News & Info
Home » Blog » Christianus Abugau, Tokoh Gereja, Tokoh Pemerintah & Tokoh Adat Suku Migani Itu Telah Pergi

Christianus Abugau, Tokoh Gereja, Tokoh Pemerintah & Tokoh Adat Suku Migani Itu Telah Pergi

(Bapak Chris Abugau & Ibu Ciska Abugau anak sulungnya yang bercerita tentang ayahnya)

Intan Jaya – Chistianus Abugau yang dikenal suku Migani sebagai Pewarta, Kepala Desa dan Sonowi (kepala suku) itu telah menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Kamis (27/08) di RSUD Nabire karena sakit.

Ketika ditanyai mengenai riwayat hidup beliau kepada anak sulungnya, Ibu Ciska Abugau, ia menjelaskan kisah hidup ayah tercintanya. Menurutnya, “saat ini, ayah saya berumur depan puluhan tahun. Selama delapan puluhan tahun ini, beliau menjalani hidup sebagai pewarta Injil Tuhan, Kepala Desa dan juga sebagai salah satu sonowi (kepala suku) dalam tradisi hidup suku Migani”.

Ibu Ciska Abugau anak sulung beliau yang sedang menjabat sebagai anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) periode kedua itu melanjutkan, “semua karir ayah saya yang demikian itu berawal dari kerja keras beliau belajar pada pendidikan yang diterapkan oleh para misionaris Gereja Katolik di Epouto Dekenat Paniai saat ini. Ayah saya pernah bercerita bahwa ia bersama dengan beberapa temannya pernah mengalami proses membinaan di Epouto kala itu”.

Lanjut ibu Ciska, “setelah Bapak Chris menyelesaikan studi, ia bertemu dengan mama saya di sana, yang saat itu belajar juga pada sekolah yang sama. Kata ayah, dia jatuh cinta kepada mama, tetapi mama sudah terlanjur dijodohkan dengan orang lain oleh keluarganya. Belakangan, ternyata orang yang dijodohkan itu sudah menikah dengan wanita lain di Wamena sana. Maka mama yang tidak mau menjadi istri kedua, ia berani melawan kemauan keluarganya, lalu menerima Bapa Chris sebagai pasangannya”.

“Setelah ayah dan ibu sepakat untuk menikah, “mereka berdua sepakat pula untuk pulang ke kampung Sugapa. Dalam proses pulang, Bapa lebih dulu pulang dengan jalan kaki. Sementara mama pulang ke Sugapa setelah beberapa bulan dan dihantar oleh para Pastor dengan pesawat AMA. Saat itu lapangan terbang belum jadi sesempurna sekarang ini, tetapi masih pendek dan masih dalam proses membangun. Karenanya, pesawat yang hantar mama itu mendarat di ujung lapangan bagian bawah dan menjadi pendaratan pesawat yang perdana untuk tanah air suku bangsa Migani”, sahutnya.

Pendaratan itu luar biasa, karena “sebelumnya pesawat hanya berputas-putar di atas udara dan menurunkan berbagai kebutuhan hidup para misionaris dan peralatan kerja seperti: sekop, pacul, lingis, parang, kampak dan lain sebagainya untuk digunakan membangun lapangan terbang itu ke bawah dan biasa dikumpulkan oleh warga bersama dengan Pastor yang sudah berada di sana dengan jalan kaki dari Epouto. Iya, benar sekali, di rumah kami ada banyak piring yang benjol-benjol. Saat ditanyain ke Bapa, dia pernah menjalaskan bahwa itu pengaruh turunkan dari atas pesawat ke bawah”, kata ibu Ciska.

Sesampainya mama di Sugapa, “bertemulah dia dengan ayah saya. Lalu Pastor Paroki Bilogai saat itu, Pastor Frans Lieshout OFM. Maka beliaulah yang menugaskan ayah saya ke Titigi sebagai pewarta muda. Tidak tahu, kampung Titigi saat itu seperti apa? Ayah dan ibu saya pun menerima tugas ini dan menuju ke sana. Di sana mereka mulai membangun sebuah gedung Gereja (Stasi Titigi) dan rumah untuk mereka tinggal”, jelas ibu Abugau.

