
Jika kita renungkan firman Tuhan yang terambil di dalam injil Yohanes 19:28-30 dengan perikob pembacaan “Yesus mati” justru mau mengajak kita semua untuk merenungkan penderitaan dan kematian Yesus Kristus dan menuntut kita untuk berbalik dari perbuatan kita yang jahat kepada jalan Tuhan. Justru karena Yesus inginkan agar kita berbalik ke jalan Tuhan sehingga Dia mengorbankan jiwa dan raga-Nya bagi setiap umat manusia.
Demikian kutipan khotbah Ibadah Jumat Agung, 25 maret 2016, di Jemaat GKI Siloam Sanoba Nabire. Ibadah tersebut dipimpin oleh Pelayan Firman Pdt. F. Samsanoy S.Th, dengan mengambil pembacaan firman dari Injil Yohanes 19:28-30 dengan Nats, “Yesus Mati.”
Hari ini kita semua memperingati Jumat Agung kematian Yesus Kristus Tuhan kita yang merupakan sebuah kenyataan yang menggambarkan bahwa Yesus akhirnya harus mati dan kematian-Nya bukanlah nasib, bukan juga karena terpaksa tetapi itulah jalan yang harus di tempuh sesuai dengan kehendak Bapa-Nya yang di sorga bahwa Anak Manusia harus mengalami banyak penderitaan dan kemudian mati di salib.
Jalan itu adalah jalan menurun, jalan penyangkalan diri, jalan darah dan jalan air mata serta jalan salib dengan tubuh yang di pecahkan dan darah-Nya yang tertumpah, Dia membayar mahal dan lunas semua utang dosa manusia.
Kalau kita merenungkan peristiwa kematian Yesus Kristus dua ribu tahun yang lalu pasti kita akan mencucurkan air mata jika kita merenungkannya dengan iman percaya kita akan penderitaan dan kesiksaan yang di lakukan oleh para prajurit Romawi terhadap Yesus Anak Allah.
Salib yang di pikul oleh Yesus terbuat dari kayu khusus yang memang di peruntukan untuk membuat salib bagi para penjahat dan sangat keras dan berat. Ketika Yesus memikul kayu salib tersebut mengikuti jalan Via Dolorosa, jalan yang berliku-liku dan penuh penderitaan dan kesiksaan, keringat, darah dan luka membuat tubuh Yesus semakin lemah hingga di bukit Golgota dan mati setelah di pakukan pada kayu salib.
Dari pembacaan firman Tuhan saat ini ada dua hal yang dapat kita renungkan terkait penderitaan hingga kematian Yesus di Jumat Agung ini yang pertama terkait kebutuhan manusiawi Yesus yakni rasa “HAUS” dan yang kedua adalah tugas Agung pembebasan manusia yang di amanatkan oleh Allah Bapa “SUDAH SELESAI”
Sebagai manusia Yesus-pun merasakan HAUS dan kelelahan yang luar biasa sehingga sampai di atas salib Dia masi memintah air untuk di minum namun justru yang di berikan oleh para prajurit adalah anggur asam yang di celupkan pada bunga karang dan diberikan kepada Yesus untuk di minum. Dan kita ketahui bahwa anggur asam tersebut tidak ada faedahnya sama sekali bagi orang yang kehausan tetapui justru maksud dari para prajurit Romawi tersebut untuk mengolok-olok dan mempermainkan Yesus.
Sebagai Anak Allah yang di utus oleh Bapa-Nya yang di sorga, Yesus menyampaikan SUDAH SELESAI yang berarti bahwa maksud ke datangan-Nya ke dalam dunia seperti yang di firmankan Allah dan di ramalkan oleh para nabi telah selesai di laksanakan, bahwa Yesus telah menyelesaikan semua tugas tersebut dan melayakkan manusia dapat bersekutu dengan Allah Bapa oleh kematian-Nya di tandai dengan terbelahnya tabir bait Allah yang ada di Yerusalem saat penyaliban Yesus.
Kebenaran firman Tuhan saat mau mengajarkan kepada kita semua bahwa ketika kita telah menerima anugerah keselamatan oleh pengorbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib untuk melayakkan kita masuk ke dalam kerajaan sorga, maka sebagai orang percaya kita semua harus kembali melakukan hal yang baik dalam hidup kita serta hidup sesuai dengan kehendak dan jalan Tuhan. Bukan saatnya lagi kita hidup di dalam kefasikan, kedengkian, iri hati dan berbagai perbuatan tidak terpuji lainya, tetapi inilah saatnya kita untuk mencari keselamatan dari Allah dengan pertobatan yang sungguh-sungguh atau beralih dari hal-hal yang jahat kepada yang baik.

Ibadah juga di isi dengan kesaksian lagu oleh paduan suara PW Siloam dan solo PKB Siloam, Sore hari pukul 16:30 Wit, dilakukan perjamuan kudus bagi anggota sidi jemaat GKI Siloam Sanoba yang di pimpin oleh Pdt.F.Samsanoy,S.Th dengan menggunakan liturgi tanpa hotbah serta pembacaan firman Tuhan yang sama dengan ibadah Jumat Agung pada pagi hari.

(GKI Siloam Sanoba Nabire)
Leave a Reply