News & Info
Home » Blog » S1 Keperawatan Nabire Perlu Mengutamakan Wawasan Kemanusiaan Dalam Pelayanannya

S1 Keperawatan Nabire Perlu Mengutamakan Wawasan Kemanusiaan Dalam Pelayanannya

3

Universitas Indonesia Timur Makassar belum lama ini membuka kelas jauh, Strata Satu (S 1) Keperawatan. Program dibuka atas kerja sama Fakultas Keperawatan Universitas Indonesia Timur Makassar Kelas Nabire dengan Yayasan Pendidikan Persada di Nabire.

Program ini disambut positif karena dinilai bisa membantu mengatasi terbatasnya tenaga medis. Namun, diminta untuk utamakan kualitas dan tambahkan pendidikan atau wawasan kemanusiaan bagi mahasiswa di program ini.

“Wilayah ini masih membutuhkan banyak tenaga perawat, terutama di kampung-kampung yang terisolir, terutama di kabupaten-kabupaten yang ada di pegunungan. Jadi, kehadiran program ini kita sambut positif,” kata Aktivis HAM Papua, Yones Douw, Senin, (21/10/13).

Tapi, kata Yones, pendidikan kemanusiaan mesti diberikan kepada para mahasiswa di program ini. Agar mereka memiliki wawasan kemanusiaan dalam pelayanan di kemudiaan hari. Juga, kata dia, perlu utamakan kualitas.

“Jangan terkesan luluskan banyak mahasiswa tanpa pendidikan dan proses. Karena, kita punya pengalaman di perguruan tinggi lain di wilayah ini hanya mengejar nilai dan ijazah. Tapi, kita yakin tidak terjadi pada program ini, karena program ini menuntut kemampuan khusus karena akan menyentuh manusia,” tutur Yones.

Yones berkisah, selama ini, pelayanan Puskesmas dan Rumah Sakit yang ada di wilaya ini kurang maksimal. Sentuhan kemanusiaannya tidak ada. “Minimal menyapa pasien. Aneh, kita bahkan temukan perawat yang marah-marah dalam pelayanan,” katanya.

Ia menjelaskan, banyak pasien mengaku kecewa dengan pelayanan di rumah sakit di wilayah tengah Papua. Menurut pasien, kata dia, kadang pasien malas tahu ketika meminta mengganti botol cairan atau bantuan lainnya.

“Kita prihatin, kita punya banyak perawat dan dokter tetapi pelayanannya dinilai tidak memuaskan. Bahkan terkesan lebih utamakan bisnis dan perlakuan pada pasien kadang diskriminatif. Padahal, terlepas dari suku, agama, dan ras paling penting adalah semua manusia itu sama, ciptaan Tuhan,” tuturnya.

Berdasarkan pengamatannya, kata Yones, tidak semua orang yang datang ke rumah sakit itu karena sakit fisik. Ada yang sakit psikis, jadi sentuhan kemanusiaan itu penting. “Cukup, mereka bisa melayani dengan senyum dan menyapa,” katanya.

(Sumber : Majalahselangkah)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.