INFO PAPUA TENGAH
Home » Blog » Aliko Walia Korban Konflik di Kembru Tutup Usia Setelah Dirawat Intensif 36 Hari

Aliko Walia Korban Konflik di Kembru Tutup Usia Setelah Dirawat Intensif 36 Hari

Nabire, 20 Mei 2026 – Tanah Papua kembali diselimuti kabut duka. Tangis seorang ibu pecah di lorong rumah sakit, sementara harapan seorang ayah perlahan runtuh bersama napas terakhir anaknya. Setelah 36 hari berjuang melawan luka tembak yang bersarang di dadanya, Aliko Walia, seorang anak kecil dari Distrik Kembru, Kabupaten Puncak akhirnya meninggal dunia pada Selasa dini hari, 19 Mei 2026, sekitar pukul 02.00 WIT di Rumah Sakit Mulia, Kabupaten Puncak Jaya.

Kabar duka tersebut disampaikan melalui sambungan telepon pada Rabu (20/05/26). Aliko sebelumnya menjadi korban dalam situasi operasi militer yang terjadi di Distrik Kembru pada 14 April 2026 lalu.

Kepala Distrik Kembru, Selpi Tabuni, menjelaskan bahwa Aliko masih berusia sekitar tujuh tahun. Di usia yang seharusnya dipenuhi tawa, permainan, dan mimpi-mimpi kecil tentang masa depan, Aliko justru harus berjuang melawan rasa sakit di atas ranjang rumah sakit.

Peluru yang menembus dadanya membuat tubuh kecil itu harus menjalani perawatan intensif selama lebih dari satu bulan. Kedua orang tuanya terus mendampingi dengan harapan yang tidak pernah padam.

“Selama 36 hari, mama dan bapanya terus berjuang, berharap anak kecil mereka dapat sembuh dan kembali bermain seperti anak-anak lainnya,” ujar Selpi Tabuni.

Namun harapan itu perlahan berubah menjadi duka. Pada dini hari yang sunyi, Aliko mengembuskan napas terakhirnya, meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan masyarakat di Distrik Kembru.

Tangis keluarga pecah di ruang perawatan. Seorang ibu kehilangan pelukan kecil yang biasa memanggilnya setiap pagi. Seorang ayah kehilangan masa depan yang selama ini ia jaga dengan penuh kasih. Di balik kabar kematian Aliko, tersimpan cerita pilu tentang rakyat sipil yang ikut menjadi korban dalam konflik berkepanjangan di Papua.

“Seorang anak kecil seharusnya hidup dengan bermain, belajar, dan merasakan kasih sayang keluarga, bukan menjadi korban kekerasan dan kehilangan masa depannya,” ungkapnya dengan penuh kesedihan.

Dengan meninggalnya Aliko Walia, jumlah korban meninggal dunia akibat operasi militer yang sebelumnya tercatat sebanyak 12 orang kini bertambah menjadi 13 orang.

Pihak keluarga dan masyarakat berharap korban-korban lain yang saat ini masih menjalani perawatan medis dapat diselamatkan dan dipulihkan, agar tidak ada lagi kabar duka yang datang dari tanah Papua.

Ucapan belasungkawa pun terus mengalir untuk keluarga Aliko Walia. Di tengah luka yang belum sembuh, masyarakat berharap keluarga diberikan kekuatan dan ketabahan menghadapi kehilangan yang begitu mendalam.

[Nabire.Net]

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.