INFO NABIRE
Home » Blog » Ibadah Minggu Pagi & Perayaan HUT PI Ke 162, 5 Februari 2017, Di Jemaat Is Kijne Wadio Nabire

Ibadah Minggu Pagi & Perayaan HUT PI Ke 162, 5 Februari 2017, Di Jemaat Is Kijne Wadio Nabire

(Dokpri.Donald.Misiro)

Sejarah Yeremia mencakup kurun waktu 40 tahun, dari saat ia dipanggil pada thn ke-13 pemerintahan raja Yosia (thn 626 sM) sampai jatuhnya Yerusalem thn 587 sM. Selama 40 thn itu ia bernubuat pada pemerintahan 5 raja Yehuda terakhir, yaitu raja Yosia, Yoahas, Yoyakim, Yoyakhin dan Zedekia.

Demikian pengantar pada khotbah Ibadah Minggu Pagi, 5 Februari 2017 di Jemaat GKI Is Kijne Wadio, sekaligus merupakan Ibadah Perayaan HUT ke 162, Pekabaran Injil Di Tanah Papua.

Ibadah tersebut dipimpin oleh Pelayan Firman, Pdt. S.P Bisai S.Si, dengan bahan perenungan dari Kitab Yeremia 48:1-10 yang menceritakan tentang Bangsa Moab.

Dalam khotbahnya disampaikan bahwa, bangsa Moab adalah keturunan Lot, sehingga mereka merupakan saudara jauh dengan Israel. Sebagai saudara jauh, seharusnya Moab bersikap baik terhadap Israel, tetapi ternyata tidak demikian. Moab membawa pengaruh buruk kepada umat Tuhan, yaitu mempengaruhi bangsa Israel untuk berzinah dan menyembah berhala.

Yang menyebabkan Moab dihukum Tuhan adalah kesombongan, keangkuhan, dan kepongahannya (Yeremia 48:29-30). Moab sombong karena kemakmurannya. Dari sisi militer, Moab memiliki pertahanan yang mereka percaya tidak akan dapat ditembus. Moab digambarkan seperti orang tua yang tidak pernah susah sejak masa mudanya (48:11).

Melalui nabi Yeremia, Allah memberitahukan akan kehancuran Bangsa Moab oleh Babel, akibat perbuatan mereka yang berzinah dan menyembah berhala,

Jika Allah memakai nabi Yeremia bagi bangsa Israel, maka Allah juga memakai Carl Willem Ottow dan Johan Gottlob Geissler ke tanah Papua untuk mengabarkan firman Tuhan ke tanah Papua agar nenek moyang kita yang masih hidup dalam kegelapan dapat di selamatkan dan terbebas dari murka Tuhan.

Ketika menginjakkan kedua kaki mereka di pulau Mansinam, Ottow & Geissler menaikan doa sulung mereka, ‘Dengan nama Tuhan kami menginjak kaki di tanah ini”. Dengan doa itulah kedua hamba Tuhan tersebut memulai pekabaran Injil di Tanah Papua.

Apa yang telah diperbuat oleh kedua misionaris Ottow & Geissler, harus terus kita lanjutkan baik dari dalam keluarga kita sendiri, kepada lingkungan disekitar kita, dan kemanapun kita pergi, kita bisa menjadi berkat bagi siapapun, kapanpun dan dimanapun kita berada.

[Nabire.Net]

 

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.