INFO PAPUA
Home » Blog » Satu lagi Penghuni Asrama Kasih Hagar Madai Jayapura Yang Meluluskan Pendidikannya

Satu lagi Penghuni Asrama Kasih Hagar Madai Jayapura Yang Meluluskan Pendidikannya

Ibu Hagar Aksamina Madai, SE, MM sebagai pendiri Asrama Kasih Hagar Jayapura kembali menuai hasil kerja kerasnya dengan diwisudanya Sipriana Tebai SE.

Sebagai perwujudan syukurnya, Ibu Hagar menyanyikan lagi Dobihoo Hokaa Umii Oawaa Ubaa-Ubaaaa. Hal itu sebagai tanda ia telah menghasilkan banyak sarja dari rumah huni Pelajar Mahasiswa dari berbagai daerah di Papua yang ditampung di Asrama Kasih Hagar Jayapura.

Sipriana Tebai SE berhasil merampungkan pendidikan ekonominya di Universitas Ottow Geisler Jayapura dan berada diantara 279 wisudawan yang melangkah tegap dengan penuh senyuman tanda raihan keberhasilan. Sipriana meluluskan pendidikan ekonominya selama 3 tahun 4 bulan dengan IPK 1.78.

Di pintu masuk ruang seremoni, telah terdengar alunan gamelan Papua.  Sebagai orang Melanesia, aku tidak begitu paham dengan makna nada yang dialunkan. Namun, irama yang mengalir, menghadirkan suasana sakral yang membuat keheningan dan kemasgulan dalam hatiku. Perlahan akupun melangkah memasuki gedung Aula Universitas Ottow Geisler Jayapura dan terus bergerak ke depan. Di sisi kiri dan kanan telah hadir ribuan tamu dan undangan. Hanya sesekali aku mencuri pandang ke penjuru lain. Tatapanku lebih terfokus pada ke depan, sampai dipersilahkan duduk oleh pemandu acara wisuda 2018.

Suasana mulai cair karena teman sebelah tempat duduk, utusan wisudawati dari fakultas Ekonomi menyapaku. Awalnya, cuma nanya dari fakultas mana dan lulus dengan megah bahagia. Setelah itu, obrolan kami mengalir bagaikan air.

Dari sisi kiri dan kanan tampak Rektor, Senat Universitas, Pengurus Keluarga Alumni Universitas Ottho dan Gesler Jayapura Papua, dan Pengurus Fakultas berjalan menuju meja yang telah disediakan. Hatiku bergemuruh. Pimpinan universitas tepat berada di depan tanpa ada penghalang, karena aku duduk di barisan terdepan. Alunan paduan suara Mahasiswa/i Ottho dan Gesler Jayapura Papua mengiringi kedatangan orang-orang penting di kampus itu. Lagu berbahasa Indonesia dengan suara sopran yang baru kali ini kudengar (sebenarnya yang kedua kali, setelah gladi resik sehari sebelumnya telah diperdengarkan juga”, ungkap Sipriana.

Acarapun berlanjut pada sesi menyanyikan Himne Universitas Ottow dan Geisler. Aku memang ngak hafal lagu tersebut. Untung sebelum prosesi dimulai, aku sudah mendengar walau tak seberapa hanya sekali irama himne yang sarat akan makna itu. Bulu romaku bergidik mendengarkan sekaligus menyanyikan himne ini. Ibarat sebuah janji yang dipatrikan sampai hayat menjemput badan. Janji setia pada almamater tercinta, dan kerelaan berkorban untuk kejayaan Papua. Masih belum hilang ektase keharuanku, MC kemudian memanggil nama-nama wakil 3 fakultas 10 prodi di UOG Jayapuara Papua.

18 orang lulusan terbaik masing-masing fakultas telah berdiri di antara sekian ribu wisudawan dan undangan yang memenuhi ruangan. Para wakil fakultas mulai bergerak menuju tangga podium. Rektor-pun telah siap-siap di tengah-tengah panggung kehormatan.

Satu persatu nama wakil fakultas kembali dipanggil untuk menerima ijazah langsung dari rektor Universitas Ottho dan Gesler, Dr, Jerri Sawai, MSP. Aku mendapat giliran keempat. Pikiranku tak tahu entah dimana saat menyalami Rektor Ottho dan Gesler, Jayapura, disaksikan ribuan pasang mata. Ah, benar-benar pengalaman yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.

