INFO PAPUA
Home » Blog » Kisah Kopi ‘Hari Bersama’

Kisah Kopi ‘Hari Bersama’

(Kontributor Nabire.Net, Hari Suroto, bersama salah seorang mahasiswa asal Pegubin)

Jayapura, Kisah kopi ‘Hari Bersama’ berawal dari membantu mahasiswa asal Distrik Okbibab, Kabupaten Pegunungan Bintang. Mereka untuk bisa bayar SPP dan biaya hidup di Kota Jayapura, mereka dikirim kopi oleh orang tuanya di kampung.

Kopi ‘Hari Bersana’ ini adalah jenis kopi Arabika Typica. Kopi jenis ini ditanam pada ketinggian 2000 mdpl. Ditanam di kebun semi hutan yang subur, tumpang sari dengan tanaman ubi jalar. Kopi ditanam secara organik, semua mengandalkan kebaikan alam.

Proses pemanenan buah kopi masih manual menggunakan tangan, begitu juga pemrosesan buah kopi menjadi green bean.

Suhu udara di Okbibab sangat dingin, dengan intensitas matahari yang terbatas, sehingga penjemuran biji kopi butuh waktu lama.

Selain rasa yang menarik dari kopi Papua adalah cerita dibaliknya. Perjalanan biji kopi hingga Sentani, Jayapura sangat panjang. Dari Distrik Okbibab, biji kopi dikirim menggunakan pesawat kecil jenis twin otter, penerbangan bukan terjadwal,tergantung kalau ada carteran dari Sentani Jayapura, baru petani nitip kopi.

Pengiriman biji kopi dari Distrik Okbibab dikemas dalam karung bekas wadah beras. Pemasaran kopi Hari Bersama dilakukan secara online, kopi bubuk maupun biji kopi roasting.

Niatnya bermula dari untuk membantu memasarkan kopi dari petani Suku Ngalum di pedalaman Pegunungan Bintang, Papua.

Akses untuk menuju ke Distrik Okbibab hanya dapat dilakukan dengan pesawat terbang kecil. Belum ada jalan darat, tidak ada tower telepon seluler. Komunikasi hanya mengandalkan radio SSB. Radio SSB milik kantor distrik atau petugas maskapai pesawat perintis AMA.

Untuk komunikasi dengan keluarga di Jayapura, warga menggunakan Whatsapp, melalui jaringan satelit yang berbayar per jamnya. Voucher internet satelit di Okbibab 100 ribu untuk 3 hari.

Dalam sejarahnya, tanaman kopi di Okbibab, pertama kali diperkenalkan oleh misionaris pada tahun 1970-an.
Bibit kopi didatangkan dari Moanemani, Kabupaten Dogiyai yang terkenal dengan jenis kopi arabica typica, di Moanemani kopi ditanam oleh Suku Mee.

Biaya kirim biji kopi dari Distrik Okbibab menuju Sentani, Jayapura menggunakan pesawat kecil, 7500 rupiah per kg.

Pesawat kecil twin otter dengan tujuan Distrik Okbibab dari Bandara Sentani hanya pesawat AMA, tiket 2 jutaan per orang. Sedangkan dari Distrik Okbibab ke Oksibil ibukota Kabupaten Pegunungan Bintang, hanya dapat dilakukan dengan jalan setapak sekitar 1 hingga 1,5 hari.

[Nabire.Net/Hari Suroto]


Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.