INFO OLAHRAGA
Home » Blog » Perkenalkan Bek Muda Tangguh Asal Papua Calon Bintang Masa Depan, Rudolf Yanto Basna

Perkenalkan Bek Muda Tangguh Asal Papua Calon Bintang Masa Depan, Rudolf Yanto Basna

Yanto Basna

Beberapa orang mengiranya pemain asing karena kemampuannya yang hebat, tubuhnya yang tegap, dan kulitnya yang gelap. Tapi ia adalah talenta asli Indonesia, yang akhirnya menyita perhatian kita. Renalto Setiawan menceritakannya untuk Anda…

Cerita 60 Detik

Aku masih berusia 20 tahun, terjebak di dalam kotak penalti dan kesulitan untuk menjauhinya karena Semen Padang terus menggempur pertahanan kami. Saat itu adalah bulan Januari yang basah dengan waktu terus berjalan, tapi masih jauh dari sembilan puluh menit. Genangan air di atas lapangan membuat hampir semua yang hidup di atasnya kesulitan untuk bergerak: bola, para pemain, dan wasit yang memimpin jalannya pertandingan.

Tribun Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, dipenuhi warna merah, warna kebesaran Semen Padang. Warna merah itu ada yang datang langsung dari Padang, Sumatra Barat, ada yang datang dari Tanah Abang yang tak jauh dari stadion, dan mungkin ada juga yang datang dari Rumah-rumah Makan Padang terdekat. Mereka terus berteriak kegirangan karena tim pujaannya terus menyerang kami dan berhasil unggul satu gol karena perjuangan yang gigih, membuatku semakin sulit untuk meninggalkan kotak penalti.

Sementara itu, penggemar kami hanya sedikit. Warna kuning keemas-emasan hanya tampak sekilas, redup oleh warna merah — benar-benar hari yang sulit bagiku dan rekan-rekanku. Tapi aku harus berusaha untuk tetap melangkah, demi warna kuning yang samar dan demi timku kerena aku tahu bahwa waktu masih jauh dari sembilan puluh menit – aku harus bisa mengubah keadaan dengan kemampuanku.

Irsyad Maulana sering datang dengan kecepatannya dari sisi kanan pertahanan kami. Zulkifly Syukur, kapten kami, terpaksa menyerah ketika menghadapi bocah itu. Bagaimanapun kakinya belum begitu beres untuk menghadapi Irsyad yang nyaris tak mau berhenti berlari. Syahrizal? Dia nyaris putus asa karena terpaksa bermain bukan di posisi terbaiknya dan harus menghadapi seorang bocah gila. Irsyad nyaris tak terbendung, dan memaksaku untuk sering menghadapinya.

Usiaku memang dua tahun lebih muda jika dibandingkan dengannya – Irsyad berusia 22 tahun. Namun bila aku bisa bermain dengan tenang mungkin aku bisa lebih tua darinya atau, mungkin aku bisa menjadi lebih tua dari siapa saja, dan yang paling penting aku bisa lebih hebat darinya. Maksudku, dengan ketenangan yang kumiliki aku bisa menjadi Francis Underwood yang penuh dengan intrik, Haruki Murakami yang tiba-tiba ingin menjadi novelis saat menyaksikan pertandingan bisbol, atau Alesandro Nesta saat melakukan tekel ajaib kepada Leo Messi, pemain sepakbola paling paripurna. Bagaimanapun, aku percaya bahwa ketenangan akan membuat hal sesulit apa pun dapat dilalui – meski tidak mudah.

Karena itu memang harus dilakukan, berkali-kali aku melancarkan tekel penuh risiko kepada Irsyad di dalam kotak penalti. “Ayo kalau berani datang lagi ke arahku,” batinku, dan aku akan mengalahkannya lagi dengan tekelku. Kalau aku terus tenang, aku akan selalu menang. Jika Irsyad tak mau menyerah, aku juga akan melakukan hal yang sama.

