INFO NABIRE
Home » Blog » Sayang, Tarif BBM dan Ojek Naik, Mama-mama Pasar Nabire Keluhkan Beban Biaya Hidup

Sayang, Tarif BBM dan Ojek Naik, Mama-mama Pasar Nabire Keluhkan Beban Biaya Hidup

Nabire, 29 Juni 2026 – Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak pada meningkatnya tarif ojek mulai dikeluhkan mama-mama Papua yang berjualan di Pasar Karang, Kabupaten Nabire, Senin (29/6/2026). Mereka khawatir kenaikan biaya transportasi akan memicu naiknya harga kebutuhan pokok dan semakin membebani masyarakat.

Salah seorang pedagang, Dalina Migau, warga Wadio Atas, mengatakan tarif ojek dari Wadio Atas menuju Pasar Karang yang sebelumnya sekitar Rp10 ribu berpotensi naik menjadi Rp15 ribu. Kondisi tersebut membuat biaya membawa barang dagangan semakin besar.

“Kalau ongkos ojek naik dan harga barang di kios juga naik, otomatis kami mama-mama pasar juga terpaksa menaikkan harga jual. Sayur yang sebelumnya Rp5 ribu per ikat bisa menjadi Rp10 ribu hingga Rp15 ribu. Kami hanya mengikuti keadaan dan aturan pemerintah,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Martina Butu. Menurutnya, kenaikan BBM semakin mempersulit pedagang kecil yang menggantungkan penghasilan dari hasil berjualan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Kami berjuang setiap hari demi menghidupi keluarga dan membiayai anak-anak sekolah, mulai dari SD hingga perguruan tinggi. Kalau BBM naik, semuanya menjadi semakin sulit bagi kami,” katanya.

Martina berharap pemerintah dapat meninjau kembali kebijakan kenaikan BBM serta menjaga tarif angkutan tetap terjangkau agar tidak semakin membebani masyarakat kecil.

Di sisi lain, perwakilan Komunitas Ojek, Heru Keiya, mengaku para pengemudi ojek juga menghadapi situasi yang sulit. Meningkatnya harga BBM membuat biaya operasional bertambah, namun mereka merasa tidak tega menaikkan tarif kepada mama-mama pasar yang memiliki penghasilan terbatas.

“Kasihan mama-mama yang berjualan. Kadang mereka hanya membawa sedikit uang hasil jualan. Kami sering terpaksa menerima ongkos Rp5 ribu meskipun jaraknya jauh karena memahami kondisi mereka,” ungkap Heru.

Ia menjelaskan, pendapatan pengemudi ojek juga mengalami penurunan signifikan. Jika sebelumnya mampu memperoleh penghasilan sekitar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per hari, kini hanya berkisar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per hari.

Heru berharap pemerintah lebih memperhatikan kondisi masyarakat kecil, baik pengemudi ojek maupun pedagang pasar, sebelum mengambil kebijakan yang berdampak langsung terhadap biaya hidup masyarakat.

“Kami berharap pemerintah mendengar aspirasi masyarakat. Jangan sampai kebijakan yang diambil justru semakin menyulitkan rakyat kecil yang setiap hari berjuang mencari nafkah,” tutupnya.

[Nabire.Net/Sitti Hawa/Marten Dogomo]

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.