Ibu Ciska menjelaskan lagi, “gedung Gereja (Stasi) dan rumah tinggal sudah disiapkan serta kebun untuk keluarga tersedia, maka Pastor Paroki mengabulkan permintaan Bapa dan mama saya untuk “memberkati pernikahan mereka di Gereja yang baru dibangun itu. Ya, saat itu Bapa dan mama saya dinikahkan oleh Pastor Frans Lieshout di Gereja Titigi. Setelah pernikahan mereka diberkati, mereka dinyatakan sah dari sisi hukum Gereja maupun dari sisi adat sebagai suami istri. Selanjutnya mereka mulai membangun keluarga sambil mewartakan Injil Kristus di sana”.



“Para pewarta termasuk ayah saya itu pintar sekali bagi waktu. Mereka atur waktu untuk pembinaan iman umat, yaitu: para calon Baptis, calon Komuni pertama, calon Krisma dan calon-calon nikah. Selain itu mereka juga atur waktu untuk kerja kebun, muna-muna (bisnis kulit bia) dan lain sebagainya. Memang mereka tidak digaji, tetapi pengabdian mereka sungguh luar biasa. Iya, dulu itu para pewarta seperti pegawai negeri sipil, dipindah-pindahkan oleh Pastor Paroki ke mana-mana di setiap Stasi dalam Parokinya dan para pewarta pun dengan semangat menjalaninya, seperti itu yang telah kulihat”, kata ibu MRP.

“Setahun kemudian, mama kesakitan hamil saya sebagai anak pertama. Saat itu orang membawa kabar ini ke Pastor Paroki, Pastor Frans Lieshout OFM bahwa mama sedang sakit persalinan selama seminggu, maka Pastor segera menuju ke Stasi Titigi. Sesampainya ia di Titigi, beliau mendoakan mama dan meminumkan air berkat. Setelah beberapa menit kemudian, mama berhasil melahirkan saya. Menyaksikan kelahiranku ini, Pastor Frans memberi nama kepada saya, Fransiska Abugau. Nama ini diambil dari namanya sendiri, yaitu Frasiskus Lieshout. Selanjutnya entah bagaimana nama yang diberikan ini diubah oleh guru-guru di sekolah, sehingga saya disapa Ciska Abugau sampai saat ini. Meski demikian, ketika saya bertemu dengan Pastor Frans, ia selalu menyapaku Fransiska Abugau dan saya senang mendengarnya”, terangnya ibu Ciska Abugau.

“Setelah lahir saya dan setahun kemudian lahir juga adik saya, Rosa Abugau. Jadi, Bapa bertugas selama dua tahun di Titigi. Setelah itu, beliau dipindahkan oleh Pastor Paroki ke Soanggama, kampung dari Bupati Intan Jaya Natalis Tabuni. Kampung Soanggama ini Bapa saya yang buka” katanya ambil menangis. Tidak tahu mengapa ibu mengangis saat menyebut nama kampung Bupati Natalis Tabuni itu? Barangkali menginggat suka-duka hidup ayahnya saat di sana. “Iya, saat itu dalam segala keterbatasan, Bapa saya membina iman umat di sana, melatih anak-anak supaya mereka bisa membaca dan menulis”, ucapnya.

Anggota MRP tersebut melanjutkan, “pada zaman itu, anak-anak dari Soanggama seperti: bapa Piter Tabuni, bapa Yosep Tabuni, bapa Yanuarius Lawiya dan lain sebagainya dididik oleh ayah saya, sehingga mereka menjadi tahu membaca dan menulis. Setelah mereka sudah tahu, barulah Bapa mengirim mereka ke sekolah. Bapa pernah cerita bahwa dialah yang mengirim bapa Yanuarius Lawiya ke Kokonau, supaya sekolah di sana. Sementara bapa Piter Tabuni dan bapa Yosep Tabuni dikirim ke SD Inpres Wabui. Setelah mereka ini termasuk anak-anak lain yang namanya tidak saya ingat tamat di SD Wabui ini, barulah mereka dirim lagi ke Moanemani, Waghete dan seterusnya”.

Ciska menjelaskan pula, “dari kampung Soanggama itulah Yance Abugau, adik saya itu dilahirkan. Lalu mengenai lamanya waktu Bapa bertugas di sana, tidak tahu berapa lama Bapa bertugas di kampung itu? Saya sudah lupa! Selanjutnya Bapa mengalami satu persoalan, maka beliau dinon-aktifkan sementara sebagai pewarta. Karena itu, Bapa kembali lagi ke Stasi Titigi. Dan, dari Titigi ini lahirlah Eli Abugau adik saya”.

