Aktivis Freedom Flotilla Sukses Adakan Pertemuan Dengan Pemimpin Adat & Separatis Papua Di Dekat Perbatasan Indonesia
Kapal Freedom Flotilla yang membawa rombongan aktivis dari Australia, sukses melaksanakan misinya bertemu pemimpin separatis Papua di dekat perbatasan Indonesia.
Disaat perhatian publik terfokus pada perjalanan armada kecil Freedom Flotilla menuju perairan Indonesia, di sisi lain sekelompok anggota armada rahasia melakukan perjalanan lewat udara , darat dan laut ke tempat pertemuan terpencil di barat jauh Papua Nugini (dekat perbatasan Papua & PNG).
Setelah bertemu pemimpin adat dan pemimpin separatis Papua, upacara simbolis dilangsungkan di perairan selatan Papua, namun lokasi pastinya dirahasiakan demi pertimbangan keamanan.
Pemimpin Aborijin Kevin Buzzacott bertindak mewakili rombongan dan menyerahkan air yang diambil dari Danau Eyre serta abu yang diambil dari sejumlah perkemahan aborijin. Air dan abu itu kemudian diterima para pemimpin adat Papua sebagai upacara simbolis mempertemukan kembali dua komunitas aborijin.
Para pemimpin Papua Barat , termasuk dua senior yaitu menteri dari pemerintahan transisi swadeklarasi Republik Federal Papua Barat , Frans Kapisa dan Elieser Awom , diyakini telah melakukan perjalanan ilegal ke PNG untuk pertemuan tersebut.
Sebuah video dari pertemuan , yang diadakan di dua perahu motor tempel kecil tidak jauh dari pantai , menunjukkan Mr Rumbiak menerjemahkan komentar dari para menteri yang berterima kasih kepada anggota armada untuk usaha mereka dalam mendukung rakyat Papua Barat.
“Rakyat Papua Barat sangat bangga dan sangat berterima kasih oleh dukungan Anda, Anda berdiri untuk membantu rakyat Papua Barat , ” tutur penterjemah mr rumbiak menyampaikan rasa terima kasih dari para pemimpin adat Papua.
Sementara itu menurut koordinator aktivis Izzy Brown, “Upacaranya sangat mengharukan,” kata Izzy Brown. Senada dengan Izzy, Pemimpin Aborijin Kevin Buzzacott mengatakan, “ini sangat mengharukan, dan begitu juga bagi orang Papua.
Armada Freedom Flotilla yang awalnya terdiri dari tiga kapal dengan sekitar 20 warga Australia dan Papua Barat kapal , berlayar dari Cairns Australia Menuju Papua. Saat ini Armada Freedom kembali menuju Merauke Papua setelah sebelumnya dilarang oleh TNI AL. Awalnya Aktivis Freedom mencoba untuk melakukan kontak dengan petugas angkatan laut Indonesia sebelum konfrontasi karena kekhawatiran untuk keselamatan mereka .
” Kami coba menyeberangi perbatasan perairan Indonesia ( ZEE ) di sekitar tengah malam (tadi malam) dan kami sedang menuju ke Merauke , ” kata Izzy Brown namun kami diperingatkan oleh angkatan laut Indonesia untuk mengubah arah dan meninggalkan upaya untuk menuju Merauke .
” Kami , sebagai penjaga penegakan hukum dan kedaulatan Indonesia , akan bertindak berdasarkan standar operasional prosedur Indonesia , ” kata juru bicara Angkatan Laut Indonesia Laksamana Pertama Untung Suropati.
Laksamana Suropati mengatakan ia telah menerima pesan teks dari salah satu aktivis Flotilla, Amos Wanggai , seorang tahanan yang melarikan diri dari Indonesia pada tahun 2006 dan diberi status pengungsi di Australia .
Dia mengatakan ia bersedia untuk masuk ke dalam dialog dengan kelompok tersebut, namun bersikeras mereka tidak akan diizinkan masuk ke Indonesia oleh TNI AL.
” Selama mereka berada di luar perairan Indonesia , mereka dapat melakukan apapun yang mereka inginkan . Tapi saat mereka menyeberang , kami akan bertindak berdasarkan hukum Indonesia dan kita tidak sendirian dalam hal ini . Ada juga polisi , tentara , imigrasi dan orang lain yang terlibat , ” tutur Laksamana Pertama Untung Suropati
“Kapal , bagaimanapun , belum memasuki ” wilayah perairan ” di Indonesia , wilayah yang membentang 12 mil laut dari garis pantai . Armada kami berada sekitar 70 mil laut dari Papua dan masih menuju daratan Indonesia , namun perjalanan kami sedikit terhambat karena kondisi angin.” tutur Izzy Brown.
(Sumber : theaustralian.com.au / diterjemahkan kembali oleh Nabire.net)



Leave a Reply