Setelah wakil-wakil fakultas menerima ijazah dari Rektor, acara berlanjut pada penyerahan ijazah seluruh wisudawan oleh Dekan masing-masing fakultas. Deretan 287-an orang yang dipanggil maju ke depan satu per satu, tiada membuatku jenuh. Kadang ketawa memenuhi ruangan mendengarkan nama-nama wisudawan/wati yang kedengarannya keren dan unik. Sesekali aku menyempatkan ngobrol dengan teman di kursi sebelah kiriku. Kadang juga dengan teman sebela kananku.

Rangkaian acara berlangsung khidmat hingga ditutup dengan doa oleh Ketua senat, salah satu dosen yang menguji skripsiku 8 Januari yang lalu.

Sebelumnya, Panduan Suara Mahasiswa UOG membawa dua lagu Daerah Papua, yang membuatku tak berkedip melihat penampilan mereka. Sekitar jam 10.30 Rektor UOG menutup secara resmi upacara wisuda sarjana UOG Jayapura Papua periode 08 Oktober 2018.

Capek mondar-mandir dan foto-foto di fakultas, akupun melangkah menuju kediamanku Asrama Kasih Hagar. Masih ada rangkaian acara berikutnya yang mesti dijalani yakni prosesi pelepasan wisudawan oleh pengurus fakultas Ekonomi bisnis. Pada momen ini, aku mendapat kesempatan untuk menyampaikan pidato perpisahan mewakili teman-teman yang lain. Pidato tanpa teks yang kukarang-karang saja di pikiranku. Aplaus pun kudapatkan saat mengakhiri pidato singkat tanpa persiapan itu.

Hingga malam ini handphoneku masih berdering. Sms datang dari dosen, teman-teman SMA dan teman-teman dari Rumpun Pelajar Mahasiswa Siriwo, Mapia, Piyaiye, Wanggar (RPM SIMAPIWA) Wall facebookku-pun dibanjiri oleh ucapan selamat.

Maka ucapan syukurku pada kesempatan ini, izinkanlah aku mengucapkan terima kasih kepada teman-teman asrama mahasiswa “Papua Melanesia” yang tadi siang berpanas-panas di AKH memberikan ucapan selamat wisuda kepadaku. Kepada teman-teman RPM SIMAPITOWA yang sulit mencari seniornya ini, hingga akhirnya bersua juga di Ibada Syukuran. Buat, kakak-kakak senioritas muda di RPM yang berbakat di ilmu pegetahuan yang telah mengirimkan aku dukungan penuh semangat. Buat Sesuruh penghuni Asrama Kasih Hagar dan selurun rekan di RPM yang beberapa kali mengambil pose-ku saat tampil di acara pelepasan tadi penuh gembira. Buat seluruh teman-teman, pace-pace, mace-mace, om-om, tante-tante, uda-uda, dan uni-uni yang telah memberikan selamat wisuda kepadaku, Tuhan Yesus Memberkati.

Meskipun tanpa pendamping wisuda alias PW, aku sangat senang hari ini. Akhirnya bisa jadi sarjana UOG Jayapura Papua dan mendapat kesempatan untuk menerima ijazah langsung dari Rektor.

Buat Orang tuaku di seberang sana, nan jauh di Gunung Toubai Keboo, ingin kuucapkan salam sayang buat Orang tua. Inspirasimu, telah membuatku pantang menyerah dengan keadaan. Bayanganmu telah menggelorakan semangat untuk menembus segala hadangan. Makasi ya Ayah, Ibunda…

Buat Bapak dan Ibu, hanya ini yang bisa kupersembahkan. Aku tak tahu apakah pencapaianku ini telah membahagiakan beliau berdua. Tapi baru inilah yang bisa kulakukan. Aku berjanji, akan berusaha meraih yang lebih baik dari hari ini. Katanya .

27 Oktober 2018
Waena Jayapura papua

Penulis: Sipriana Tebai, SE. Penghuni Asrama Kasih Hagar

[Nabire.Net]


Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.