Ini Penjelasan Dokter Sayori Terkait Pasien Positif Covid Yang Diisolasi di Sanoba

Nabire – Warga Nabire mempertanyakan tanggung jawab pemerintah terkait kondisi para pasien positif covid-19 yang berada di tempat isolasi mandiri di Sanoba. Menurut warga, kondisi pasien memprihatinkan, dibiarkan tidur di tempat yang tak layak dan berhimpitan, sehingga dikhawatirkan justru mempengaruhi proses penyembuhan pasien tersebut.
Untuk mengetahui kejelasan hal tersebut, kembali Nabire.Net meminta keterangan dari Juru Bicara Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 kabupaten Nabire, Dr. Frans Sayori, M.Kes, Jumat siang (01/05).
(Baca Juga : 13 Pasien Positif Covid-19 Ditempatkan di Isolasi Khusus di Sanoba & Girimulyo)
Pertama-tama dokter Frans Sayori mengatakan bahwa ada mispersepsi di masyarakat bahwa pemerintah daerah terkesan membiarkan kondisi pasien seperti itu. Menurut dokter Frans Sayori, hal itu keliru, karena apa yang dipikirkan oleh masyarakat sudah lebih dahulu dipikirkan pemerintah daerah termasuk Tim Satgas Covid-19 Nabire.
Dijelaskan, penyebab mengapa pasien covid tersebut memilih tempat isolasinya sendiri, kemudian kondisi tempat tidurnya seperti demikian, itu karena kebiasaan (doktrin) mereka sendiri yang memang sudah sering mereka lakukan sebagai bagian dari syiar agama.
“Mereka ini kelompok yang punya doktrin khusus, mereka enjoy dengan kondisi mereka seperti itu, yaitu makan bersama-sama di satu tempat/wadah, minum satu gelas, tidur dengan kondisi seperti itu, dan itu biasa mereka lakukan sebagai bagian dari solidaritas saat melakukan syiar agama dari daerah ke daerah, dan itu untuk menjaga kebersamaan mereka”, urai dokter Sayori.
Lebih lanjut dokter mengatakan, pemerintah sudah berupaya namun untuk merubah kebiasaan mereka tidak bisa serta merta.
“Kita coba ubah perilaku hidup bersih sehat mereka dengan menyiapkan makanan per kotak sehingga mereka makan sendiri-sendiri, mengurangi kontak fisik.Posisi tidur mereka dengan tidur seadanya, memang merubahnya agak susah karena kebiasaan mereka, walaupun dari sisi kesehatan tidak baik karena mereka masih dalam pengobatan,”kata dokter.
“Masyarakat mungkin belum paham kondisi riil mereka, kebiasaan mereka, sehingga masyarakat salah persepsi. Padahal Bapak Bupati dan Tim Satgas sudah memikirkan hal itu sebelumnya, tapi perlu proses untuk mengubah perilaku orang”, katanya.
Dokter Sayori mengatakan, hari ini (01/05), mereka sudah bisa diyakinkan untuk tidur diatas kasur, sambil merubah perilaku hidup bersih mereka sehingga dalam perawatan dan pengobatan, obatnya bisa memberi reaksi tubuh untuk pemeriksaan swab, agar hasilnya negatif.
Sementara terkait pengobatan mereka, dokter Frans mengatakan sudah dijadwalkan tiap tim untuk memberikan obat selama 14 hari secara bergantian sambil menunggu swab test.
Jika kedepannya hasil positif covid-19 di Nabire bertambah, pemerintah daerah akan menyiapkan satu tempat yang lebih nyaman seperti rumah sakit darurat sesuai pedoman.
Sebagai informasi, tempat isolasi bagi para pasien covid-19 Nabire berlokasi di Sanoba. Jika sebelumnya ada dua tempat isolasi di Sanoba dan Girimulyo, maka pasien yang sebelumnya diisolasi di Girimulyo, dipindahkan ke Sanoba sehingga memudahkan pengawasan.
[Nabire.Net]


Irham
Ksimpulanya sdh ada klarifikasi pada pasien . Apa lagi alasan kalian orang tdk sakait di paksa unyuk sakit covid kalian jadiakn proyek