INFO NABIRE INFO PAPUA TENGAH
Home » Blog » Karhutla Bukan Fenomena Baru di Nabire, Arsip 1970an, 2015 dan 2019 Catat Riwayat Serupa

Karhutla Bukan Fenomena Baru di Nabire, Arsip 1970an, 2015 dan 2019 Catat Riwayat Serupa

(Karhutla Bukan Fenomena Baru di Nabire, Arsip 1970an, 2015 dan 2019 Catat Riwayat Serupa)
(Karhutla Bukan Fenomena Baru di Nabire, Arsip 1970an, 2015 dan 2019 Catat Riwayat Serupa)

Nabire, Rangkaian kebakaran lahan dan meningkatnya titik panas di Kabupaten Nabire dalam beberapa hari terakhir kembali menimbulkan pertanyaan: apakah kebakaran hutan dan lahan merupakan fenomena baru di Nabire?

Penelusuran terhadap arsip pemberitaan menunjukkan jawabannya tidak. Nabire telah memiliki catatan mengenai kebakaran lahan, titik panas, hingga kabut asap sejak beberapa tahun sebelumnya. Bahkan, arsip lama menunjukkan persoalan asap akibat kebakaran hutan pernah dirasakan masyarakat Nabire pada 2015.

Catatan tersebut menjadi relevan ketika pada Agustus 2026 kebakaran kembali terjadi di sejumlah wilayah Nabire, sementara jumlah titik panas juga meningkat tajam.

Jejak kabut asap sudah tercatat sejak 2015

Salah satu catatan penting berasal dari bulan Oktober 2015.

Arsip Nabire.Net pada 17 Oktober 2015 memberitakan munculnya kabut asap kiriman yang mulai menyelimuti Kota Nabire. Sehari kemudian, BMKG Nabire juga diberitakan menyatakan bahwa kabut asap yang menyelimuti Nabire merupakan kabut asap kiriman.

Pada periode yang sama, Nabire.Net melaporkan bahwa 142 titik api di Papua menyebabkan kabut asap sampai ke Nabire. Pemberitaan tersebut menunjukkan bahwa meskipun sumber kebakaran berada di wilayah lain di Papua, dampaknya dapat dirasakan hingga Nabire melalui asap yang terbawa angin.

Dengan demikian, Nabire sudah memiliki pengalaman menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan setidaknya sejak 2015, khususnya dalam bentuk kabut asap.

Tahun 2019, hotspot kembali terpantau di Nabire

Empat tahun kemudian, persoalan titik panas kembali tercatat secara spesifik di dalam wilayah Kabupaten Nabire.

Pada 9 Agustus 2019, Nabire.Net melaporkan tiga titik panas (hotspot) terdeteksi di Nabire berdasarkan pemantauan satelit LAPAN.

Dua titik berada di Distrik Teluk Kimi, sementara satu titik lainnya berada di Distrik Menou.

Yang menarik, pada hari yang sama Pusdalops BPBD Nabire memberikan keterangan kepada Nabire.Net bahwa ketiga titik panas tersebut diduga berasal dari aktivitas pembersihan lahan kebun atau hutan.

Namun, perlu dicatat bahwa istilah hotspot tidak otomatis berarti setiap titik merupakan kebakaran hutan yang telah terkonfirmasi. Pada laporan awal 2019 tersebut, Nabire.Net juga mencatat bahwa sumber ketiga hotspot belum dapat dipastikan secara langsung.

Catatan ini penting karena menunjukkan bahwa aktivitas pembukaan atau pembersihan lahan dengan api sudah pernah dikaitkan dengan munculnya titik panas di Nabire beberapa tahun sebelum kejadian 2026.

2026: pola kembali terlihat

Memasuki 2026, laporan mengenai kebakaran lahan kembali muncul.

Pada 18 Agustus 2026, Nabire.Net melaporkan kebakaran lahan di kawasan belakang SD Inpres Sanoba. Api disebut diduga berasal dari pembakaran yang dilakukan secara sengaja dan kemudian meluas hingga merembet ke area rumah warga.

Sehari kemudian, pada 20 Agustus 2026, Nabire.Net melaporkan bahwa Damkar Papua Tengah harus menangani sedikitnya delapan kejadian kebakaran di sejumlah lokasi Nabire dalam satu hari.

Lokasinya antara lain Kalimangga dekat SMA Negeri 2 Nabire, SP 2/Jalur, Waroki, Kalibobo, kawasan Pusat Pemerintahan Papua Tengah, dan Bukit Meriam. Kondisi tersebut juga memperlihatkan tantangan kapasitas pemadaman karena Damkar Papua Tengah disebut mengoperasikan tiga armada yang harus digunakan secara bergantian.

Pada 21 Agustus 2026, kebakaran lahan kembali dilaporkan terjadi di Kampung Sima, Distrik Yaur. Api yang mulai meluas sekitar pukul 13.00 WIT dilaporkan bergerak cepat menuju kawasan permukiman akibat angin yang cukup kencang.

Hotspot meningkat tajam

Rangkaian kejadian tersebut berlangsung bersamaan dengan peningkatan signifikan titik panas.

Menurut pemberitaan Nabire.Net berdasarkan data BMKG Nabire, periode 20–21 Agustus 2026 mencatat 512 hotspot di Papua Tengah, dengan 279 titik berada di Kabupaten Nabire.

