INFO PAPUA TENGAH
Home » Blog » Kontingen Deiyai Kembali Sabet Juara Umum Festival TIFA 2026

Kontingen Deiyai Kembali Sabet Juara Umum Festival TIFA 2026

(Kontingen Deiyai Kembali Sabet Juara Umum Festival TIFA 2026)
(Kontingen Deiyai Kembali Sabet Juara Umum Festival TIFA 2026)

Mimika, 4 Juli 2026 – Hari kedua pelaksanaan Timika Inside Festival of Art (TIFA) 2026 berlangsung semakin semarak dengan ribuan aktivitas budaya, pameran UMKM, hingga pertunjukan seni yang memadati pelataran Gedung Eme Neme Yauware, Kabupaten Mimika. Festival yang telah menjadi agenda nasional tersebut kembali menghadirkan berbagai kegiatan menarik sekaligus menjadi ajang promosi budaya dan produk unggulan dari berbagai daerah di Papua Tengah.

Sejumlah agenda seperti Papua Culture Week, Papua Plus Size, dan Family Show berhasil menyedot perhatian ratusan pengunjung yang memadati lokasi festival sejak siang hingga malam hari. Antusiasme masyarakat terlihat dari ramainya stan pameran UMKM, pertunjukan budaya, hingga berbagai aktivitas interaktif yang melibatkan pelaku ekonomi kreatif.

Pada momentum tersebut, panitia juga menyerahkan piagam penghargaan dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia kepada para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berpartisipasi dalam TIFA 2026. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi para pelaku usaha dalam memperkenalkan produk-produk lokal sekaligus mendukung pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya.

Tidak hanya menjadi ajang promosi daerah, TIFA 2026 kembali menorehkan prestasi dengan menerima pengakuan sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN) untuk ketiga kalinya. Penghargaan ini semakin menegaskan posisi TIFA sebagai salah satu festival unggulan nasional yang dinilai berhasil mengangkat kekayaan budaya Papua, membuka ruang kreativitas bagi generasi muda, memperkuat pertumbuhan UMKM, serta meningkatkan kunjungan wisatawan ke Papua, khususnya Kabupaten Mimika.

Dalam rangkaian kegiatan pameran UMKM, Produk Papua Tengah berhasil meraih Juara I Stand UMKM TIFA 2026 berkat kreativitas penataan stan, keberagaman produk, serta kemampuan mempromosikan potensi lokal kepada para pengunjung.

Sementara itu, Kabupaten Deiyai berhasil keluar sebagai juara umum TIFA 2026. Penghargaan berupa piagam dan piala diterima langsung oleh Ketua Dekranasda Kabupaten Deiyai, Fransina Rumbiak Mote, SKM., MKM.

Fransina mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas pencapaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan Deiyai menjadi juara umum merupakan hasil kerja sama seluruh tim yang berupaya menampilkan identitas asli daerah melalui berbagai produk unggulan dan kerajinan tradisional.

“Produk-produk kami menjadi daya tarik karena semuanya benar-benar khas Deiyai. Tidak dimodifikasi, seperti noken anggrek, noken bayi, hingga berbagai kerajinan dari kulit kayu. Semua yang kami tampilkan merupakan identitas asli daerah kami,” ujarnya.

Selain produk kerajinan tangan, stan Kabupaten Deiyai juga menghadirkan beragam hasil olahan pangan lokal yang mendapat perhatian besar dari para pengunjung. Produk-produk tersebut antara lain keripik nota atau keripik ubi, keripik nomo berbahan dasar keladi, sari buah terong Belanda atau emo buwaa, sari buah merah, sari jahe, minyak buah merah, hingga berbagai produk herbal yang diproduksi oleh masyarakat setempat.

Menurut Fransina, seluruh produk tersebut memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi karena dibuat menggunakan bahan baku lokal yang menjadi ciri khas Kabupaten Deiyai. Kehadiran produk-produk tersebut diharapkan mampu membuka peluang pasar yang lebih luas, baik di tingkat regional maupun nasional.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Mimika dan seluruh panitia TIFA yang telah memberikan ruang bagi setiap daerah untuk memperkenalkan potensi masing-masing kepada masyarakat.

“Kami sangat berterima kasih. Kami belum bisa membuat event sebesar TIFA, sehingga melalui festival ini kami memperkenalkan potensi Kabupaten Deiyai, baik di tingkat provinsi maupun nantinya di tingkat nasional,” katanya.

Fransina mengakui bahwa hingga saat ini Deiyai masih menghadapi sejumlah tantangan dalam mengembangkan sektor ekonomi kreatif dan pariwisata. Salah satu hambatan terbesar adalah keterbatasan akses transportasi serta infrastruktur pendukung yang belum memadai.

Menurutnya, kondisi tersebut berdampak terhadap distribusi produk lokal, mobilitas wisatawan, maupun penyelenggaraan kegiatan berskala besar yang mampu menarik perhatian publik.

“Kalau akses transportasi sudah lebih baik, kami juga ingin membuat event seperti yang dilakukan Kabupaten Mimika saat ini,” ungkapnya.

Meski demikian, ia optimistis potensi budaya dan sumber daya alam yang dimiliki Deiyai mampu berkembang apabila didukung dengan peningkatan infrastruktur, konektivitas wilayah, serta promosi yang berkelanjutan.

Fransina menilai TIFA merupakan satu-satunya festival berskala nasional di Papua Tengah yang berhasil menghadirkan peserta, pelaku UMKM, seniman, dan tamu dari berbagai daerah. Karena itu, menurutnya, festival ini memiliki peran strategis dalam memperkenalkan kekayaan budaya Papua kepada masyarakat yang lebih luas.

“Melalui TIFA kami bisa memperkenalkan daerah kami kepada masyarakat luas. Menurut saya, TIFA tidak boleh berhenti sampai di sini. Festival ini harus terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang karena manfaatnya sangat besar bagi promosi budaya dan produk lokal Papua,” pungkasnya.

Keberhasilan TIFA mempertahankan status sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara selama tiga tahun berturut-turut menunjukkan bahwa festival ini semakin mendapat pengakuan di tingkat nasional. Selain menjadi ruang pelestarian budaya, TIFA juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat melalui meningkatnya aktivitas perdagangan produk UMKM, promosi destinasi wisata, hingga terciptanya peluang usaha baru bagi pelaku ekonomi kreatif.

Bagi masyarakat Papua Tengah, penyelenggaraan TIFA tidak hanya menjadi hiburan tahunan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat identitas budaya, mempererat persatuan antarwilayah, serta membuka peluang kolaborasi antardaerah dalam mengembangkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Dengan antusiasme pengunjung yang terus meningkat serta dukungan pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata, TIFA diharapkan mampu berkembang menjadi festival budaya terbesar di Tanah Papua. Keberlanjutan festival ini diyakini akan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan UMKM, peningkatan kunjungan wisatawan, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Papua Tengah ke tingkat nasional maupun internasional.

[Nabire.Net/Yosef Doo]

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.