Optimalisasi Kualitas Daging Babi di Nabire, Dinas Peternakan Terapkan Kaidah Animal Welfare dalam Praktek Pemotongan

Nabire, Beberapa tahapan proses penyembelihan hewan khususnya ternak babi, seringkali diabaikan atau tidak memperhatikan kaidah-kaidah animal welfare sehingga berpengaruh terhadap kualitas daging babi yang dihasilkan.
Oleh karena itu, Dinas Peternakan kabupaten Nabire melalui Bidang Keswan dan Kesmavet Dinas Peternakan Kabupaten Nabire melaksanakan praktek lapangan pemotongan hewan (babi) sebagai bagian dari kegiatan Bimbingan Teknis Pemotongan Ternak Babi yang Aman, Sehat dan Utuh, yang dilaksanakan di peternakan babi milik Bapak Fredy Rassa beralamat di Kampung Kimi, Distrik Teluk Kimi, kabupaten Nabire, Rabu (13/12/2023).
(Baca Juga : Bidang Keswan dan Kesmavet Dinas Peternakan Nabire Gelar Bimtek Pemotongan Ternak Babi yang Aman, Sehat dan Utuh)
Hadir dalam kegiatan ini Kepala Bidang Keswan dan Kesmavet Dinas Peternakan kabupaten Nabire, drh. I Dewa Ayu Dwita, beserta Staf Dinas Peternakan Nabire, nara sumber yaitu Dr. Drh. Kadek Kerang Agustina, MP, dan Bapak I Nengah Kari Lacokan, serta para Peserta Bimtek.
Dalam kegiatan praktek pemotongan babi tersebut, diterapkan kaidah animal welfare. Kaidah animal welfare adalah kaidah yang memperhatikan kenyamanan, kesenangan maupun kesehatan hewan.
Hal-hal yang harus diperhatikan pada proses penyembelihan hewan sesuai dengan animal welfare yakni penurunan hewan dari truk ke kandang penampungan, penggiringan hewan dari kandang penampungan hewan menuju ruang pemotongan, proses penyembelihan hewan dan penentuan kematian hewan.
Kepala Bidang Keswan dan Kesmavet Dinas Peternakan kabupaten Nabire, drh. I Dewa Ayu Dwita, kepada Nabirenet menjelaskan bahwa konsep animal welfare ada 5 kebebasan (five freedom) yaitu:
1. Bebas dari rasa lapar dan haus
2. Bebas dari rasa panas dan tidak nyaman
3. Bebas dari luka, sakit dan penyakit
4. Bebas dari rasa takut dan penderitaan
5. Bebas mengekspresikan prilaku normal dan alami
Dari kelima konsep diatas terkait pemotongan adalah konsep dimana hewan yg dipotong tidak mengalami rasa sakit yaitu kematian secepat-cepatnya dan darah yg keluar sebanyak-banyaknya. Sehingga kwalitas daging yang dihasilkanpun akan baik dan sehat.
Penerapan Penyembelihan yang dilakukan selama ini di Nabire sudah mengarah ke animal welfare karena kematian hewan yang cepat dan darah yamg keluar juga banyak. Jadi hewan tidak merasakan sakit yang terlalu lama.
Hanya saja cara pemotongan daging selama ini diterapkan di Nabire masih digabung antara tulang, lemak, kulit dan daging. Padahal bagian-bagian daging babi mempunyai kelas-kelas tersendiri. Kedepan seiring kebutuhan hotel dan restoran dipastikan cara pemotongan dagingpun akan berubah sesuai kelas-kelas daging yang dibutuhkan. Kelemahannya memang membutuhkan waktu lebih lama saat memilah bagian-bagian daging sesuai kelas-kelasnya.
Dalam praktek pemotongan babi di Peternakan milik Bapak Fredy Rassa, babi ditusuk dengan pisau di jantung untuk mempercepat kematian babi dan memudahkan penanganan hewan serta memperkecil terjadinya kecelakaan hewan dan tukang potong.
Setelah itu, daging babi yang telah dipotong, diperiksa guna memastikan daging tersebut aman, sehat, utuh dan halal untuk dikonsumsi.
Sementara itu Nabirenet mewawancarai Bapak Fredy Rassa selaku pengusaha babi. Dikatakan Bapak Fredy, ternak babi yang dimilikinya berjumlah 300 ekor di 3 tempat.

Saat ditanya omzet yang diperoleh, Bapak Fredy mengatakan bisa mencapai 10 juta per hari, namun harga pakan per hari pun juga bisa mencapai 10 juta.
Terkait biaya operasional khususnya biaya pakan per bulan, Fredy Rassa harus merogoh kocek sekitar 170 hingga 200 juta setiap bulannya.
“Sejak merintis dari 2010, kalau kendala kita peternak kendalanya yaitu modal untuk mau besar. Otomatis modal harus ditunjang, kita beranikan diri untuk minta bantuan pada investor contoh dari perbankan itu dari segi modal. Kemudian kendala dalam beternak itu saya pikir kita mau menjumpai karena ini ada lahan kita sumber penghasilan kita mau tidak mau harus ditekuni, dijiwai lalu bisa menghasilkan bukan hanya sekedar mau ikut ikutan,” ungkap Fredy.
Dengan adanya Bimtek dari Dinas Peternakan Nabire, Freddy bersyukur karena bisa diarahkan untuk lebih mengikuti perkembangan zaman apalagi mulai dari peternakan sekarang harus mengikuti peternakan yang modern, karena selama ini masih menggunakan cara tradisional. Cuma kalau kita pelajari, ternyata ini peluangnya kalau kita mau dan benar-benar untuk belajar, terus belajar menginovasi diri lalu bisa mendapatkan hasil yang maksimal.
Dari segi pemasaran, Fredy Rasa mengatakan hal itu juga sangat petning. “Marketingnya juga itu perlu diperluas karena walaupun ada produksi kita tapi kita kurang marketing bisa jadi kendala,” pungkas Fredy Rassa.
[Nabire.Net/Edi Sutrisno]




























Leave a Reply