Paruh kedua laga, cuaca mulai bersahabat begitu pula dengan peruntungan kami. Yuu Hyun-koo, jimat Semen Padang, diusir dari lapangan karena dua tekel sembrononya. Irsyad menemui jalan buntu ketika berhadapan denganku. Michael Orah yang dibantu dengan kecerobohan Jandia Eka Putra, kiper Semen Padang, dan Yogi Rahadian membuat kami membalikkan keadaan. Sembilan puluh menit yang panjang itu berakhir. Kami, Mitra Kukar, berhasil menjadi juara Piala Jenderal Sudirman 2015. Dan aku berhasil mencuri perhatian ketika dinobatkan menjadi pemain terbaik turnamen tersebut.

Mengapa Anda Harus Mengenalnya

Tanah Papua tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tapi juga kaya akan talenta sepakbola. Hampir setiap generasi timnas Indonesia, pemain-pemain asal Papua selalu menjadi bagian di dalamnya. Dari generasi Rully Nere pada tahun 70-an hingga generasi Boaz Salossa beberapa tahun belakangan.

Baru-baru ini, setelah mencuat pada gelaran Piala Jenderal Sudirman 2015 lalu, Yanto Basna digadang-gadang akan menjadi ujung tombak tanah Papua selanjutnya. Center-back berusia 20 tahun tersebut mempunyai segalanya untuk mengawal jantung pertahanan tim Garuda, julukan timnas Indonesia.

Adalah Aples Tecuari yang pernah menjadi duta terbaik tanah Papua di lini belakang timnas Indonesia — Ricardo Salampessy mungkin besar bersama Persipura dan lebih baik daripada Aples, tetapi dia lahir di Ambon, Maluku, bukan tanah Papua. Bek timnas pada era 90-an tersebut dikenal garang dan tanpa kompromi. Dengan perkembangan yang dialami Yanto, bukan tidak mungkin nama besar Aples Tecuari akan digantikan oleh pemain muda yang selalu tenang dan rendah hati saat berada di luar lapangan tersebut.

Menariknya, tidak seperti pemain Papua kebanyakan yang memilih berkembang di tanah kelahirannya, Yanto Basna sudah merantau sejak usia muda. Ia memilih menimba ilmu di Diklat Ragunan,  untuk kemudian menjadi andalan SAD di Uruguay, dan dilirik Indra Sjafri untuk bergabung ke timnas U-19. Sayang, Yanto harus bersabar untuk bisa mencuri perhatian. Di timnas U-19 duet center-back Sahrul Kurniawan dan Hansamu Yama Pranata nyaris tak tergantikan. Yanto kemudian harus rela bermain bersama timnas U-19 B yang diasuh oleh Rudy Keltjees.

Bersama timnas U-19 B Yanto tampil bagus di Cotif Cup 2014, bahkan dia dipercaya menjadi kapten. Hal tersebut tak luput dari perhatian Indra Sjafri. Pelatih asal Minang, Sumatra Barat, tersebut kemudian memasukkan nama Yanto ke dalam skuatnya yang bersiap menghadapi Piala Asia U-20 di Myanmar. Sayang, Yanto mengalami cedera ligament dan divonis absen selama tiga bulan. Ia pun akhirnya urung berangkat ke Myanmar. Namun, Yanto tak patah semangat untuk terus berkembang.

“Saya adalah tipe perantau yang sering memotivasi diri sendiri.”

yb

Sekembalinya dari cedera dia terus berlatih keras demi masa depannya. Meski  Yanto merupakan mahasiswa ilmu olahraga di Universitas Negeri Yogyakarta, baginya sepakbola adalah hidupnya. Ia ingin dikenal banyak orang sebagai pemain sepakbola, bukan yang lainnya.

Pada akhirnya kerja keras Yanto membuahkan hasil. Mitra Kukar mengontraknya selama dua tahun, dan Jafri Sastra, pelatih Mitra Kukar yang sering memberikan kepercayaan pada bakat-bakat muda, memberikan kesempatan padanya. Pemain kelahiran Sorong, Papua, tersebut kemudian membayar lunas kepercayaan yang diberikan Jafri Sastra. Yanto tampil ciamik dalam setiap penampilannya, membuat banyak penyerang lawan putus asa ketika menghadapinya, dan menghasilkan gelar Piala Jenderal Sudirman 2015 bagi Mitra Kukar. Bahkan dalam turnamen tersebut, Yanto dinobatkan sebagai pemain terbaik.