Berkaitan dengan pemberhentian tugas pewartaan itu, “memang dahulu maupun sekarang, Gereja Katolik itu ketat. Para pewarta harus hidup taat jalani nilai-nilai Kristiani, karena memang mereka sendirilah yang mengajarkan nilai-nilai itu. Maka mereka tidak boleh melanggar nilai-nilai itu hukumnya. Dengan pertimbangan ini, maka bapa saya diberhentikan sementara sambil menunggu selesaikan persoalan yang dimaksud itu”, kata ibu lagi.

“Beberapa lama kemudian, persoalan yang dimaksud itu berhasil diselesaikan. Maka Bapa saya diaktifkan kembali sebagai pewarta oleh Pastor Paroki. Setelah diaktifkan, Bapa dipindahkan ke Mamba pada tahun 1975. Pemindahan ini didorong oleh alasan bahwa umat Katolik setempat menginginkan seorang pewarta sendiri, supaya mereka dapat membuka Stasi baru di Mamba dan umat beribadat di situ tanpa harus berjalan jauh ke Titigi atau ke Bilogai”, sahut ibu Ciska.

Begitulah Bapa Christianus Abugau yang akrab disapa Chris itu menjadi pewarta Stasi Mamba. Di sini ia bersama umat setempat mulai membangun Stasi baru dan setelah gedung Gerejanya terbangun, ia mulai mewartakan Injil Kristus kepada umat. Ibu Ciska menjelaskan, “para gembala yang lain dipindah-pindahkan, tetapi setelah Bapa bertugas di Mamba ini, beliau tidak pernah dipindahkan lagi sampai hari ini (tahun 2020). Saat di Stasi Mamba, Bapa dan mama melahirkan adik-adik saya, yaitu: Max Abugau, Frans Abugau, Yunus Abugau dan terakhir Nemia Abugau”.

“Kelebihan Bapa saya itu adalah pegang Gereja (menjadi pewarta), pegang adat (sonowi: kepala suku yang amat menentukan dalam kehidupan masyarakat) dan pegang pemerintahan kampung (menjadi kepala desa setempat). Jadi, hebatnya Bapa saya itu dia bisa membagi waktu dengan baik, sehingga ketiga tugas yang diembannya itu pun berjalan dengan baik pula. Bapa juga didukung oleh mama yang setia dan kami anak-anaknya”, ibu menambahkannya.

Ibu Abugau terus bercerita “Bapa saya juga orangnya keras, jadi kami biasa sangat berhati-hati. Ya, kalau ada yang telah bersalah, dia tidak memandang ini anaknya sendiri atau bukan, dia akan hajar semua. Dia juga adalah seorang Sonowi yang menentukan dalam adat suku Migani. Misalnya: dalam hal mengawinkan perempuan Migani. Ia bisa tahu perempuan Migani mana yang cocok dengan pria Migani mana. Lalu kulit bia jenis apa yang cocok. Bapa tahu semua, jadi dia selalu dilibatkan warga dalam mengurusi hal-hal ini”.

Lanjutnya lagi “dalam situasi itu, perempuan Migani tidak bisa sekolah. Perempuan Migani biasanya sekolah sampai kelas tiga, empat dan kelas lima saja. Setelah itu mereka dikawinkan dan seterusnya. Proses kawin dan mengawinkan di zaman itu memang tidak menggunakan umur layak nikah, tetapi dengan melihat ketika buah dada mulai tumbuh, maka dianggap layak dan langsung mengawinkannya. Biasanya perempuan-perempuan Migani yang cantik-cantik itu dikawinkan dengan sonowi-sonowi, yang sudah tua karena bayaran belisnya tinggi”.

Tradisinya seperti itu, maka Bapa Chris pun mencalonkan anaknya ibu Ciska yang sedang bercerita ini dengan seorang laki-laki dari kampung Titigi. “Iya, saat saya kelas empat, Bapa sudah calonkan saya dengan salah satu pemuda dari kampung Titigi dan Bapa sudah mengambil kulit bia juga. Meski begitu, kakak David Abugau memukul saya supaya tidak ikut kemauan Bapa dan tetap sekolah. Karena itu, Bapa membiarkan saya sekolah sampai kelas enam lulus. Selanjutnya saya ingin lanjutkan pendidikan ke jenjang berikut, tetapi saya takut mengatakan niatku ini kepadanya, karena saya tahu bahwa bapa keras orangnya”, kata ibu.

