INFO NABIRE
Home » Blog » Angin Kencang Diduga Jadi Penyebab Jatuhnya Heli Bell Di Degeuwo

Angin Kencang Diduga Jadi Penyebab Jatuhnya Heli Bell Di Degeuwo

Untitled-1

(Korban meninggal Kasmana & korban luka Asmar/Dokpri.S.S)

Kepolisian Paniai menduga angin kencang, penyebab jatuhnya helikopter jenis bell di lokasi 99, areal tambang emas Degeuwo, Distrik Dogobaida, Kabupaten Paniai, sabtu pagi tadi (04/02).

Kapolres Paniai, AKBP Leo Nabu menuturkan sebelum mendarat, saksi yang melihat kejadian itu menyebutkan, badan pesawat helikopter sempat terhempas oleh angin kencang, lalu menabrak tebing dan akhirnya jatuh.

“Ada dugaan pilot, Kombes Pol (Purn) Karmana, 57 tahun mengalami benturan keras di kepala. Dalam evakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nabire, sang pilot meninggal dunia,” kata Leo, ketika dihubungi lewat telepon selularnya, Sabtu 4 Juni 2016.

Sementara itu, tiga penumpang lainnya dalam kondisi selamat, satu orang penumpang atas nama Asmar, 20 tahun dalam kondisi kritis dan masih dirawat di RSUD Nabire dan dua lainnya yakni Ajo dan Darwis mengalami luka ringan dan masih menjalani perawatan di Degeuwo.

“Heli itu berpenumpang 4 orang termasuk pilot dan membawa bahan campuran seberat 314 kg. Heli terbang dari Nabire dengan tujuan Degeuwo,” ungkapnya lagi.

Helikopter yang berangkat dari Nabire menuju ke Degeuwo, sekitar pukul 08.25 WIT dan dipiloti oleh Kombes Pol (Purn) Karmana dan membawa 3 orang penumpang yakni Ajo, Asmar dan Darwis.

“Wilayah Degeuwo memiliki topografi bergunung dan tebing-tebing. Helikopter saat ini dalam keadaan hancur,” ucapnya.

Lokasi tambang emas Degeuwo dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau dengan menyewa helikopter. Ongkos per orang ke lokasi tambang ini berkisar Rp 300-600 ribu per orangnya. Tetapi jika helikopter di sewa, bisa mencapai jutaan rupiah ongkosnya.

Ada empat perusahaan Helikopter yang ber-home base di Nabire, yakni masing-masing PT. Dimonim Air, PT. Wira, PT. Satria Helikopter, dan PT. Gatari.

Sampai saat ini, lokasi tambang emas Degeuwo masih menjadi pro kontra antara masyarakat, sebab lokasi ini justru dikuasai oleh perusahaan emas dan masyarakat pemilik hak ulayat tanah justru sebagai penonton.

(K.P)

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.