INFO NABIRE
Home » Blog » Keluarga Wate dan Nawipa Capai Kesepakatan Kekeluargaan dalam Persoalan Lahan Taman Gizi Nabire

Keluarga Wate dan Nawipa Capai Kesepakatan Kekeluargaan dalam Persoalan Lahan Taman Gizi Nabire

(Keluarga Wate dan Nawipa Capai Kesepakatan Kekeluargaan dalam Persoalan Lahan Taman Gizi Nabire)
(Keluarga Wate dan Nawipa Capai Kesepakatan Kekeluargaan dalam Persoalan Lahan Taman Gizi Nabire)

Nabire, Persoalan lahan di kawasan Taman Gizi, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, mulai memasuki tahap penyelesaian melalui pendekatan kekeluargaan. Dalam pertemuan yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Nabire, keluarga besar Suku Wate menyatakan pengakuan bahwa keluarga Yason Nawipa dari Suku Mee merupakan bagian dari keluarga besar Wate.

Pertemuan tersebut berlangsung pada 4 November dan dipimpin Bupati Nabire Mesak Magai. Pemerintah daerah mempertemukan kedua keluarga untuk mencari jalan keluar atas persoalan yang berkaitan dengan lahan di kawasan Taman Gizi sekaligus memperjelas hubungan sejarah antara keluarga Wate dan keluarga Yason Nawipa.

Bupati Mesak Magai menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin persoalan tersebut berkembang menjadi konflik terbuka. Menurutnya, penyelesaian harus ditempuh dengan mengedepankan hubungan kekeluargaan dan sejarah kedua pihak.

“Menurut saya, ini bukan sengketa tanah, tetapi saling mengakui secara kekeluargaan antara keluarga Yason Nawipa dengan Wate terkait tanah di Taman Gizi,” kata Mesak.

Telusuri Sejarah Penyerahan Tanah

Dalam pertemuan itu, pemerintah juga mendorong kedua keluarga kembali menelusuri dokumen serta catatan sejarah yang berkaitan dengan tanah tersebut.

Mesak menyebut dua tokoh Suku Wate, Petrus Warai dan Kristian Warai, sebagai bagian dari sejarah awal Kampung Oyehe. Kawasan tersebut kemudian berkembang menjadi pusat Kota Nabire.

Karena itu, ia meminta keluarga Wate maupun keluarga Nawipa memeriksa kembali dokumen peninggalan keluarga yang dapat menjelaskan riwayat tanah di kawasan Taman Gizi.

“Apakah catatan keluarga Warai yang diserahkan kepada Yason Nawipa masih dipegang keluarga, atau Suku Wate juga masih memiliki arsip penyerahan sebidang tanah itu kepada yayasan. Kedua belah pihak yang lebih mengetahui,” ujar Mesak.

Pemerintah Kabupaten Nabire berharap penelusuran dokumen tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai sejarah penguasaan dan hubungan keluarga yang berkaitan dengan lahan tersebut.

Suku Wate Akui Keluarga Nawipa

Sesepuh Suku Wate Daniel Mandiwa mengatakan pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk memperjelas hubungan sejarah antara keluarga Warai atau Suku Wate dengan keluarga Yason Nawipa.

Ia menegaskan keluarga besar Wate menerima keluarga Nawipa sebagai bagian dari keluarga besar mereka. Pengakuan itu, menurut Daniel, diharapkan menjadi dasar untuk membangun hubungan yang lebih kuat di masa mendatang.

“Kami Suku Wate mengakui bahwa keluarga Nawipa, Yason Nawipa ini adalah bagian dari Suku Wate. Jika keluarga Nawipa mendapat masalah, kami Suku Wate ada. Jika kami Suku Wate mendapat masalah, keluarga Nawipa juga ada,” kata Daniel.

Selain persoalan hubungan keluarga, pembahasan juga diarahkan pada kemungkinan penyediaan lahan bagi keluarga besar Yason Nawipa.

Daniel menjelaskan bahwa keterbatasan lahan di kawasan perkotaan Nabire menjadi salah satu pertimbangan. Suku Wate berencana membahas sejumlah pilihan lokasi terlebih dahulu sebelum menentukan lahan yang dapat ditawarkan.

Pertemuan internal keluarga Wate dijadwalkan dilanjutkan pada Kamis pukul 16.00 WIT. Setelah terdapat kesepakatan mengenai pilihan lokasi, keluarga Yason Nawipa akan kembali diundang untuk membicarakan opsi tersebut.

Keluarga Nawipa Minta Kompensasi Diperhatikan

Perwakilan keluarga besar Nawipa, Deki Nawipa, menyambut positif proses mediasi yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Nabire.

Menurut Deki, keluarga Yason Nawipa memiliki sejumlah dokumen peninggalan orang tua yang menurut mereka berkaitan dengan tanah tersebut. Namun, dokumen itu selama ini belum mendapatkan pengakuan sebagaimana yang diharapkan keluarga.

“Kami keluarga besar Warai dan Nawipa menyampaikan terima kasih kepada Bapak Bupati Mesak Magai. Beliau bisa memediasi kedua keluarga ini sehingga pada kesempatan ini kami bisa bersatu,” ujar Deki.

Meski demikian, keluarga Nawipa berharap penyelesaian tidak berhenti pada penyediaan lahan alternatif. Mereka meminta pemerintah turut mempertimbangkan aspek kompensasi atau bentuk penghargaan terhadap kedua keluarga yang memiliki keterkaitan dengan kawasan Taman Gizi.

“Kami berterima kasih atas opsi yang disampaikan keluarga besar Warai. Namun, untuk pemerintah, jangan lupa kompensasi. Keluarga Warai maupun Nawipa harus diberikan penghargaan,” katanya.

Taman Gizi Disiapkan untuk Pengembangan Kawasan

Pemkab Nabire berharap penyelesaian persoalan lahan dapat membuka ruang bagi pengembangan kawasan Taman Gizi. Salah satu rencana yang disebut adalah menjadikan kawasan tersebut sebagai lokasi wisata kuliner.

Pemerintah menilai kepastian status dan pemanfaatan lahan penting agar pembangunan daerah dapat berjalan tanpa mengabaikan hubungan sejarah serta kepentingan keluarga yang berkaitan dengan kawasan tersebut.

Dengan adanya pengakuan hubungan kekeluargaan antara Wate dan Nawipa, pemerintah berharap proses penyelesaian selanjutnya dapat berlangsung secara damai dan menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima seluruh pihak.

Pertemuan lanjutan antara keluarga Wate dan keluarga Nawipa akan menjadi tahap berikutnya untuk membahas pilihan lahan, dokumen sejarah, serta aspirasi terkait penyelesaian kawasan Taman Gizi.

[Nabire.Net/Sitti Hawa]

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.