BMKG : 11 Kabupaten di Papua Termasuk Nabire Berstatus Waspada Banjir

Jayapura, Sebanyak 11 kabupaten di Provinsi Papua berstatus waspada banjir berdasarkan analisis cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Pemerintah Provinsi Papua telah menginstruksikan jajaran badan penanggulangan bencana daerah di 11 daerah ini untuk bersiaga mengantisipasi dampak banjir terhadap masyarakat setempat.
Manajer Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua Jonathan Koirewoa di Jayapura, Selasa (11/10/2022), mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan BMKG terkait potensi bencana hidrometeorologi. Berdasarkan pantauan potensi curah hujan yang akan terjadi selama beberapa bulan ke depan, 11 daerah rawan banjir.
(Baca Juga : Banjir Kembali Melanda Sejumlah Wilayah di Nabire, 29 September 2022)
Adapun 11 daerah ini meliputi Kabupaten Jayawijaya, Nabire, Paniai, Mimika, Boven Digoel, Asmat, Yahukimo, Waropen, Nduga, Dogiyai, dan Deiyai. Kejadian banjir terkini terjadi di Nabire pada 28 September hingga 1 Oktober 2022. Banjir kala itu melanda 11 kampung yang berdampak terhadap 200 keluarga. Banjir juga menyebabkan satu jembatan rusak berat dan seorang warga tewas karena tersengat arus listrik di rumahnya.
”Kami telah menyebarkan informasi dari BMKG ke jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di 11 kabupaten yang berstatus waspada banjir. Mereka akan terus memantau kondisi curah hujan yang terkini dan menyosialisasikan langkah mitigasi bencana banjir di tengah masyarakat,” kata Jonathan.
(Baca Juga : Hujan Deras Lagi, Warga Kampung Waroki, Nabire, Kebanjiran & Mengungsi di Masjid Al Wasilah)
Ia menuturkan, Pusdalops BPBD Papua telah menginstruksikan kepada jajarannya di 11 kabupaten yang berstatus waspada banjir dan daerah lainnya, termasuk Jayapura, agar meningkatkan kesiagaan. ”Kami akan menyurat ke Sekretaris Daerah Provinsi Papua Ridwan Rumasukun terkait status waspada banjir di 11 daerah ini. Beliau akan mengeluarkan surat edaran terkait siaga banjir di daerah-daerah tersebut,” ucap Jonathan.
Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Jayapura Doni Christanto memaparkan, musim hujan pada tahun 2022 diperkirakan terjadi lebih awal pada bulan September dan Oktober. Diperkirakan musim hujan terjadi pada September di wilayah Keerom, Jayapura, Yahukimo, dan Yalimo.
Sementara, pada Oktober, diperkirakan hujan melanda sejumlah kabupaten, antara lain Jayawijaya, Lanny Jaya, Mamberamo Tengah, Yalimo, Tolikara, Yahukimo, Puncak, Puncak Jaya, Jayapura, dan Sarmi.
”Diperkirakan puncak musim hujan terjadi pada Januari hingga Februari tahun 2023. Adanya fenomena La Nina dan suhu permukaan laut yang hangat akan berpengaruh pada atmosfer sehingga akan terjadi penambahan curah hujan hingga akhir tahun,” kata Doni.
Ia pun mengimbau masyarakat di daerah yang rawan potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor, untuk meningkatkan kewaspadaan. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan memantau informasi terkini tentang kondisi cuaca yang telah disebarkan BMKG, baik melalui media massa maupun media sosial.
Sekretaris BPBD Kabupaten Nabire Agus Sanggenafa memaparkan, hujan yang memicu banjir biasanya terjadi pada sore hingga dini hari. Curah hujan yang tinggi menyebabkan air dari sungai meluap hingga menggenangi fasilitas umum dan perumahan warga.
”Saat ini kami terus bersiaga dan bersinergi dengan berbagai pihak terkait untuk mengantisipasi dampak bencana hidrometeorologi. Kami terus menyosialisasikan mitigasi bencana banjir, khususnya bagi warga yang bermukim dekat bantaran sungai,” ucap Agus.
[Nabire.Net/Kompas]





Tinggalkan Komentar