INFO NABIRE
Home » Blog » Musyawarah Adat Suku Moor Tetapkan Heri Senandi sebagai Kepala Suku

Musyawarah Adat Suku Moor Tetapkan Heri Senandi sebagai Kepala Suku

(Musyawarah Adat Suku Moor Tetapkan Heri Senandi sebagai Kepala Suku)
(Musyawarah Adat Suku Moor Tetapkan Heri Senandi sebagai Kepala Suku)

Nabire, Heri Senandi ditetapkan sebagai Kepala Suku Moor terpilih setelah meraih suara terbanyak dalam Musyawarah Adat Suku Mor yang digelar pada Rabu, 7 Oktober 2026. Ia memperoleh 20 dari total 55 suara yang diberikan dalam pemilihan tersebut.

Proses pemilihan berlangsung di tengah suasana kekeluargaan dengan melibatkan masyarakat adat Suku Moor yang berada di wilayah kota maupun lima kampung di Distrik Moora. Sejumlah pemangku adat, tua-tua adat, tokoh masyarakat, kepala kampung, serta unsur pemerintah turut hadir menyaksikan jalannya musyawarah hingga penetapan hasil.

Persaingan dalam pemilihan berlangsung cukup ketat. Donatus Sembor yang berada di posisi kedua hanya terpaut satu suara dari Heri Senandi.

Berdasarkan hasil penghitungan terbuka, Heri Senandi memperoleh 20 suara, Donatus Sembor 19 suara, Marselus Singgamui 12 suara, sedangkan Viktor Mori mendapatkan 4 suara.

Dengan demikian, total suara yang dihitung mencapai 55 suara dan Heri Senandi menjadi kandidat dengan perolehan suara tertinggi.

Empat kandidat ikuti tahapan pemilihan

Musyawarah adat dimulai sekitar pukul 11.00 WIT. Sebelum pemungutan suara, panitia terlebih dahulu melakukan sejumlah tahapan yang telah disiapkan selama 74 hari.

Ketua Panitia Pelaksana Davitson Manuaron bersama jajaran panitia berkoordinasi dengan para tua-tua adat untuk memastikan seluruh proses berjalan sesuai mekanisme yang telah disepakati.

Empat kandidat dinyatakan lolos proses verifikasi dan berhak mengikuti pemilihan Kepala Suku Moor. Keempatnya adalah Heri Senandi, Donatus Sembor, Marselus Singgamuhi, dan Viktor Mori.

Masing-masing kandidat kemudian diberikan kesempatan menyampaikan visi dan misi di hadapan masyarakat serta panelis. Waktu yang diberikan untuk pemaparan visi dan misi adalah tiga menit.

Tahapan tersebut dilanjutkan dengan sesi pertanyaan dari panelis. Setiap kandidat diberikan waktu hingga tujuh menit untuk memberikan jawaban.

Salah satu hal yang menarik dalam proses tersebut adalah penggunaan bahasa Moor oleh para kandidat. Bahasa daerah digunakan dalam penyampaian visi dan misi maupun ketika menjawab pertanyaan, kemudian pada bagian tertentu diperjelas menggunakan bahasa Indonesia.

Penggunaan bahasa Moor bukan sekadar persoalan komunikasi. Dalam forum adat tersebut, bahasa lokal menjadi bagian dari upaya mempertahankan identitas dan nilai budaya Suku Mor di tengah proses menentukan pemimpin adat.

Pemilihan menggunakan prinsip satu keret satu suara

Setelah seluruh kandidat menyelesaikan sesi penyampaian visi, misi, dan tanya jawab, pemilihan dilanjutkan dengan mekanisme yang disepakati masyarakat adat, yakni prinsip “satu keret, satu suara.”

Panitia terlebih dahulu melakukan pendataan dan pendaftaran pemilih. Mekanisme teknis pemungutan suara disusun bersama panitia dan para tua-tua adat.

Sebanyak 55 suara kemudian diberikan dan dihitung secara terbuka di hadapan peserta musyawarah.

Hasilnya menunjukkan persaingan yang sangat ketat antara dua kandidat teratas. Heri Senandi mengumpulkan 20 suara, sementara Donatus Sembor memperoleh 19 suara.

Sementara itu, Marselus Singgamuhi mengantongi 12 suara dan Viktor Mori memperoleh 4 suara.

Setelah penghitungan selesai, panitia membacakan berita acara hasil pemilihan di hadapan masyarakat adat, para kandidat, pemangku adat, dan tamu undangan.

