten Dogiyai bersama mitra lainnya berkomitmen dan berkolaborasi bersama untuk mewujudkan implementasi dari kesepakatan kerjasama agar beberapa waktu kedepan dapat melihat hasilnya.

Acara Pembukaan pelatihan Pembinaan Kemampuan Teknologi Industri Pengolahan Kopi (Pelatihan Petani Kader Budidaya dan Penanganan Pasca Panen Kopi Arabika) Kabupaten Dogiyai dibuka oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Dogiyai Natalis Degei, S.Sos.
Dalam Sambutan, Sekda menceritakan satu dekade petani kopi Kamuu – Mapia meninggalkan lahan kebunnya. Para petani tidak lagi menanam dan merawat tanaman kopi. Hal ini karena kopi tidak cukup memberikan masukan atau pendapatan ekonomi untuk keluarganya. Ini salah satu sebab petani kopi lebih memilih kerja sebagai petani kacang tanah, beternak, ataupun buruh bangunan dari pada menjadi petani kopi.
Kopi Kamu – Mapia yang berjaya selama beberapa dekade mengalami kemerosotan, perkebunan kopi yang sempat terkenal dibawah bimbingan dan usaha para misionaris mengalami masa redup. Para petani kita juga mulai meninggalkan kebunnya. Petani yang setia merawat kebunnya menyusut, diantaranya mereka lebih memilih buruh, tanam kacang, dan atau usaha lain untuk menghidupi perekonomian keluarganya.

Selain itu, salah satu faktor menurunya perkebunan kopi di Dogiyai adalah tidak adanya dukungan dari para pelaku ekonomi dan pemerintah setempat dalam pengembangan perkebunan dan pasaran hasil produksi kopi.Pemerintah daerah sebelumnya juga belum memberikan dukungan dalam akses pemasaran, maka para petani inipun menurun produktivitasnya dan meninggalkan kebun-kebun kopinya.
Hal ini yang menjadi catatan dan koreksi penting bagi pemerintah kabupaten Dogiyai saat ini, terutama BAPEDDA, Dinas Pertanian dan Perkebunan, Badan Pemberdayaan Masyarakat Kampung, Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM dalam penanganan kopi dari hilir hingga hulur.
Natalis mengharapkan Kerjasama Pemerintah Daerah Kabupaten Dogiyai dan SCOUPI harus betul-betul menemukan Platfrom yang tepat sehingga dapat memberikan semangat baru agar kejayaan Kopi Moanemani (Dogiyai) dapat terwujud kembali.

Diakhir sambutannya, Sekda Natalis Degei juga menghimbau dan mengajak para peserta pelatihan dan para petani kopi agar dapat memfokuskan pada perawatan kopi yang masih ada dan menanam kembali dalam jumlah yang besar karena pasar sudah ada dengan menawarkan harga yang dapat menguntungkan.
[Nabire.Net]



Leave a Reply