“Saya memberitahukan niatku sekolah itu hanya kepada Bapa Benny Maiseni dan Bapa Titus Edoway. Saya beritahu bahwa saya tidak mau kawin, saya ingin sekolah begitu. Dalam situasi ini, Bapa saya mulai sakit keras. Saat itu kami memang kewalahan untuk cari jalan menyembuhkannya. Ketika inilah bapa Wim datang dan merawat Bapa dengan cara memberi obat dan menyuntiknya. Dengan demikian, Bapa saya pun sembuh dari sakit. Setelah sembuh, beliau sebagai seorang kepala suku (sonowi), membawa seekor babi dan menyerahkannya kepada mama Sopia Petege (istri Bapa Wim) sebagai imbalan atas pelayanannya”, sambung ibu Ciska.

“Babi yang diberikan itu tidak diterima oleh ibu Petege, tetapi malah dia kembalikan lagi ke mama saya sambil mengatakan bahwa “harta model apa pun yang Bapa berikan, tidak akan diterima, selain membiarkan Ciska ini pergi sekolah dan menjadi guru untuk menggantikan kami di sekolah Mamba ini. Mendengar omongan ini, Bapa terlihat mati langkah”, sahut ibu ceriah.

“Saya juga mendapat dukungan untuk sekolah dari Bapa Benny Maiseni, yang mengatakan bahwa jika Bapa mau mengawinkan anak sekolah ini, maka tindakan itu membuktikan bahwa pewartaan Bapa selama ini percuma, tidak ada hasil. Dukungan ini dan pernyataan mama Sopia Petege tadi membuat hati Bapa luluh. Kini baginya tidak ada pilihan lain, selain mengizinkan saya pergi sekolah. Jadi, Bapa mengiyakan saya pergi sekolah itu gara-gara mama Sopia Petege, bapa Titus Edoway, bapa Benny Maiseni dan usaha saya sendiri juga”, ibu Ciska menguraikan.

Akhirnya dengan berat hati, “Bapa mengizinkan saya pergi sekolah. Saat itu Bapa berkata, anak orang lain saja biasa Bapa yang atur masa depan mereka secara adat dengan mengawinkan mereka, tetapi saya gagal mengatur masa depan anak saya sendiri secara adat. Karena itu, saya merasa malu dan akan merasa malu terhadap warga. Meskipun begitu, perasaan malu ini tidak akan membuat saya mati. Pergi dan sekolahlah dengan baik”, cerita Ibu Ciska sambil teteskan air matanya.

Lagi-lagi kata Ciska, “setelah Bapa mengizinkan saya, saya ikut tes untuk masuk sekolah di Moaemani. Setelahnya kami menunggu beberapa hari dan akhirnya diumumkan bahwa saya dengan empat anak lain dari Titigi dinyatakan lulus. Karena itu, seperti biasa umat di Titigi menyumbangkan keperluan studi bagi anak-anak yang hendak berangkat studi. Saat itu, saya mendapat sumbangan tiga ratus rupiah yang pernah beredar dulu warna merah itu. Itu pun sumbangan dari keluarga terdekat saja”.

“Dengan melihat kenyataan itu, juga karena Bapa merasa bahwa jumlah sumbangan itu tidak cukup untuk biaya sekolah saya, maka Bapa terpaksa menukarkan satu buah kulit bia dengan uang dua ratus lima pulu ribuh rupiah. Uang ini beliau atur begini: kepada saya diberikan empat puluh ribu rupiah. Lalu lima puluh ribuh rupiah diserahkan kepada Diakon untuk urus tiket berangkat dan alat tulis untuk saya. Setelah itu, uang empat puluh ribuh rupiah yang lain diberikan juga kepada saya untuk biaya studi sampai terima ijazah, kata ayah. Sementara sisahnya diperuntukkan bagi biaya kebutuhan keluarga di rumah”, sahut ibu.

“Dengan kekuatan bekal yang diberikan oleh ayahku itulah, saya berangkat ke Moanemani. Sesampainya saya di sana, dengan penuh semangat saya mulai sekolah di SMP YPPK Moanemani sebagai perempuan Migani pertama yang berhasil menerobos tradisi suku Migani, khususnya tradisi kawin dan mengawinkan anak perempuan dibawah umur. Iya, saya ini sudah perempuan Migani pertama yang sekolah membuka pintu bagi perempuan-perempuan Migani yang lain. Setelah saya sudah membuka pintu, barulah banyak anak perempuan Migani mulai sekolah sampai saat ini”, kata ibu Ciska meyakinkan.

“Saya sekolah di Moanemani tepat waktu. Pendidikan jenjang berikutnya saya tekuni di Jayapura dan akhirnya saya menjadi ibu guru. Setelah menjadi ibu guru, saya pernah mengajar di mana-mana, baik di pedalaman maupun di sekitar Kota Jayapura dengan selang waktu yang cukup lama. Baru-baru ini, baru saya menjadi anggota MRP dan sedang menjelang periode ke-2”, katanya.