Jumlah tersebut membuat Nabire menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak di Papua Tengah, atau sekitar 54,5 persen dari keseluruhan hotspot yang terpantau pada periode tersebut.

Angka itu juga mengalami peningkatan dibanding pemantauan sebelumnya. Pada periode 10–19 Agustus, Nabire tercatat memiliki 113 hotspot. Dalam pemantauan 20–21 Agustus, jumlahnya melonjak menjadi 279 titik, atau bertambah 166 titik.

Namun, 279 hotspot tidak dapat diartikan sebagai 279 kebakaran yang telah terkonfirmasi. Hotspot merupakan indikator adanya anomali panas yang dapat menjadi indikasi awal kebakaran, sehingga tetap membutuhkan verifikasi lapangan.

Catatan Kebakaran Besar yang Berdampak ke Nabire pada 1970an

Salah satu catatan historis yang menarik ditemukan dalam arsip ANTARA. Dalam pemberitaan mengenai kebakaran hutan Papua, disebutkan bahwa kebakaran hutan terbesar di Papua pernah terjadi pada akhir 1970-an di wilayah Kabupaten Paniai. Kabut asap dari kebakaran tersebut bahkan menyebabkan Bandara Nabire ditutup selama beberapa hari karena asap tebal.

Jadi, secara historis, Nabire pernah mengalami dampak asap kebakaran hutan skala besar, meskipun pusat kebakaran yang disebut dalam sumber tersebut berada di Paniai.

Dampaknya mulai terasa hingga penerbangan

Persoalan asap kali ini bahkan mulai memberikan dampak terhadap aktivitas penerbangan.

Pada Jumat (21/8/2026), Nabire.Net melaporkan bahwa asap karhutla menyebabkan jarak pandang di Bandara Nabire turun hingga sekitar 70 meter. Kondisi tersebut membuat sejumlah penerbangan mengalami penundaan dan pembatalan demi keselamatan penerbangan.

Situasi ini menarik jika dibandingkan dengan catatan 2015.

Sebelas tahun lalu, masyarakat Nabire menghadapi kabut asap akibat kebakaran hutan di wilayah Papua. Pada 2026, asap kembali menjadi persoalan, tetapi kali ini Nabire juga sedang menghadapi banyak laporan kebakaran lahan dan lonjakan hotspot di wilayahnya sendiri.

Bukan kejadian yang sepenuhnya baru, tetapi skalanya perlu diwaspadai

Jika rangkaian data tersebut disusun secara kronologis, terlihat bahwa Nabire memiliki sejarah persoalan kebakaran dan asap:

  • 1970: kebakaran hutan besar di Paniai pada akhir 1970-an menghasilkan asap tebal hingga menyebabkan Bandara Nabire ditutup selama beberapa hari

  • 2015: kabut asap kiriman dari kebakaran di wilayah Papua menyelimuti Nabire dan mengganggu jarak pandang.

  • 2019: tiga hotspot terpantau di Distrik Teluk Kimi dan Menou; BPBD Nabire menduga berkaitan dengan pembersihan lahan kebun atau hutan.

  • Juli 2026: kebakaran lahan gambut terjadi di Wonorejo dan sebelumnya di kawasan belakang PLTMG Kalibobo. Nabire.Net melaporkan keduanya diduga dipicu pembakaran sengaja oleh orang tak dikenal.

  • 18 Agustus 2026: kebakaran lahan di Sanoba merembet ke area rumah warga.

  • 20 Agustus 2026: Damkar menangani sedikitnya delapan kejadian kebakaran di Nabire dalam sehari.

  • 21 Agustus 2026: kebakaran lahan terjadi di Kampung Sima, Distrik Yaur, sementara asap karhutla mengganggu penerbangan di Bandara Nabire.

  • 20–21 Agustus 2026: Nabire mencatat 279 hotspot dari total 512 hotspot di Papua Tengah.

Dengan demikian, kebakaran dan persoalan asap bukan fenomena yang baru pertama kali muncul di Nabire. Yang patut menjadi perhatian sekarang adalah meningkatnya frekuensi laporan kebakaran dalam waktu berdekatan, disertai lonjakan hotspot dan dampak asap yang mulai mengganggu transportasi udara.

Pelajaran dari sejarah

Riwayat 2015 dan 2019 menunjukkan bahwa persoalan kebakaran di Papua maupun Nabire bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba pada Agustus 2026. Sementara kejadian Juli–Agustus 2026 menunjukkan bahwa persoalan tersebut kembali muncul dalam bentuk yang lebih besar dan sering terlihat dalam pemberitaan.

Karena itu, kondisi saat ini perlu dilihat bukan hanya sebagai serangkaian kebakaran yang terjadi dalam beberapa hari, tetapi sebagai momentum untuk melihat kembali sistem pencegahan kebakaran lahan di Nabire.

Apalagi, ketika aktivitas pembakaran lahan atau sampah dilakukan pada kondisi yang kering dan angin cukup kencang, api dapat dengan cepat menyebar.

Sejarah menunjukkan Nabire pernah berhadapan dengan asap dan titik panas. Peristiwa Agustus 2026 kembali mengingatkan bahwa persoalan tersebut belum sepenuhnya hilang. Yang menjadi tantangan sekarang adalah bagaimana pengalaman masa lalu digunakan untuk mencegah titik api hari ini berubah menjadi kebakaran yang lebih luas dan berdampak pada masyarakat.

[Nabire.Net]

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.