“Koteka Harus Digunakan Sehari-Hari Agar Dapat Diakui Sebagai Warisan Budaya Dunia”
Nabire – Koteka adalah salah satu busana tradisional yang sering digunakan oleh suku-suku di wilayah pegunungan tengah Papua diantaranya suku Asmat, suku Mee dan suku Dani. Koteka sendiri sudah terkenal di dunia dan dibuat dari buah Labu Bobee.
Namun saat ini, koteka sudah terlihat jarang digunakan di wilayah perkotaan, salah satunya di Nabire dan Jayapura.
Sama halnya dengan batik, koteka dan noken telah menjadi identitas suku di pegunungan tengah Papua. Nasib noken sendiri lebih bagus karena telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Namun belum dengan koteka, oleh karena itu hal ini perlu diperjuangkan juga sebagai warisan dunia.
Menurut peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, memperjuangkan koteka sebagai warisan dunia perlu didukung oleh semua pihak, salah satunya tetap dengan menggunakan koteka dalam kehidupan sehari-hari, baik di kampung maupun di kota, di rumah, di kebun, di pasar, atau mungkin juga di tempat ibadah.
Tak hanya generasi lanjut, hari Suroto juga meminta agar generasi muda juga harus melestarikan dan membudayakan penggunaan koteka sebagai busana tradisional.
Selain itu, para wisatawan atau peneliti juga perlu menggunakan koteka saat berkunjung ke kampung adat suku-suku di pegunungan tengah Papua.
“Sebagai pengajar arkeologi di jurusan Antropologi Universitas Cendrawasih Jayapura Papua, saya memperbolehkan mahasiswa Suku Mee untuk mengenakan koteka di ruang kelas. Bagi saya, koteka itu sama dengan batik”, tutup Hari Suroto.
[Nabire.Net]



Leave a Reply