INFO PAPUA TENGAH
Home » Blog » Ibadah Minggu Raya 2 April 2023 di Gereja Kingmi Jemaat Efata Dabaa Dogiyai

Ibadah Minggu Raya 2 April 2023 di Gereja Kingmi Jemaat Efata Dabaa Dogiyai

Ibadah Minggu Raya 2 April 2023 di Gereja Kingmi Jemaat Efata Dabaa Dogiyai
(Ibadah Minggu Raya 2 April 2023 di Gereja Kingmi Jemaat Efata Dabaa Dogiyai)

Dogiyai, Gereja Kemah Injil Kingmi Jemaat Efata Dabaa, Klasis Kamuu Timur, Koordinator Dogiyai, melaksanakan ibadah Minggu Raya pagi, 2 April 2023, mulai pukul 08.00 – 09.30 WIT.

Ibadah dipandu oleh Majelis, Salmon Keiya, SE., dan dibuka dengan doa oleh Gembala Sidang, Mahasiswa Pdt. Yohanes Dumupa.

Selanjutnya dilaksanakan pembacaan Firman Tuhan dari Kitab Matius 13 :13 dilanjutkan khotbah yang disampaikan oleh Mahasiswa Pdt. Yohanes Dumupa.

Ibadah dilanjutkan dengan penyampaian warta jemaat oleh Ketua Majelis, Ayub Dumupa.

Usai penyampaian warta jemaat oleh Ketua Badan Pengurus, Ayub Dumupa, acara yang berikutnya yakni nyanyian kolekte, menghitung jiwa, menghitung orang sakit, yang diambil dari nyanyian bahasa Mee nomor 27 yaitu Agaagi Me Meta.

Selanjutnya, ibadah diisi dengan doa bagi orang sakit sekaligus persembahan kolekte yang dipandu oleh Anggota Pemuda Jermias Dumupa.

Sehabis doa orang sakit sekaligus persembahan kolekte, dilanjutkan dengan nyanyian umum dalam buku Mee manaa nomor 28 dan doa umum di Sampaikan oleh Penasehat Pengurus Jemaat Efata dabaa bapak Yusak Keiya, SE.

Ibadah dilanjutkan dengan sumbagan puji-pujian sebagai penyambutan Firman Tuhan yaitu :

1. Kebaktian Keluarga
2. Komisi Pemuda & Pemudi
3. Komisi Perkauwan
4. Pengurus Jemaat Efata Dabaa

Sesuai Penyusunan Acara Ibadah di Jemaat Efata Dabaa, usai sumbangan puji-pujian, Ibadah dilanjutkan dengan khotbah oleh Mahasiswa Pdt. Yohanes Dumupa dan Penterjemah oleh Bapak Salmon Keiya,SE. Dalam renungannya mengangkat tema : “Perumpamaan-perumpamaan tentang kerajaan Allah.” (Matius 13:13).

Mahasiswa Pdt,Yohanes Dumupa yang saat ini sedang melayani di jemaat Efata Dabaa mengungkapkan dalam kalimat pertamanya bahwa dalam perumpamaan ini ada 4 golongan :

Di bagian pertama perumpamaan ini dijelaskan bahwa benih yang jatuh di pinggir jalanvadalah gambaran bagi orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Allah, tetapi tidak mengerti. Mendengar tetapi tidak bersedia mengubah konsep berpikir yang lama. Mendengar tetapi tidak tahu apa yang dimaksudkan. Cara berpikir manusia yang sudah dikuasai oleh dosa membuat apa pun yang diberitakan ditolak, atau diterima untuk mengonfirmasi apa yang sudah dipercaya. Orang-orang seperti ini tidak akan pernah bertobat. Orang-orang seperti ini selalu merasa diri baik dan orang lain salah. Orang-orang seperti ini tidak akan pernah suka dikoreksi dan tidak akan pernah mau dikoreksi. Itulah sebabnya ketika firman yang keras diberitakan, mereka tidak paham bahwa merekalah yang dimaksudkan di dalam teguran yang keras itu.

Bagian Kedua, yang dipakai Tuhan Yesus adalah tanah yang berbatu-batu. Penjelasan di dalam tanah yang berbatu-batu ini adalah orang-orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Allah, menerimanya, tetapi tidak bertahan di dalam penganiayaan. Orang-orang yang mengaku menjadi murid Kristus tetapi ternyata lebih mementingkan kenyamanan hidup dan penerimaan orang lain daripada mengikuti Kristus dan diperkenan oleh Dia. Orang-orang ini adalah orang-orang yang akan berbalik dan meninggalkan imannya ketika datang kesulitan. Ada yang meninggalkan imannya karena penganiayaan, ada yang meninggalkannya karena lebih mementingkan penerimaan manusia daripada penerimaan Tuhan. Iman yang diperolehnya setelah mendengar firman adalah iman yang tidak berakar. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya ditawarkan oleh firman Tuhan tentang Kerajaan Allah. Yesus Kristus pun datang ke dalam dunia untuk masuk ke dalam penderitaan-Nya sebelum menerima Kerajaan-Nya.

Bagian ketiga, orang-orang berhati seperti tanah berbatu adalah golongan yang mendengar firman dan memiliki semangat begitu besar, tetapi semangat yang belum teruji. Seperti Petrus kita berseru rela mati bagi Tuhan

Dan Bagian keempat, untuk menjadi tanah yang baik, seperti halnya tanah pertanian di pegunungan atau lembah yang subur, tanah tersebut haruslah diproses. Baik itu dicangkul, dibajak, disiangi dan diberi pupuk oleh penggarapnya. Demikian juga halnya diri kita, jika ingin menjadi tanah yang baik bagi benih firman-Nya maka kita pun harus siap diproses. Ketika kita menemui hal–hal yang menyakitkan dalam perjalanan kita menuju jalan kebenaran Tuhan, itu sama halnya kita sedang dicangkul atau dibajak agar tanah kita bisa gembur. Kita pun harus rajin memberi pupuk dengan membaca Kitab Suci, berdoa (pribadi, dalam keluarga maupun komunitas), merayakan Ekaristi, melakukan pelayanan agar benih yang ditanam dalam diri kita pun dapat tumbuh subur dan berbuah berkali lipat banyaknya.

Maka itu, Pdt Dumupa mengajak umat terkasih, teruslah berusaha untuk menjadi tanah yang baik, kendati harus melalui proses yang tidak menyenangkan dalam kehidupan, dan percayalah penuh kepada penyertaan Allah yang senantiasa memampukan kita dalam setiap usaha-usaha kita. Percaya bahwa setiap yang kita alami adalah bagian dari rencana Tuhan. Dan percaya pula bahwa rencana Tuhan pastilah baik untuk kita. Kita refleksikan setiap pengalaman hidup kita dengan kaca mata iman untuk mendapatkan makna iman di balik semua dinamika kehidupan yang kita alami, baik itu senang maupun susah.

Ibadah ditutup dengan nyanyian penutup nomor 39 bahasa Mee berjudul “Yesus Yaa mito pi mana” dan dilanjutkan doa penutup yang dipimpin oleh Mahasiswa Pdt.Yohanes Dumupa dan terakhir doa bersama orang-orang sakit.

Kami segenap Jemaat Efata Dabaa Mengucapkan Selamat Merayakan Minggu Raya pagi 2 April 2023, seraya Allah Bapa di sorga Memberkati kita Sekalian.

[Nabire.Net/Martinus Dumupa]


Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.