Ibu MRP menuturkan, “itulah ayah saya, Bapa Christianus Abugau yang telah membuat saya dengan adik-adik saya seperti yang ada saat ini. Saya bangga memiliki ayah yang tegas seperti dia. Dia Bapa yang begitu tegas, tetapi di balik itu menyimpan kasih sayang yang amat mendalam bukan hanya bagi kami anggota keluarganya saja, tetapi juga untuk semua orang. Kasih sayangnya ini selalu ia dibuktikan dengan pengabdian dan peranannya dalam keluarga (menjadi sosok Bapa), di Gereja (menjadi sosok Pewarta), dalam adat (menjadi sosok kepala suku: sonowi) dan di Pemerintahan (sosok Kepala Kampung). Berkat kesetiaan Bapa dalam pengabdiannya ini membuka pintu bagi kami anak-anaknya untuk studi dengan baik hingga berhasil”.

Sejalan dengan penyampaian itu, ia menambahkan “hari ini Pemerintah Intan Jaya boleh menyangkal, tetapi Gereja Katolik sangat menghormati pengorbanan Bapa Chris sebagai Pewarta, Tokoh adat dan tokoh Pemerinthan kampung. Penghormatan yang dimaksud telah Gereja ungkapkan lewat persembahan misa Requiem khusus untuk beliau dan jazatnya telah dimakamkan di samping Gereja yang pernah ia bangun sendiri pada tahun 1975 itu”.

Atas semuanya itu, “saya mewakili seluruh anggota keluarga Abugau mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah turut meringankan beban kami dalam proses duka. Saya juga ucapkan terimakasih secara khusus kepada Pastor Dekan, Pastor Paroki Bilogai beserta dewan Parokinya, Pastor Paroki Titigi beserta Dewan Parokinya, para Gembala Stasi Mamba dan Stasi lain yang telah membantu dan seluruh umat Stasi Mamba yang terkasih. Biarlah Tuhan Allah yang membalas kebaikan yang telah kami rasakan ini. Terimakasih banyak untuk semua. Amakaniee…”, tutup pembicaraannya ibu Ciska Abugau.

Usai ibu Ciska menutup seluruh pembicaraannya, bapa Chris Tebay (salah satu anak dari guru perintis yang telah lama bertugas di Mamba dan yang pernah menghabiskan banyak waktu bersama dengan almahrum), yang juga saat ini sedang menjabat sebagai Direktur RSUD Kabupaten Intan Jaya itu mengungkapkan isi hatinya. Berikut ini adalah ungkapan isi hatinya:

 “Estafet pemberian nama ‘KRIS’ kepada kami anak-anak guru perintis yang Lahir Besar Sugapa (LABESU), mulai dari Pilot Kris Agapa sampai kami adik-adiknya adalah turunan dari nama Bapa tua Kris Abugau. Bapa tua Chris… Engkau telah mengukir sejarah yang belum pernah orang buat. Engkau telah berperan sebagai Katekis handal, engkau telah berperan sebagai Gembala yang baik, engkau telah berperan sebagai Kepala Desa yang gagah dan berperan sebagai kepala suku kami. Kami sangat mengenang jiwa kepemimpinanmu yang ksatria, kebapaan dan berjiwa sosial. Kami telah menyaksikan, semua ini terpatri dalam jiwa ragamu. Ya, kami mengenalmu sebagai orang tua panutan, sosok pembawa terang bersama para misionaris terdaulu. Begitu besar jasamu bagi kami… Engkau memberi namamu ‘Kris’ kepada kami. Kami akan kenang sepanjang hayat. Selamat jalan Bapa (haita). Jadilah pendoa bagi kami di bumi ini. Sampai jumpa di Yerusalem Baru”.

Bapak Chris Abugau telah menerima terang Tuhan dan terang itu telah ia teruskan kepada umat suku Migani, suku Ndaua dan suku Lani. Ia telah berperan sebagai jemaat perdana sekaligus sebagai pemimpin (rasul) bagi jemaat yang ia layani. Kini, saatnya ia beristirahan dalam samai Tuhan dan menerima pahala atas iman dan seluruh pengabdiannya kepada kehendak Dia yang memanggilnya. Rest In Peace Bapa Chris Abugau*.

*Penulis, Yeskiel Belau

[Nabire.Net]

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.