Pelaku Curanmor di Nabire Didominasi Anak Muda, Banyak Berasal dari Luar Daerah
Nabire, 16 Juli 2026 – Polres Nabire mengungkap fakta terbaru terkait kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) yang terjadi di wilayah hukumnya. Berdasarkan hasil penyelidikan dalam beberapa bulan terakhir, mayoritas pelaku yang berhasil diamankan berasal dari kelompok usia muda, yakni antara 17 tahun hingga di bawah 30 tahun. Polisi juga menemukan adanya pergeseran pola kejahatan, di mana sebagian pelaku merupakan jaringan baru yang datang dari luar Kabupaten Nabire.
Temuan tersebut disampaikan Kapolres Nabire AKBP Samuel D. Tatiratu, S.I.K. saat menggelar konferensi pers di halaman Mapolres Nabire, Rabu (15/7/2026). Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan bahwa kepolisian terus melakukan pemetaan terhadap jaringan pelaku kejahatan guna memutus mata rantai aksi curanmor yang masih terjadi di sejumlah titik di Nabire.
Dari hasil pemetaan tersebut, polisi mengidentifikasi beberapa kawasan yang paling sering menjadi sasaran pencurian kendaraan bermotor. Wilayah BMW, Kalibobo Putaran 1, Kalibobo Putaran 2, serta Siriwini masuk dalam daftar lokasi dengan tingkat kerawanan tinggi. Di antara kawasan tersebut, BMW dan Putaran 1–2 Kalibobo menjadi daerah yang mencatat angka kejadian paling banyak.
Selain memetakan titik rawan, penyidik juga menemukan perubahan karakteristik pelaku. Jika sebelumnya aksi curanmor lebih banyak dilakukan oleh jaringan yang telah dikenal aparat, kini sebagian besar pelaku yang ditangkap merupakan wajah-wajah baru.
“Kami sudah memetakan beberapa jaringan, namun pelaku yang tertangkap akhir-akhir ini merupakan jaringan baru yang datang dari luar daerah,” ujar AKBP Samuel D. Tatiratu.
Menurut Kapolres, kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena menunjukkan adanya dinamika baru dalam tindak kejahatan di wilayah Nabire. Kehadiran pelaku dari luar daerah dinilai menjadi tantangan tersendiri bagi aparat dalam melakukan pengawasan maupun penegakan hukum.
Kapolres juga menjelaskan bahwa situasi keamanan di Nabire mengalami perubahan seiring perkembangan wilayah. Saat Nabire masih berstatus sebagai kabupaten, angka kriminalitas sempat menunjukkan tren penurunan. Namun, setelah ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Papua Tengah, aktivitas masyarakat meningkat sehingga turut memengaruhi kondisi keamanan.
Bertambahnya jumlah penduduk, mobilitas masyarakat yang semakin tinggi, serta pesatnya perkembangan kawasan disebut menjadi faktor yang ikut memicu meningkatnya peluang terjadinya tindak kriminal, termasuk pencurian kendaraan bermotor. Karena itu, kepolisian terus menyesuaikan strategi pengamanan dengan perkembangan situasi yang ada.
Sebagai langkah penanganan, Polres Nabire memastikan akan terus mengintensifkan patroli di lokasi-lokasi yang dianggap rawan. Selain itu, pengungkapan kasus dan pemetaan jaringan pelaku juga akan diperkuat agar aksi curanmor dapat ditekan secara maksimal.
Di sisi lain, kepolisian menilai keberhasilan pencegahan kejahatan tidak hanya bergantung pada aparat penegak hukum, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat. Warga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan saat memarkir kendaraan, terutama dengan menggunakan kunci pengaman tambahan atau kunci ganda guna mengurangi risiko pencurian.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan kepada pihak kepolisian apabila melihat aktivitas yang mencurigakan di lingkungan sekitar. Informasi dari warga dinilai sangat membantu aparat dalam mengidentifikasi pelaku maupun mencegah terjadinya tindak kriminal sejak dini.
Dengan penguatan patroli, pemetaan jaringan pelaku, serta dukungan masyarakat, Polres Nabire berharap angka kasus pencurian kendaraan bermotor dapat terus ditekan. Kepolisian juga memastikan akan terus melakukan pengembangan terhadap setiap kasus yang berhasil diungkap untuk mengidentifikasi kemungkinan keterlibatan jaringan lain yang masih beroperasi di wilayah hukum Polres Nabire.
[Nabire.Net]





Tinggalkan Komentar