Berdasarkan hasil tersebut, Heri Senandi resmi dinyatakan sebagai Kepala Suku Moor terpilih.

Pemerintah dan tokoh adat hadir

Musyawarah Adat Suku Moor turut dihadiri La Halim, S.Sos., Asisten I Bidang Pemerintahan Kabupaten Nabire. Ia hadir mewakili Bupati Nabire sekaligus membuka kegiatan tersebut.

Selain itu, hadir Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nabire Viktor Sawo, Kepala Distrik Mora Sem Senandi, serta lima kepala kampung yang berada di Distrik Moora.

Kehadiran La Halim juga memiliki kaitan historis dengan perkembangan pemerintahan di wilayah Moor. Sebelum wilayah tersebut menjadi bagian dari Distrik Moora, Moor masih berada dalam wilayah administrasi Distrik Napan. Pada periode tersebut, La Halim pernah menjalankan tugas sebagai Camat Napan.

Dari unsur adat, kegiatan dihadiri Presiden Adat atau Ketua Lembaga Masyarakat Adat, para tua-tua adat, dan tokoh masyarakat.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa pemilihan kepala suku tidak hanya dipandang sebagai proses memilih seorang pemimpin, tetapi juga sebagai bagian dari keberlangsungan tata kehidupan adat masyarakat Suku Moor.

Kepala Suku diminta merangkul seluruh masyarakat

Kepala Distrik Moora, Sem Senandi, mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan proses pemilihan sebagai alasan untuk menciptakan perpecahan.

Menurutnya, seluruh kandidat dan masyarakat yang mengikuti musyawarah merupakan bagian dari satu keluarga besar.

“Ini adalah semua keluarga dan ini menyangkut adat.”

Pesan serupa disampaikan salah satu tua-tua adat yang mewakili para kandidat. Ia mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga hubungan persaudaraan setelah proses pemilihan berakhir.

“Ini bukan politik tetapi adat. Jangan baku siku antara kita semua.”

Ia juga mengajak masyarakat untuk tetap berjalan bersama pemerintah serta mendukung program Bupati Nabire dan Gubernur Papua Tengah.

“Beriringan tanpa melepaskan yang lain. Kita tetap satu, satu hati dan satu tujuan.”

Pesan persatuan tersebut menjadi penting mengingat perbedaan perolehan suara antarkandidat sangat tipis. Heri Senandi hanya unggul satu suara dari Donatus Sembor.

Mandat untuk seluruh Suku Moor

Terpilihnya Heri Senandi sekaligus membawa tanggung jawab baru. Mandat yang diperoleh melalui pemilihan adat tersebut tidak hanya berlaku bagi keluarga atau keret yang memberikan dukungan kepadanya, tetapi untuk seluruh masyarakat Suku Mor.

Kepala suku diharapkan menjadi figur yang mampu menerima aspirasi masyarakat, termasuk menjadi tempat menyampaikan berbagai persoalan dan keluh kesah yang dihadapi keluarga-keluarga dalam komunitas adat.

“Tempat keluh kesah masyarakat adalah kepala suku.”

Masyarakat juga diingatkan untuk menerima hasil pemilihan dengan lapang dada. Proses pemilihan telah berlangsung terbuka dan berdasarkan mekanisme yang disepakati bersama.

Karena itu, perbedaan pilihan diharapkan tidak berlanjut menjadi konflik antarkeluarga.

Dengan selesainya Musyawarah Adat Suku Moor, perhatian kini beralih kepada Heri Senandi untuk menjalankan amanah kepemimpinan. Ia diharapkan mampu merangkul seluruh keret, menjaga nilai-nilai adat, serta membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat maupun pemerintah.

Pemilihan yang menghasilkan kemenangan tipis tersebut pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang memperoleh suara terbanyak. Lebih dari itu, musyawarah menjadi momentum bagi Suku Moor untuk menegaskan kembali pentingnya persaudaraan, adat, dan kebersamaan.

Heri Senandi kini membawa mandat 20 suara untuk memimpin seluruh keluarga besar Suku Moor. Tantangan berikutnya adalah memastikan perbedaan pilihan selama pemilihan berakhir bersama ditetapkannya hasil, sehingga masyarakat dapat kembali berjalan dalam semangat satu keret, satu hati, dan satu tujuan.

*John Kristian Pakage

[Nabire.Net]

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.