“Gantian dengan yang lainnya, ya,” sambil tersenyum Yanto berkata kepada penggemar yang minta foto bareng bersamanya setelah dia dinobatkan sebagai pemain terbaik Piala Jenderal Sudirman 2015.

Semoga saja Yanto akan selalu seperti itu ketika suatu saat nanti mendapati lebih banyak penggemarnya yang ingin berada satu frame dengan dirinya.

Ketenangan adalah senjata utama yang dimiliki Yanto Basna. Menariknya, Yanto bisa tampil begitu tenang meski dia baru berusia 20 tahun. Saat bertahan, dengan ketenangannya, dia mampu melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang center-back yang baik: kuat saat menghadapi duel satu lawan satu, sering memenangkan duel udara, jitu dalam melakukan tekel, mampu mengkoordinasi lini belakang dengan baik, dan yang paling penting berani mengambil risiko.

Keberanian Yanto dalam mengambil risiko juga sering dia lakukan saat membantu serangan. Meski berada dalam tekanan lawan, dia berani menahan bola lebih lama di lini belakang. Tak jarang dia berani melewati lawan walaupun dia menjadi orang terakhir di lini pertahanan. Selain itu, umpan-umpannya juga begitu akurat. Serangan balik cepat Mitra Kukar sering berawal dari kakinya.

Tanpa ketenangan yang mumpuni, mustahil Yanto mampu melakukan semua hal tersebut dengan begitu baik sehingga dia dinobatkan sebagai pemain terbaik Piala Jenderal Sudirman 2015

Kekurangan

Yanto Basna memang memang jitu dalam melakukan tekel dan terkenal berani mengambil risiko, tapi apabila konsentrasinya menurun karena kelelahan, persentase keberhasilan tekelnya tentu saja akan ikut menurun.

Untuk mengatasi hal tersebut, Yanto harus mampu meningkatkan kemampaun intersepsinya. Memang, dalam gelaran Piala Jenderal Sudirman 2015 lalu jumlah intesepsi Yanto Basna tak begitu buruk, tapi jika dibandingkan dengan intersepsi yang dilakukan Hamka Hamzah, Goran Gancev, Kiko Insa, dan Mamodou El-Hadji, bek-bek terbaik dalam melakukan intersepsi dalam turnamen tersebut, intersepsi yang dilakukannya masih kalah banyak.

Jika Yanto kemudian mampu meningkatkan kemampuan tersebut, status sebagai salah satu center-back terbaik yang pernah di miliki Indonesia sepertinya akan segera disandangnya.

Apa Kata Mereka

“Saya tak peduli siapa yang akan menjadi pemain terbaik (PJS 2015). Tapi, Yanto memang pantas dinobatkan sebagai pemain terbaik. Dia luar biasa,” kata Rizky Pellu, kapten Mitra Kukar, menyoal gelar pemain terbaik PJS 2015 yang disandang Yanto Basna.

“Yanto adalah pemain paling menonjol di antara pemain-pemain seusianya. Di tim inti (Mitra Kukar) dia nyaris tak tergantikan,” kata Jafri Sastra, pelatih Mitra Kukar.

Tahukah Anda?

Di daerah kelahirannya merupakan hal lumrah jika seorang anak baru diberi nama ketika mereka sudah agak besar. Pun demikian dengan Yanto Basna. Nama Rudolf, nama depan Yanto Basna, diberikan karena kegemarannya memegang uang seratus ribu rupiah yang bertanda air Wage Rudolf Soepratman, pencipta lagu Indonesia Raya.

“Jika diberi uang, saya selalu minta yang bertanda air Wage Rudolf Soepratman (uang seratus ribu rupiah). Mungkin, karena kebiasaan itu orang tua saya kemudian memberi nama Rudolof kepada saya”

Tidak seperti Rudolf, Rudolf mungkin tidak akan menciptakan lagu kebangsaan bagi negara ini. Tapi suatu saat nanti, melalui sepakbola, dia mungkin bisa membantu mengibarkan bendera Indonesia lebih tinggi dari bendera-bendera negara lainnya di Asia Tenggara. Jika itu benar-benar terjadi, Rudolf tak kalah hebat dari Rudolf, bukan?

(FFT)

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.