INFO PAPUA
Home » Blog » Kurikulum Pendidikan Di Papua Belum Mengakomodir Sejarah & Budaya Papua

Kurikulum Pendidikan Di Papua Belum Mengakomodir Sejarah & Budaya Papua

Papua, siapakah yang tidak tahu akan nama ini, pasti semua orang tahu. Papua adalah salah satu pulau terbesar di dunia dengan kekayaan alam yang melimpah, bahkan dijuluki sebagai surga kecil di dunia.

Sumber daya alam yang ada di Papua diperkirakan bisa memenuhi kebutuhan dunia beberapa tahun kedepan, dan orang Papua yang adalah asli Melanesia akan menjadi kaya jika semua sumber daya alam yang mereka miliki dikelola sendiri.

Namun sayangnya, sumber daya alam yang berlimpah belum sebanding dengan kualitas sumber daya manusianya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi ? Salah satu faktornya adalah ‘Pendidikan’.

Pasti ketika anda membaca ini anda akan bertanya-tanya mengapa pendidikan yang menjadi faktor utama belum majunya SDM di Papua ? Bukankan selama ini pemerintah telah mengalokasikan anggaran yang sangat besar di sektor ini ? Memang benar jika pertanyaan anda seperti demikian. Namun apakan dana yang dianggarkan sudah sesuai dengan peruntukkannya ? Dan apakah sistem pendidikan yang ada di Papua (baca : kurikulum) sudah sempurna dan memadai ?

Kurikulum yang ada saat ini di Papua bisa dikatakan belum berhasil atau gagal. Kurikulum yang ada hanya membodohi orang Papua, dan tidak sesuai dengan budaya dan kearifan lokal yang ada di Papua.

Salah satu contoh adalah bahasa daerah, nama-nama daerah di Papua, sejarah Papua, budaya Papua, dan masih banyak hal yang bisa diceritakan tentang Papua melalui kurikulum. Namun hal itu sangat jarang ditemui di setiap sekolah yang tersebar di seluruh Papua.

Saya pernah bersekolah di Fakfak, salah satu daerah yang menjadi pusat pemerintahan penjajahan Belanda dan merupakan kota tertua di tanah Papua dan menjadi titik pembagian wilayah antara agama Katolik dan Protestan, dimana di sebelah utara dikuasai Protesta dan selatan dikuasai Katolik.

Setelah lulus pendidikan di Fakfak, saya melanjutkan pendidikan di Nabire. Di Nabire saya berkenalan dengan teman-teman, mereka lalu bertanya dulu saya SMP dimana ? Saya menjawab di Fakfak. Mereka lalu menanyakan Fakfak itu di Ambon ka ? Sambil tertawa saya menjawab Fakfak itu salah satu kabupaten di Papua.

Bukan hanya saat itu saja, tapi pertanyaan serupa sudah seringkali saya dengar dari teman-teman saya.

Tidak hanya itu saja, sewaktu saya sedang berlibur ke Fakfak pada bulan Oktober lalu, ada teman saya di Fakfak yang bertanya kepada saya, “Apakah kawan ini orang Paniai ? dan apakah kawan dari suku Dani ?” Sambil tersenyun saya menjawab bahwa suku dari Paniai adalah suku Mee bukan Dani.

Masih banyak lagi yang ditanyakan teman saya, seperti kapal laut apa yang melayani pelabuhan Nabire ke Paniai, dan lain sebagainya.

Bagi saya contoh-contoh diatas sudah jelas menunjukkan masih kurangnya pemahaman tentang sejarah, budaya dan segala sesuatu tentang Papua yang diajarkan di lembaga pendidikan melalui kurikulum yang ada. Hal ini tentu sangat memprihatinkan, bahwa masih banyak yang belum memahami Papua secara menyeluruh.

Oleh karena itu kurikulum di Papua harus diubah, dengan perbandingan kurikulum nasional sebanyak 70% dan kurikulum lokal sebanyak 30%. Diharapkan orang Papua bisa memahami akan sejarah, budaya, bahasa, dan segala sesuatunya tentang tanah Papua.

*Penulis, Ronaldo Josef Letsoin

[Nabire.Net]


Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.